• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Olahraga

ESAI : Raga Sehat, Jiwa Kuat

Oleh: Alfiansyah Anwar

Editor: Alfiansyah Anwar
30 Oktober 2026
di Olahraga, Sulselbar, Topik Utama

ESAI, PIJARNEWS.COM — Ada masa ketika tubuh begitu ringan diajak berlari, melompat, dan bertanding. Namun, waktu perlahan mengajarkan bahwa tidak semua gerakan masa lalu dapat diulang dengan kekuatan yang sama. Meski demikian, usia bukanlah alasan untuk berhenti bergerak. Justru ketika usia bertambah, tubuh semakin membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kasih sayang dari pemiliknya sendiri.

Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, saya sedikit terlambat memulai jogging di Lapangan Andi Makkasau, Kota Parepare. Jarum waktu telah menunjukkan sekitar pukul 07.00 Wita ketika kaki mulai melangkah mengitari lapangan dengan sinar matahari yang cerah. Selama kurang lebih 45 menit, saya berjalan kaki, menyapa sejumlah sahabat dari berbagai profesi, berjabat tangan, bertukar kabar, dan sesekali bercerita di sela-sela langkah.

Pagi itu, saya kembali menyadari bahwa olahraga tidak selalu harus dimulai dengan sepatu mahal, catatan waktu, atau target jarak yang ambisius. Terkadang, cukup dengan sepasang kaki yang bersedia melangkah, niat yang tulus, dan lingkungan yang mendukung.

Dari Lapangan Tenis Meja hingga Lapangan Kehidupan

BeritaTerkait

Dosen IAIN Parepare Terpilih sebagai Panelis MU’TAMAD 2026 di Pesantren Lirboyo, Angkat Transformasi Pesantren al-Risalah Batetangnga

Dosen IAIN Parepare Terpilih sebagai Panelis MU’TAMAD 2026 di Pesantren Lirboyo, Angkat Transformasi Pesantren al-Risalah Batetangnga

30 Oktober 2026
Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

25 Oktober 2026
Culture Day SIT Andalusia Sukses Tampilkan Ragam Seni dan Budaya Nusantara

Culture Day SIT Andalusia Sukses Tampilkan Ragam Seni dan Budaya Nusantara

24 Oktober 2026
Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

23 Oktober 2026

Sesungguhnya, kecintaan saya terhadap olahraga telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Saya pernah bersekolah di SD 175 Pekkabata, SD 47 Sulengka, dan SD 46 Lampa, Kecamatan Duampanua, Kabupaten Pinrang.

Ayah saya seorang guru sekolah dasar yang beberapa kali berpindah tempat tugas. Karena itu, saya pun ikut berpindah sekolah dan tinggal di perumahan tempat ayah mengajar. Di setiap sekolah tersebut, kebetulan tersedia lapangan tenis meja. Barangkali, dari sanalah benih kecintaan terhadap olahraga mulai tumbuh.

Tenis Meja
Suasana bermain tenis meja.

Hampir setiap ada kesempatan, saya bermain tenis meja. Keseringan berlatih membuat saya terpilih mewakili sekolah dalam pertandingan perayaan 17 Agustus. Saya tidak pernah menjadi juara pertama. Namun, sejauh yang masih saya ingat, pernah meraih juara ketiga.

Bagi sebagian orang, juara ketiga mungkin bukan sesuatu yang istimewa. Tetapi bagi seorang anak sekolah dasar, berdiri sebagai salah satu pemenang sudah menjadi pengalaman yang membekas. Saya belajar bahwa kemenangan tidak selalu harus berada di puncak podium. Keberanian untuk mencoba, kesediaan berlatih, dan pengalaman bertanding juga merupakan bagian dari kemenangan.

Ketika SMP dan SMA, saya kembali berkesempatan bermain tenis meja. Seingat saya, pernah mewakili Kelurahan Lampa dalam suatu pertandingan. Namun, saya sudah tidak ingat lagi hasil akhirnya. Barangkali, ingatan tentang skor pertandingan memang mudah memudar, tetapi kegembiraan ketika bermain bersama kawan-kawan tetap tinggal dalam kenangan.

Kampus, Persahabatan, dan Pertandingan

Kecintaan terhadap tenis meja berlanjut ketika saya menempuh pendidikan Jurusan Jurnalistik di STIKOM Fajar, Makassar, yang kini menjadi Universitas Fajar (Unifa). Kampus menyediakan fasilitas tenis meja yang menjadi salah satu tempat favorit mahasiswa mengisi waktu setelah kuliah atau kegiatan organisasi di Senat Mahasiswa.

Hampir setiap hari kami bermain. Di sana, olahraga bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan juga ruang perjumpaan. Di antara pantulan bola kecil dan suara bet yang beradu, tumbuh persahabatan, keakraban, dan semangat berkompetisi secara sehat.

Saya pernah diutus mewakili kampus dalam pertandingan antar perguruan tinggi. Hasilnya? Tidak membawa pulang medali. Namun, saya membawa pulang pengalaman yang tak kalah berharga: merasakan suasana pertandingan, berhadapan dengan lawan yang lebih terampil, dan memahami bahwa kemampuan seseorang tidak tumbuh hanya dengan mengandalkan rasa percaya diri.

Pengalaman serupa kembali saya rasakan ketika mengikuti Pekan Olahraga Wartawan Daerah (Porwarda) di Maros. Lagi-lagi, saya belum berhasil meraih juara. Lawan-lawan yang dihadapi memiliki kemampuan bermain yang luar biasa.

Ketika bertugas dan mengabdi menjadi Dosen Jurnalistik dan Ilmu Hukum di IAIN Parepare, saya pun pernah diutus mengikuti pertandingan tenis meja dalam rangka Hari Amal Bakti Kementerian Agama di Pangkep. Saat itu, saya bermain di nomor ganda. Hasilnya belum membawa kemenangan. Tidak apa-apa. Setidaknya, saya pernah ikut bertanding.

Dalam olahraga, tidak semua orang harus menjadi juara. Ada yang bertanding untuk meraih medali, ada yang ingin menguji kemampuan, dan ada pula yang sekadar ingin menjaga kebugaran sembari memperluas persahabatan. Semua memiliki makna selama dilakukan dengan semangat positif.

Bulu Tangkis dan Malam-Malam yang Menghidupkan Kenangan

Selain tenis meja, bulu tangkis menjadi olahraga yang menemani masa remaja hingga kuliah.

Ketika orang tua menglyewa rumah di Pekkabata, dekat Kantor PLN, terdapat lapangan bulu tangkis yang menjadi tempat kami berolahraga. Hampir setiap malam selepas salat Isya, kami bermain bersama. Karena lapangannya terbuka, malam hari terasa lebih nyaman. Angin tidak terlalu kencang, sehingga permainan bisa berlangsung dengan lebih menyenangkan.

Saya pernah diutus mengikuti pertandingan di GOR Pinrang. Sayangnya, saya belum mendapat kesempatan bertanding. Mungkin, menurut pertimbangan pelatih, kemampuan saya saat itu belum cukup untuk diturunkan. Saya menerima keputusan tersebut dengan lapang dada.

Dalam olahraga, tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ada kalanya kita menjadi pemain, ada kalanya menjadi pendukung. Keduanya tetap memiliki peran.

Ketika kuliah dan tinggal di salah satu perumahan di Kelurahan Sudiang Raya, Makassar, saya kembali menemukan lapangan bulu tangkis yang ramai digunakan pada malam hari. Banyak pemain dengan kemampuan di atas rata-rata. Saya ikut berlatih dan sesekali bertanding.

Seingat saya, pernah meraih posisi tiga besar dalam pertandingan perayaan 17 Agustus antar kompleks. Sesekali, saya juga berkesempatan bermain di level dua dalam pertandingan persahabatan di GOR bulu tangkis kawasan RS Tajuddin, Daya.

Saya juga pernah mencoba bermain sepak takraw ketika indekos di Jalan Baiturrahman, Makassar. Meski tidak terlalu mahir, pengalaman itu semakin memperkaya perjalanan olahraga saya. Sepulang kuliah di sore hari, kami bermain Takraw dengan riang gembira.

Jika dikenang, perjalanan ini seperti sebuah pertandingan panjang yang tidak selalu diukur dengan skor. Ada masa ketika saya menjadi pemain, ada masa ketika hanya menjadi penonton, dan ada masa ketika olahraga sekadar menjadi alasan untuk bertemu sahabat.

Olahraga sebagai Investasi Kesehatan

Dalam perspektif ilmu kesehatan, aktivitas fisik secara teratur merupakan salah satu bagian penting dari upaya menjaga kebugaran tubuh. Berjalan kaki, jogging, berenang, bulu tangkis, dan tenis meja dapat membantu melatih jantung, meningkatkan daya tahan tubuh, serta menjaga fungsi otot dan sendi.

Olahraga juga berkaitan dengan kesehatan psikologis. Aktivitas fisik dapat membantu mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan mendukung kualitas tidur. Karena itu, olahraga bukan semata-mata urusan otot dan keringat, melainkan juga bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan kehidupan.

Dalam teori biopsikososial, kesehatan manusia dipahami sebagai hasil keterkaitan dimensi biologis, psikologis, dan sosial. Tubuh yang bergerak, pikiran yang lebih tenang, serta hubungan sosial yang terpelihara dapat saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.

Pengalaman jogging pagi tadi menjadi contoh sederhana dari keterkaitan tersebut. Tubuh bergerak melalui aktivitas berjalan kaki. Pikiran terasa lebih segar ketika menikmati suasana pagi. Sementara itu, perjumpaan dengan sahabat dari berbagai profesi menghadirkan kebahagiaan sosial yang tidak bisa diukur hanya dengan jumlah langkah.

Pepatah olahraga yang kerap kita dengar berbunyi; “Mens sana in corpore sano.”

Artinya, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat.

Ungkapan latin ini maknanya sering digunakan untuk menegaskan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental. Namun, ungkapan tersebut bukan berarti tubuh yang sehat otomatis menjamin jiwa yang sehat. Kesehatan manusia tetap dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi psikologis, lingkungan sosial, dan nilai-nilai yang diyakini.

Karena itu, olahraga sebaiknya menjadi salah satu ikhtiar untuk merawat tubuh dan mendukung kesehatan jiwa, bukan satu-satunya ukuran kebahagiaan atau kesehatan seseorang.

Bergerak sebagai Bentuk Syukur

Dalam ajaran Islam, tubuh merupakan amanah dari Allah Swt. Kesehatan dan kekuatan bukan sekadar modal untuk bekerja, tetapi juga sarana untuk beribadah dan memberikan manfaat kepada sesama.

Rasulullah saw. bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.”

(HR. Muslim, no. 2664)

Hadis ini memberikan dorongan untuk menjadi pribadi yang kuat, sekaligus mengingatkan bahwa kebaikan tetap ada pada setiap keadaan seorang mukmin. Kekuatan tidak hanya berarti kemampuan fisik, tetapi juga mencakup keteguhan iman, kemauan berbuat baik, dan kesungguhan menjalankan tanggung jawab.

Olahraga dapat menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh. Bukan untuk menyombongkan kekuatan, melainkan agar kita memiliki daya untuk bekerja, mengurus keluarga, membantu orang lain, dan beribadah dengan lebih baik.

Allah Swt. juga mengingatkan dalam Al-Qur’an: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)

Ayat tersebut memiliki konteks yang luas dalam ajaran Islam. Salah satu pelajaran yang dapat kita ambil ialah pentingnya menjaga diri dan tidak mengabaikan hal-hal yang dapat membahayakan kehidupan.

Maka, menjaga kebugaran melalui aktivitas fisik yang sesuai kemampuan merupakan salah satu bentuk ikhtiar. Tentu saja, olahraga perlu dilakukan secara bijak, bertahap, dan tidak berlebihan. Sebab, tujuan utama olahraga bukan menyiksa tubuh, melainkan merawatnya.

Silaturahmi di Tanggul Cempae

Kini, perjalanan olahraga saya memasuki babak baru. Selain berjalan kaki dan sesekali bermain bulu tangkis, saya mulai menjajaki aktivitas berendam dan berenang di Tanggul Cempae bersama Komunitas Perendam dan Perenang Tanggul Cempae.

Di tempat ini, komunitas secara swadaya menyiapkan sejumlah fasilitas, seperti ruang ganti pakaian, pancuran air, serta alat olahraga angkat beban. Semangat kebersamaan menjadi salah satu hal yang membuat aktivitas olahraga terasa lebih menyenangkan.

Ada sesuatu yang istimewa ketika olahraga dilakukan bersama komunitas. Kita tidak hanya memperoleh kesempatan bergerak, tetapi juga belajar saling mendukung, berbagi pengalaman, dan menjaga semangat satu sama lain.

Di tengah kesibukan pekerjaan, keluarga, dan tanggung jawab sosial, perjumpaan seperti ini menjadi ruang sederhana untuk mengisi kembali energi kehidupan.

Saya percaya, persahabatan yang tumbuh melalui olahraga dapat menjadi jembatan silaturahmi. Kita mungkin berbeda profesi, usia, latar belakang, dan pengalaman hidup. Namun, ketika berada di lapangan atau tempat olahraga, semua dapat berbaur dalam semangat yang sama: menjaga kesehatan dan menikmati kebersamaan.

Jangan Biarkan Mager Mengalahkan Niat

Ada satu hal yang perlu kita akui: tantangan terbesar untuk berolahraga terkadang bukan lawan di lapangan, melainkan rasa malas di dalam diri sendiri. Malas gerak (Mager). Sepulang bekerja, tubuh terasa lelah. Pagi hari, kasur terasa begitu nyaman. Niat untuk berjalan kaki sering kali kalah oleh godaan menunda.

Padahal, olahraga tidak harus selalu dimulai dengan aktivitas berat. Kita bisa memulainya dengan berjalan kaki selama 10–15 menit, menggunakan tangga, melakukan peregangan, atau memilih aktivitas fisik yang disukai. Yang penting, bergerak secara teratur dan meningkatkan intensitas sesuai kemampuan tubuh.

Bagi saya sendiri, perjalanan olahraga dari masa kanak-kanak hingga sekarang menjadi pengingat bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar kenangan pernah menjadi atlet atau meraih kemenangan. Tidak masalah jika hari ini hanya mampu berjalan kaki, sementara dahulu bisa bermain bulu tangkis berjam-jam. Setiap langkah tetap berarti.

Jangan menunggu tubuh menjadi lemah untuk mulai bergerak. Jangan menunggu sakit untuk belajar menjaga kesehatan. Mari mengalahkan rasa malas sedikit demi sedikit. Sebab, satu langkah kecil yang dilakukan hari ini jauh lebih bermakna daripada seribu rencana yang terus ditunda. Bergeraklah untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk orang-orang yang membutuhkan kehadiran kita. Semoga langkah sederhana menjadi jalan panjang menuju kehidupan yang lebih sehat, produktif, dan penuh keberkahan.

Sehat untuk Mengabdi

Kini saya semakin memahami bahwa olahraga bukan semata-mata tentang siapa yang paling cepat berlari, paling kuat mengangkat beban, atau paling banyak mengumpulkan medali.

Olahraga adalah perjalanan mengenali diri sendiri. Ia mengajarkan disiplin, kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan menerima keterbatasan. Kita belajar bahwa tubuh memiliki batas, tetapi semangat untuk merawatnya tidak seharusnya ikut berhenti.

Dari meja tenis di sekolah dasar, lapangan bulu tangkis di Pekkabata, pertandingan antarkampus, Porwarda di Maros, hingga jogging dan berenang di Parepare, semuanya menjadi bagian dari perjalanan hidup yang patut disyukuri.

Semoga kita senantiasa diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjalankan amanah kehidupan. Semoga raga yang terawat menjadi sarana untuk bekerja dengan baik, berbuat manfaat, mempererat silaturahmi, dan beribadah kepada Allah Swt.

Sebab, pada akhirnya, sehat bukan sekadar agar kita dapat hidup lebih lama, tetapi agar setiap waktu yang Allah titipkan dapat kita isi dengan lebih banyak kebaikan.

Salam sehat. Tetap bergerak, tetap bersyukur, dan jangan lupa bahagia. (alf/ai)

Terkait: Buku TangkisJoggingLapangan Andi MakkasauOlahragaRenangTenis Meja

Berita Terkait

Milad ke-5 KPTC Dikemas dalam Family Gathering: Selaraskan Hati, Sehatkan Jiwa

Milad ke-5 KPTC Dikemas dalam Family Gathering: Selaraskan Hati, Sehatkan Jiwa

Editor: Tohir Muhammad
24 Agustus 2026

...

Gaya Santai Tasming Hamid: Joging, Sapa Warga, Serap Aspirasi

Gaya Santai Tasming Hamid: Joging, Sapa Warga, Serap Aspirasi

Editor: Tohir Muhammad
16 April 2026

...

Momen Hari Bhayangkara ke-79, Pejabat Sekda Sidrap Olahraga Bersama

Editor: Tohir Muhammad
20 Juni 2025

...

Berita Populer

  • Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dosen IAIN Parepare Terpilih sebagai Panelis MU’TAMAD 2026 di Pesantren Lirboyo, Angkat Transformasi Pesantren al-Risalah Batetangnga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Benang Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa Kewirausahaan UMS Rappang Kembangkan Produk Rajut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Wali Kota Parepare Lantik 18 Pejabat, Ini Nama-namanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi