KEDIRI, PIJARNEWS.COM – Dr. Muhammad Ali Rusdi Bedong, M.H.I., dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum Islam IAIN Parepare sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga, Sulawesi Barat, terpilih sebagai salah satu panelis dalam konferensi internasional Al-Multaqa Ad-Dawli Lid-Dirasah Al-Islamiyah Wal Insaniyah Wal Hadariyah (MU’TAMAD 2026) yang berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, 29–31 Oktober 2026.
Keterpilihan tersebut diperoleh melalui seleksi karya ilmiah dalam agenda Call for Papers yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama Republik Indonesia. Paper yang ditulisnya berjudul “Integrasi Tradisi Keilmuan Campalagian dan Sidogiri: Modal Sosial dan Transformasi Kelembagaan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Sulawesi Barat.”
Paper tersebut masuk dalam daftar presentasi Parallel Sessions I pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 19.00–21.00 WIB, dalam subtema Pesantren Transformatif: Kurikulum, Pedagogi, dan Standar Mutu, dengan discussant Dr. KH. Achmad Roziqi, Lc., M.H.I.
MU’TAMAD 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan ulama, akademisi, peneliti, dan mahasantri dari berbagai negara. Berdasarkan publikasi Kementerian Agama, sebanyak 653 abstrak mengikuti proses seleksi, sementara konferensi ini menghadirkan sekitar 200 panelis dari 10 negara. Keterlibatan Muhammad Ali Rusdi Bedong menjadi salah satu representasi akademisi perguruan tinggi yang mengangkat pengalaman dan praktik pengembangan pesantren sebagai objek kajian ilmiah.
Menghubungkan Penelitian dan Pengabdian di Pesantren
Menariknya, paper yang dipresentasikan berangkat dari pengalaman langsung penulis dalam mengembangkan Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga. Sebagai dosen IAIN Parepare, ia tidak hanya menjalankan aktivitas akademik di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga mengabdikan diri secara langsung dalam pengembangan kelembagaan pesantren melalui amanah sebagai Ketua Yayasan.
Pengalaman tersebut menjadi ruang perjumpaan antara dunia akademik dan realitas sosial kelembagaan pesantren. Tradisi keilmuan Campalagian yang memiliki akar kuat dalam khazanah keislaman masyarakat Mandar dan tradisi keilmuan Sidogiri menjadi dua modal penting yang dikaji dalam proses pembentukan identitas, penguatan kelembagaan, serta transformasi Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga.
Kajian ini memperlihatkan bahwa perkembangan pesantren tidak dapat dilepaskan dari kekuatan tradisi keilmuan, jaringan sosial, sanad keilmuan, dan kemampuan kelembagaan dalam merespons perubahan zaman. Dengan demikian, transformasi pesantren bukan berarti meninggalkan akar tradisi, melainkan mengembangkan warisan keilmuan agar tetap relevan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Keterlibatan ini sekaligus memperlihatkan hubungan antara pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Pengalaman pengabdian di pesantren tidak hanya menjadi aktivitas kelembagaan, tetapi juga sumber pengetahuan yang dapat diolah menjadi penelitian akademik dan didiseminasikan melalui forum ilmiah internasional.
Pesantren Maju Tanpa Tercerabut dari Akar Tradisi
Selain mempresentasikan paper, Muhammad Ali Rusdi Bedong juga mengikuti sejumlah rangkaian kegiatan, termasuk sesi paralel yang menampilkan kemampuan para mahasantri Ma’had Aly dari berbagai pesantren di Indonesia.
Ia memberikan perhatian khusus terhadap kemampuan para mahasantri dalam mempresentasikan hasil penelitian secara sistematis, metodologis, dan argumentatif. Menurutnya, hal tersebut merupakan potensi besar bagi masa depan pendidikan pesantren.
Tradisi penguasaan kitab kuning (turats) yang selama ini menjadi kekuatan pesantren perlu terus diperkuat dengan kemampuan metodologi penelitian, penulisan karya ilmiah, dan publikasi akademik. Para mahasantri tidak cukup hanya memiliki kemampuan membaca dan memahami kitab, tetapi juga perlu dibekali kemampuan menghasilkan pengetahuan yang dapat menjawab persoalan masyarakat kontemporer.
Pesantren harus maju tanpa tercerabut dari akar tradisinya. Penguasaan turats menjadi fondasi, sedangkan metodologi penelitian dan publikasi ilmiah menjadi instrumen untuk mengembangkan khazanah keilmuan Islam.
Menurutnya, potensi tersebut tidak hanya dimiliki satu atau dua pesantren, tetapi tersebar di berbagai Ma’had Aly di seluruh Indonesia. Jika mendapatkan ruang dan ekosistem akademik yang memadai, Ma’had Aly dapat menjadi salah satu pusat lahirnya ulama, intelektual, dan cendekiawan muslim yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus wawasan global.
Membawa Manfaat bagi Pengembangan al-Risalah Batetangnga
Keikutsertaan dalam MU’TAMAD 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai capaian akademik individual. Lebih dari itu, pengalaman dan jejaring keilmuan yang diperoleh diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengembangan Pondok Pesantren al-Risalah Batetangnga, khususnya dalam penguatan tradisi literasi, penelitian, publikasi ilmiah, tata kelola kelembagaan, dan peningkatan mutu pendidikan pesantren.
Bagi Muhammad Ali Rusdi Bedong, mengembangkan pesantren merupakan bagian dari pengabdian yang membutuhkan kesinambungan antara tradisi, keilmuan, dan inovasi. Pesantren memiliki kekuatan historis dan sosial yang tidak boleh hilang dalam proses transformasi.
Partisipasi dalam forum internasional di Pesantren Lirboyo ini menjadi momentum untuk terus mempertemukan pengalaman pesantren dengan dunia akademik, sekaligus memperluas kontribusi pesantren dalam pengembangan ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan peradaban dunia.
Sebab, pesantren tidak hanya mewariskan ilmu dari generasi ke generasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab melahirkan pemikiran, karya, dan peradaban yang memberikan kemanfaatan bagi umat dan bangsa. (rls)










