• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 29 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: 72 Tahun Indonesia Menjadi Pentas Interaksi dalam Kebhinekaan

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
3 Agustus 2017
di Opini

Oleh: Rahmaniar, S.Pd.I., M.Pd
Founder Taman Baca Madani Sidrap

Indonesia yang dikenal dengan negara sejuta pulau yang penuh dengan kekayaan serta kemajemukan yang terdiri dari ragam bahasa, suku, budaya, agama dan ras. Keragaman itu salah satunya disebabkan oleh penyebaran wilayah di berbagai pulau serta letak geografis Negara ini sangat luas. Sehingga masyarakat yang menetap di perkotaan, pegunungan, pesisir dan dataran rendah memiliki perbedaan yang variatif. Setiap daerah memiliki corak dan ciri khas budaya masing-masing yang menimbulkan pluralisme agama dan budaya. Fenomena keragaman budaya dan agama serta multietnik dikalangan masyarakat Indonesia telah ada sejak dahulu hingga saat ini. Fakta itu jelas dan tidak dapat kita hindari, mengingkarinya sama halnya dengan mengingkari adanya cahaya matahari di siang hari.

Menurut Menteri dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Indonesia memiliki 257.912.349 jiwa dengan predikat negara terpadat keempat di dunia dengan 1340 suku serta 1211 bahasa. Keanekaragaman yang ada di Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Keragaman ini bisa menjadi suatu kekuatan besar untuk merealisasikan persatuan dan kesatuan nasional menuju Indonesia yang lebih baik.

Keragaman yang ada saat ini bisa menjadi kekuatan yang besar bagi bangsa Indonesia jika semua elemen bangsa Indonesia dapat mengelola dengan baik keragaman tersebut, tapi juga sangat berpotensi menjadi kelemahan bangsa Indonesia jika semua elemen bangsa Indonesia tidak dapat mengelolanya dengan baik. Permusuhan dan ketersinggungan antar kelompok dapat saja menyulut api permusuhan yang menyebabkan kehancuran bangsa Indonesia. Namun, dengan menjaga motto nasional kita “Bhineka Tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tapi tetap satu dapat merekatkan kembali jiwa nasionalisme bangsa kita.

Indonesia telah menjaga kebhinekaan selama 72 tahun. Kemerdekaan direbut oleh para pahlawan dari tangan para penjajah melalui perjuangan yang sangat berat, jangan ada lagi pertumpahan darah antar sesama bangsa Indonesia. Semboyan bangsa kita merupakan ungkapan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman budaya dan suku bangsa Indonesia. Walaupun kita berbeda dalam banyak hal, namun tetap satu bangsa karena identitas, falsafah dan dasar negara kita adalah satu. Jika kita meneropong keragaman yang ada antar individu dalam konteks lensa yang luas, maka akan timbul rasa bangga dan persaudaraan yang kuat.

Berita Terkait

Upacara Detik-Detik Proklamasi, Wali Kota Parepare Tasming Hamid: Mari Bersatu, Saling Bahu-Membahu

Upacara Detik-Detik Proklamasi Diakhiri Tepuk Tangan, Bupati Sidrap: Mantap

Diserahkan Bupati Sidrap, 207 Warga Binaan Lapas Klas IIB Sidrap Terima Remisi HUT RI

HUT RI ke 80, Wabup Sidrap Lepas Karnaval di Panca Lautang

Sudah saatnya Indonesia menjadi trendsetter multikultural, multietnik dan multireligi bagi bangsa lain. 72 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa menjaga kebhinekaragaman antar bangsa Indonesia, bangsa kita telah membuktikan sikap toleransi antar sesama penganut agama, sesama bangsa untuk menciptakan persatuan dan nasionalisme yang baik.

Beberapa hal berikut dapat memperkuat persatuan bangsa kita berdasarkan diktum “tidak ada paksaan” adalah sebagai berikut: Saling menghormati suku bangsa yang ada di Indonesia, saling menghormati budaya di Indonesia, saling menghormati agama yang ada di Indonesia, saling menghormati ras dan golongan yang ada di Indonesia. Intinya adalah mengembangkan kultur bertoleransi agar harmonisasi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dapat tercipta di bumi pertiwi ini.

Disinilah peran tokoh masyarakat dan generasi muda untuk menjaga dan mempertahankan stabilitas persatuan dan kesatuan bangsa. Ahmad Syafii Ma’arif dalam bukunya Islam dalam Bingkai Keindonesiaan menuturkan bahwa Indonesia membutuhkan lahirnya pemikir-pemikir muda Islam yang serius dan berkomitmen tinggi yang tidak bergeser dari habitatnya yang menjaga integritas moral agar tidak terabaikan dalam karir kemasyarakatan mereka. Pemuda kita saat ini menggambarkan masa depan bangsa kita di masa yang akan datang, sehingga untuk mempertahankan kesatuan negara dari perpecahan dan permusuhan sesama umat, dibutuhkan peran penting pemuda saat ini, mempersiapkan mental dan budi pekerti yang luhur sebagai pasukan intelektual nomor satu untuk negara Indonesia.

Multikulturalisme diharapkan dapat mempertebal patriotisme, toleransi dan rasa nasionalisme bangsa. Jangan sampai budaya dan karya putra bangsa diklaim oleh bangsa lain, mari menjadikan Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu bangsa. Semoga di tahun ke tujuh puluh dua ini, Indonesia semakin maju. Merdeka!

Terkait: HUT RI

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Sidrap Open Pickleball 2026 Digelar Mei, Bupati Ajak Atlet ke Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
28 Maret 2026

Momen PSBM 2026, Bupati Ungkap Rahasia Pertumbuhan Ekonomi Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
27 Maret 2026

Wabup Sidrap dan Wabup Bone Ziarah Makam Raja Bone ke-10 di Tellu Limpoe

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

86 Peserta Bersaing Masuk Paskibraka Sidrap 2026

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan