• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 31 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI; Hari Lahir Pancasila, Tentang Sejarah dan Spirit Literasi

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
31 Mei 2019
di Opini
Sirajuddin

Oleh : Sirajuddin, Pustakawan IAIN Parepare

OPINI — Presiden Joko Widodo pada 1 Juni 2016 menetapkan tiap tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Dasar dan Ideologi Negara, yaitu “Pancasila” yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

Spirit Pancasila ini bersumber dari gagasan kritis sosok Soekarno tentang 5 dasar landasan berbangsa dan bernegara yang didengungkan pada sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) pada 29 Mei sampai dengan 1 Juni 1945.

Bung Karno selaku penggagas 5 ideologi Pancasila dalam pidatonya mengajak semua peserta sidang agar jangan takut untuk merdeka. Jangan pula terlalu mempersulit proses untuk memproklamirkan kemerdekaan. Karena menurutnya, merdeka merupakan jembatan menuju kehidupan negara yang lebih baik ke depannya.

Hari lahir Pancasila yang sudah menjadi sebuah perhelatan setiap 1 Juni memiliki makna historis dimana di dalam sidang BPUPKI  yang waktu itu bernama Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai yang diketuai oleh Dr. Kanjeng Raden Tumenggung Radjiman Wediodiningrat mengajukan pertanyaan pokok: “Apa dasar dari negara yg akan kita bentuk?” setelah beberapa tokoh Bung Karno pun menemukan jawaban sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia.

Bung Karno juga menguraikan pemikirannya dalam sebuah pidato yang sangat legendaris persis pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam petikan pidato Bung Karno bahwa, “Dasar pertama, yang baik dijadikan dasar buat negara Indonesia, ialah dasar Kebangsaan. Kita mendirikan satu Negara Kebangsaan Indonesia”.

Berita Terkait

Dua Siswa SMAN 5 Parepare Juara Lomba Konten Literasi

Ketua BKPRMI Parepare Resmi Dilantik, Wali Kota Dorong Sinergi Dakwah dan Literasi Al-Qur’an

Dibuka Wali Kota Parepare, Sosialisasi Budaya Baca dan Literasi Sasar Pelajar

Ulas Literasi Al-Qur’an dan Karakter Siswa, Dosen IAIN Parepare Ini Raih Gelar Doktor

Dasar negara yang diagendakan dalam sidang BPUPKI, tentang rumusan umum yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia sebagai pondasi atau titik landasan yang menyediakan pandangan dasar hidup bangsa dan negara Indonesia merdeka.

Literat dalam cerminan Pancasilais.

Semangat literasi yang didengungkan di hari lahir Pancasila dengan memahami konsepsi  Pancasila sebagai dasar negara yang sudah ditanamkan degan kokoh oleh Ir Soekarno ketika itu menyampaikan ide gagasannya tentang lima poin penting sebagai landasan berbangsa dan bernegara.

Memahami, menghayati, mengamalkan, dan melestarikan nilai-nilai Pancasila, bunyi sila-sila dan lambang Pancasila ini sudah seharusnya terimplementasi, mengakar, dan meradikal dalam diri setiap individu yang menggerakkan sendi-sendi kehidupan sosial generasi Pancasila sehingga tidak terjadi kejahatan sosial (social crime), dan penghinaan (objection) terhadap ideologi Pancasila.

Lickona dalam Megawangi (2004: 7-8) menyebut, ada sepuluh tanda-tanda bahwa sebuah bangsa sedang menuju kehancuran. Tanda-tanda yang dimaksud adalah: (1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan bahasa dan kata-kata yang memburuk, (3) pengaruh peer group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya perilaku merusak diri, seperti penggunaan narkoba, alkohol, dan seks bebas, (5) semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk, (6) menurunnya etos kerja, (7) semakin rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8) rendahnya rasa tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayakan ketidakjujuran, (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian di antara sesama”.

Di tengah kedangkalan mental dan pikir ada kesadaran yang kita abaikan bahwa Tuhan yang maha kuasa adalah sumber kehidupan sehingga moral dan etika menjadi domain penting dalam selama prilaku manusia Indonesia. Bung Karno dalam orasinya, “harus ada kebangsaan dan nasionalisme yang maju dan kuat dalam taman sari internasionalisme atau kemanusiaan”.

Tumbuh kembangnya nasionalisme dalam diri setiap warga negara didasari oleh kentalnya pemahaman terhadap spirit yang dikandung setiap sila dalam Pancasila yang bukan hanya dijadikan sebagai narasi dan pameo belaka, tapi seharusnya menjadikan kita sosok pancasilais militan yang menjadikan literasi sebagai pilar pegokoh kebangsaan.

Tindakan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN),  adalah upaya menodai Pancasila melahirkan streotype yang buruk bagi karakter masyarakat indonesia, juga disebabkan hegemoni atau pengaruh faham neoliberalisme dunia barat yang kurang

mampu ditolak oleh masyarakat Indonesia dan ketergantungan terhadap globalisasi yang menumpulkan kecerdasan kepekaan berbangsa.

Gerakan literasi Pancasila sering di aktualisasikan dalam kegiatan: upacara, seminar, lokakarya, diskusi, lomba menulis yang bertema tentang Pancasila, cerdas cermat Pancasila, festival Pancasila, pentas seni dan budaya, memutar film sejarah perjuangan bangsa, mengangkat kisah-kisah inspiratif orang-orang pelopor dan pelestari nilai-nilai Pancasila, ziarah ke makam-makam pejuang kemerdekaan, berkunjung ke musium, iklan-iklan atau kampanye di media massa, dan sebagainya, sebagai stimulus terhadap penjiwaan ideologi pancasila. (*)

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis secara pribadi. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

 

Terkait: Hari Lahir PancasilaLiterasi

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Wali Kota Parepare dan Wakilnya Hadiri Latsarmil Komcad di Gowa

Wali Kota Parepare dan Wakilnya Hadiri Latsarmil Komcad di Gowa

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Wali Kota Parepare Serahkan LKPD 2025 ke BPK, Tegaskan Komitmen Tata Kelola Keuangan

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Terima Audiensi BPLIP Makassar, Bupati Tegaskan Komitmen Sidrap Sukseskan Swasembada Pangan

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Jelang Porsenijar Sulsel, Pemkab Sidrap Matangkan Akomodasi hingga Kesiapan Atlet

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Bupati Pinrang Pimpin Upacara Perdana Usai Lebaran, Minta ASN Tingkatkan Kinerja

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan