MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pembelajaran matematika tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas dengan buku dan perangkat pembelajaran yang lengkap. Melalui kreativitas dan pemanfaatan benda-benda sederhana, konsep matematika dapat diperkenalkan dengan cara yang lebih dekat, menyenangkan, dan mudah dipahami. Semangat tersebut dihadirkan dosen dan mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Bosowa (Unibos) melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Panti Asuhan An-Nabawi, Ahad (11/10/2026) lalu.
Mengusung tema “Matematika dari Barang di Sekitar Kita: Belajar Kreatif Bersama Anak-Anak di Panti Asuhan An-Nabawi”, kegiatan ini mempertemukan inovasi pembelajaran dengan kepedulian sosial. Berbagai barang bekas yang kerap dianggap tidak lagi memiliki nilai guna diolah menjadi media edukatif untuk membantu anak-anak memahami konsep matematika melalui pengalaman belajar secara langsung.
Kegiatan tersebut melibatkan empat dosen Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Bosowa, yakni Abdurrachman Rahim, Soma Salim S., Sri Rahmadhanningsih, dan Nur Ismi Tahir, bersama sejumlah mahasiswa yang turut berperan dalam pengembangan media serta pendampingan pembelajaran.
Sebanyak 15 anak dari jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) mengikuti rangkaian kegiatan yang dirancang sesuai dengan tingkat pendidikan dan kebutuhan belajar masing-masing peserta.
Kegiatan diawali dengan sambutan Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Bosowa, Abdurrachman Rahim, serta perwakilan pengurus Panti Asuhan An-Nabawi, Hasnia.
Melalui kegiatan tersebut, tim pelaksana berupaya memperkenalkan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada pemahaman rumus, tetapi juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menemukan konsep matematika melalui benda yang dapat dilihat, disentuh, dan digunakan secara langsung.
Pendekatan ini menjadi salah satu alternatif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif, terutama bagi anak-anak dengan karakteristik dan kebutuhan pembelajaran yang berbeda.
Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi lima kelompok pembelajaran berdasarkan jenjang pendidikan. Setiap kelompok didampingi mahasiswa dengan menggunakan media yang dikembangkan secara khusus sesuai materi yang dipelajari.
Bagi anak-anak SD kelas bawah, pembelajaran penjumlahan dan pengurangan diperkenalkan melalui media MathFlip Board yang dikembangkan oleh Citra Ayu Lestari.
Media berbahan kardus dan kertas bekas tersebut dirancang untuk membantu anak-anak memahami operasi hitung secara konkret. Melalui papan dan potongan kertas yang digunakan sebagai alat bantu, peserta diajak mencoba, menghitung, serta mengamati proses penjumlahan dan pengurangan dengan cara yang lebih sederhana.
Sementara itu, anak-anak SD kelas atas memperoleh pengalaman belajar melalui dua media berbeda, yakni Domino Pecahan dan Peternakan Matematika.
Media Domino Pecahan yang dikembangkan oleh Ainun Syahra memanfaatkan karton bekas sebagai bahan utama. Melalui permainan mencocokkan bilangan pecahan dengan representasi visualnya, anak-anak diajak mengenali hubungan antara simbol matematika dan bentuk gambar yang menggambarkan nilai pecahan tersebut.
Pendekatan ini membantu menghadirkan konsep pecahan yang sering dianggap abstrak menjadi lebih mudah diamati dan dipahami melalui aktivitas permainan.
Adapun media Peternakan Matematika yang dikembangkan oleh Eka Sulfiani memanfaatkan rak telur bekas, bola-bola kertas, serta kartu soal untuk menghadirkan latihan operasi hitung pecahan dalam bentuk permainan edukatif.
Dalam proses pembelajaran, Telma Lewier turut membantu menjelaskan materi dan mendampingi anak-anak saat menyelesaikan soal. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya berlatih menghitung, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk mencoba berbagai cara dalam memahami dan menyelesaikan persoalan matematika.
Pada kelompok SMP, pembelajaran difokuskan pada materi statistika menggunakan media Diagram Batang Tutup Botol yang dikembangkan oleh Naila Adelia.
Tutup botol bekas dimanfaatkan sebagai komponen utama untuk menyusun diagram batang berdasarkan kategori tertentu. Anak-anak kemudian diajak membaca data, membandingkan jumlah, serta mengidentifikasi kategori dengan frekuensi tertinggi dan terendah.
Melalui penggunaan benda konkret, konsep penyajian data diperkenalkan secara visual sehingga peserta dapat memahami hubungan antara angka, kategori, dan informasi yang ditampilkan dalam sebuah diagram.
Sementara itu, kelompok SMA mempelajari konsep peluang melalui media Dadu dari Karton Bekas dengan pendampingan Ken Ameera Mahendradatta Maheswari.
Anak-anak diajak melakukan percobaan pelemparan dadu, mengamati kemungkinan hasil yang muncul, serta mendiskusikan hubungan antara percobaan sederhana dengan konsep peluang dalam matematika.
Aktivitas tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami bahwa konsep matematika tidak hanya hadir dalam bentuk perhitungan tertulis, tetapi juga dapat ditemukan melalui berbagai peristiwa dan aktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
Beragam media yang digunakan selama kegiatan memperlihatkan bahwa keterbatasan bahan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang kreatif.
Kardus, kertas, karton, tutup botol, hingga rak telur yang sebelumnya tidak lagi digunakan dapat memperoleh fungsi baru ketika diolah melalui gagasan dan pendekatan pendidikan yang tepat.
Pemanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran juga memperkenalkan nilai kepedulian terhadap lingkungan. Benda-benda yang berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan kembali sebagai sumber belajar, sekaligus memberikan contoh sederhana mengenai pentingnya kreativitas dalam penggunaan sumber daya yang tersedia.
Bagi mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Bosowa, kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran yang tidak kalah penting. Pengetahuan mengenai strategi mengajar, pengembangan media, dan pendekatan pembelajaran yang diperoleh selama perkuliahan diterapkan secara langsung dalam situasi pendidikan yang nyata.
Mahasiswa terlibat sejak proses perancangan media, penyusunan aktivitas, penyampaian materi, hingga pendampingan peserta selama kegiatan berlangsung.
Pengalaman tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami bahwa proses mengajar membutuhkan lebih dari sekadar penguasaan materi. Kemampuan berkomunikasi, kesabaran, kreativitas, serta kepekaan terhadap kebutuhan peserta didik menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang efektif.
Perbedaan jenjang pendidikan anak-anak panti asuhan juga menjadi pengalaman tersendiri bagi mahasiswa dalam menyesuaikan cara penyampaian materi. Konsep matematika yang sama dapat membutuhkan pendekatan berbeda bergantung pada kemampuan dan pengalaman belajar masing-masing peserta.
Dalam pelaksanaannya, para dosen turut memberikan arahan dan masukan sejak tahap persiapan pengembangan media pembelajaran. Pendampingan juga dilakukan selama kegiatan berlangsung, baik kepada mahasiswa maupun kepada anak-anak yang membutuhkan penjelasan tambahan.
Kolaborasi antara dosen dan mahasiswa tersebut menjadi bentuk penerapan pembelajaran berbasis pengalaman yang menghubungkan penguasaan teori di perguruan tinggi dengan kebutuhan pendidikan di tengah masyarakat.
Selain menghadirkan pembelajaran matematika, kegiatan pengabdian ini turut dirangkaikan dengan aksi kepedulian sosial melalui penyerahan bantuan kepada Panti Asuhan An-Nabawi.
Bantuan yang diberikan meliputi bahan kebutuhan pangan, pakaian layak pakai, paket alat tulis, serta donasi uang tunai sebagai bentuk perhatian dan dukungan kepada anak-anak panti asuhan.
Penyerahan bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan pengabdian yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga mempererat hubungan sosial antara sivitas akademika Universitas Bosowa dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Math Challenge, yang memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk kembali mengasah pemahaman matematika melalui aktivitas yang lebih interaktif.
Kebersamaan semakin terasa melalui sesi dokumentasi dan makan bersama antara dosen, mahasiswa, anak-anak, serta pengurus Panti Asuhan An-Nabawi.
Di balik berbagai aktivitas pembelajaran yang dilaksanakan, kegiatan ini menghadirkan pengalaman berharga mengenai bagaimana pendidikan dapat tumbuh melalui interaksi sederhana, perhatian, dan kesediaan untuk berbagi pengetahuan.
Bagi Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Bosowa, kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut menjadi bagian dari komitmen dalam mengembangkan pembelajaran yang inovatif sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi terhadap kebutuhan masyarakat.
Melalui pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pada bidang pengabdian kepada masyarakat, dosen dan mahasiswa didorong untuk menghadirkan pengetahuan yang tidak hanya berkembang dalam lingkungan akademik, tetapi juga dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu harus lahir dari teknologi yang kompleks maupun fasilitas yang mahal. Dalam banyak kesempatan, kreativitas justru tumbuh dari kemampuan melihat potensi pada hal-hal sederhana yang tersedia di sekitar.
Pemanfaatan barang bekas sebagai media pembelajaran matematika menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan pendidikan dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan keterjangkauan, kebutuhan peserta didik, serta keberlanjutan penggunaan sumber belajar.
Melalui kegiatan bertema “Matematika dari Barang di Sekitar Kita”, dosen dan mahasiswa Pendidikan Matematika Universitas Bosowa berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi untuk terus mengembangkan pembelajaran yang kreatif, kontekstual, dan menyenangkan.
Lebih dari sekadar memperkenalkan konsep berhitung, statistika, maupun peluang, kegiatan ini menjadi ruang untuk menumbuhkan rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan anak-anak.
Dari kardus bekas yang diubah menjadi papan berhitung hingga tutup botol yang disusun menjadi diagram, setiap media membawa pesan sederhana bahwa pengetahuan dapat tumbuh dari berbagai hal yang sering kali luput dari perhatian.
Sebab pendidikan yang bermakna tidak selalu ditentukan oleh seberapa lengkap fasilitas yang tersedia, tetapi juga oleh kreativitas, kepedulian, dan kesungguhan dalam menghadirkan kesempatan belajar bagi setiap anak.
Melalui langkah sederhana tersebut, Universitas Bosowa terus berupaya menjadikan ilmu pengetahuan sebagai bagian dari pengabdian yang tidak hanya memberi pemahaman, tetapi juga membuka ruang bagi tumbuhnya pengalaman, kebersamaan, dan harapan. (adv)












