• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 6 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Apakah Suara Rakyat Harus Dibayar dengan Uang?

Oleh : Cahya Ramadhani (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Parepare)

Amrihani Editor: Amrihani
17 Mei 2023
di Opini
Foto : Cahya (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam)

Foto : Cahya (Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam)

OPINI-Sebelum memasuki tahun 2024 dimana pada tahun itu akan diadakan pemilu, seperti yang kita ketahui pada tahun sebelumnya kita dapat melihat para calon-calon pemimpin begitu mudahnya menawarkan tawaran terbaiknya melalui pamflet, sosial media, mengunjungi tempat yang strategis atau bahkan yang sering kita temui mereka dengan mudahnya memberikan amplop berisi uang kepada para masyarakat. Mereka melakukan hal tersebut untuk menawarkan diri agar mereka terpilih sebagai pemimpin.

Masyarakat dengan mudahnya digerakkan dengan cara seperti itu. Dimasa sekarang ini masyarakat  sangat dimanjakan akan hal tersebut. Masyarakat juga beranggapan jika dalam berpolitik itu terkait dengan kebutuhan ekonomi. Saat ini, para calon pemimpin berlomba-lomba melakukan segala hal dalam mempertahankan citranya dan mereka juga harus rela mengeluarkan banyak dana.

Sebagai contoh, seperti yang pernah kita lihat di tahun kemarin, khususnya para mahasiswa pada saat  kuliah di Kota. Pada saat pemilu para calon pemimpin atau Calon Legislatif (Caleg) berlomba-lomba memberikan kontribusinya yaitu mahasiswa di jemput dengan menggunakan mobil pribadi mereka untuk melakukan pemilihan, mahasiswa tersebut berpikir dan melihat bahwa itu adalah salah satu cara para calon pemimpin dalam mendapatkan suara.

Itulah sebabnya menjadi calon pemimpin tidaklah mudah dan tidak ada yang gratis. Masyarakat juga memandang bahwa bagi mereka calon pemimpin tidaklah layak atau pantas dalam menawarkan dirinya jika mereka tidak memiliki modal dalam mencari simpati masyarakat. Dalam politik yang terjadi sekarang ini, para pemilih tidaklah lagi melihat bagaimana sikap atau tindakan para calon pemimpin karena mereka hanya mengandalkan hal-hal seperti itu.

Para calon pemimpin yang tidak mempunyai modal tentunya tidak dapat berkompetensi dalam mengambil suara rakyat, dengan mudahnya mereka membeli suara rakyat. Serta masyarakat juga tidak mempertimbangkan bagaimana tindakan dan usaha para calon pemimpin untuk kedepannya.

Berita Terkait

Syawalan Muhammadiyah Parepare, Momentum Perkuat Silaturahim dan Harmoni Sosial

Hadiri Ramah Tamah IKA FKG Unhas, Wali Kota Parepare Dorong Kolaborasi

Dua Rumah di Pinrang Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp 450 Juta

Donut Boat di Pantai Ammani Terbalik, 5 Penumpang Terhempas ke Pasir

Para calon pemimpin diharapkan bisa memperjuangkan suara orang-orang yang memilihnya. Tapi pernahkah kita berpikir apa dan berapa yang akan didapatkan. Hingga para calon pemimpin berlomba-lomba memperebutkan suara dari masyarakat. Seharusnya masyarakat harus lebih jeli dalam memilih dan pastinya sudah mengetahui bagaimana kontribusi dan tindakan yang bisa kita lihat.

Sebagai pemilih jangan hanya uang dengan jumlah banyak atau tidaknya kita memberikan suara kita dengan mudahnya, padahal sangat berdampak dikemudian hari jika apa yang telah dipilih tersebut tidak amanah. Sangat dipertanyakan jika terdapat calon pemimpin tidak mengeluarkan dana, mengapa hal itu bisa terjadi.

Masyarakat kita harus lebih mempertahankan harga diri, jangan setelah diberikan uang maka kita dengan mudahnya memberikan suara. Itulah sebabnya para calon pemimpin beranggapan dan selalu berharap kepada masyarakat bahwa mereka bisa lebih mudah dalam mendapatkan suara.

Politik di saat sekarang ini tidaklah sehat mereka melakukan segala cara dalam mempertahakan dirinya tanpa harus mempertimbangkan apakah mereka mampu bertanggung jawab untuk kedepannya. Dengan keadaan sekarang yang berbanding terbalik dengan yang dulu tentu tidaklah sehat. Kondisi  sekarang ini akan semakin jauh dari tujuan yang ingin diraih. Bukan hanya menghasillkan pemimpin yang berkualitas, melainkan kepada siapa saja yang memiliki uang.

Cara para calon pemimpin dalam melakukan politik berdampak buruk bagi masyarakat. Tidak hanya rakyat diperebutkan, tetapi juga diperdagangkan. Itulah dampak bagi masyarakat yang suaranya dibeli. Kebanyakan para calon pemimpin yang telah terplilih yang dulunya dengan mudahnya memberikan sesuatu kepada masyarakat, tetapi setelah terpilih mereka tidak lagi memikirkan akan hal seperti itu. Bahkan bisa dikatakan mereka lepas dari tanggung jawab dan apa yang mereka pernah katakan kepada masyarakat tidak ada satupun yang terlaksana, seakan-akan mereka hanya mencari popularitas.

Seharusnya masyarakat bersatu dalam mempertahakan hak mereka apa yang berhak dan mau mereka pilih tanpa harus suara mereka dibeli oleh para calon pemimpin. Mereka harus bisa mempertimbangkan bagaimana pemimpin yang baik untuk kedepannya. Apakah mereka benar-benar amanah dalam melakukan tanggung jawabnya.

Cara seperti ini seharusnya dilakukan pencegahan dalam melakukan politik uang, tokoh agama dan masyarakat berperan aktif dalam mendampingi masyarakat dalam mencegahnya, berinisiatif membentuk komunitas untuk berani menolak. Serta masyarakat berani melaporkan kepada pihak yang bersangkutan agar para pemilih bisa memahami dan menolak pada pemilu 2024 mendatang.(*)

Opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Syawalan Muhammadiyah Parepare, Momentum Perkuat Silaturahim dan Harmoni Sosial

Editor: Muhammad Tohir
6 April 2026

Hadiri Ramah Tamah IKA FKG Unhas, Wali Kota Parepare Dorong Kolaborasi

Editor: Muhammad Tohir
5 April 2026

Dua  Rumah di Pinrang Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp 450 Juta

Dua Rumah di Pinrang Ludes Terbakar, Kerugian Ditaksir Capai Rp 450 Juta

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
5 April 2026

Donut Boat di Pantai Ammani Terbalik, 5 Penumpang Terhempas ke Pasir

Donut Boat di Pantai Ammani Terbalik, 5 Penumpang Terhempas ke Pasir

Editor: Muhammad Tohir
4 April 2026

Festival Nene Mallomo III Dibuka, Bupati Sidrap: Ini Membentuk Mental Juara

Festival Nene Mallomo III Dibuka, Bupati Sidrap: Ini Membentuk Mental Juara

Editor: Muhammad Tohir
4 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan