MAKASSAR, PIJARNEWS.COM--Ada harapan yang ditulis di atas selembar kertas kecil. Ada cita-cita yang mungkin terdengar sederhana. Ada nama profesi yang ditulis dengan tangan mungil, tetapi menyimpan mimpi yang begitu besar. Dan pada Sabtu pagi itu, puluhan harapan tersebut berkumpul menjadi satu langit.
Bukan langit yang terbentang di atas kepala, melainkan “Sky of Wishes”—langit harapan yang lahir dari tangan anak-anak Rumah Harapan Indonesia dalam kegiatan Bakti Sosial Dies Natalis ke-40 Universitas Bosowa.
Universitas Bosowa menghadirkan rangkaian kegiatan bakti sosial di Rumah Harapan Indonesia pada Sabtu (26/9/2026), sebagai bagian dari peringatan Dies Natalis ke-40. Kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, diisi dengan permainan, berbagi cerita, kegiatan edukatif, hingga penyerahan bingkisan kepada anak-anak Rumah Harapan Indonesia.
Sejak pagi, suasana telah dipenuhi keceriaan. Sapaan, tepuk tangan, dan tawa anak-anak menjadi pembuka perjumpaan yang sederhana, tetapi menghadirkan kehangatan yang tidak sederhana.
Kegiatan tersebut diikuti oleh panitia dan relawan Universitas Bosowa bersama anak-anak Rumah Harapan Indonesia. Hadir dalam kegiatan tersebut Ansurlawarlin, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Panitia Dies Natalis ke-40 Universitas Bosowa, Retno Ayu Kusumaningrum, S.M., M.Si., selaku Corporate Officer Strategic Management (COSM) Universitas Bosowa, serta Muh. Fitrah Ramadhan Umar, S.Psi., M.A./M.Si., bersama jajaran panitia dan relawan kegiatan.
Bakti sosial ini tidak dirancang sekadar sebagai agenda pemberian bantuan. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang untuk menciptakan pengalaman bersama—bermain, belajar, mendengarkan cerita, dan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengekspresikan harapan mereka.
Dalam sambutannya, Ansurlawarlin, S.Pd., M.Pd., selaku Ketua Panitia Dies Natalis ke-40 Universitas Bosowa, menyampaikan bahwa semangat berbagi menjadi bagian penting dari perjalanan Dies Natalis Universitas Bosowa.
“Dies Natalis bukan hanya menjadi momentum untuk merayakan perjalanan Universitas Bosowa, tetapi juga menjadi kesempatan untuk berbagi dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Hari ini kami ingin hadir bukan hanya membawa bingkisan, tetapi juga membawa kebahagiaan dan kebersamaan untuk adik-adik di Rumah Harapan Indonesia,” ujar Ansurlawarlin.
Pesan tersebut kemudian diwujudkan melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan anak-anak secara aktif. Mereka tidak hanya menjadi penerima, tetapi juga menjadi bagian utama dari kegiatan.
Anak-anak dibagi ke dalam beberapa kelompok yang masing-masing didampingi oleh panitia dan relawan. Suasana semakin cair ketika mereka mulai saling memperkenalkan diri dan mengikuti berbagai permainan.
Salah satu permainan yang dilakukan adalah “Mencari Profesi”. Dalam permainan ini, setiap kelompok mendapatkan tantangan untuk menemukan gambar profesi berdasarkan petunjuk yang diberikan. Anak-anak ditantang untuk bergerak cepat, berpikir tepat, dan bekerja sama dengan anggota kelompok.
Namun, sebagaimana pesan yang disampaikan panitia, kemenangan bukanlah tujuan utama.
Setiap anak diajak memahami bahwa keberanian untuk bermain, bekerja sama, mencoba, dan belajar bersama sudah menjadi sebuah kemenangan.
Menariknya, permainan tentang profesi kemudian menjadi jembatan menuju kegiatan yang lebih reflektif.
Setelah anak-anak diajak mengenal berbagai profesi, mereka kemudian mendapatkan kesempatan untuk menuliskan cita-cita dan harapan masing-masing melalui kegiatan “Sky of Wishes”.
Setiap anak menerima sticky note berbentuk awan atau bintang. Di atasnya, mereka menuliskan satu harapan yang ingin dicapai.
Ada yang ingin menjadi dokter. Ada yang mungkin ingin menjadi guru, polisi, atau profesi lainnya. Ada pula yang menuliskan harapan sederhana untuk keluarga dan orang-orang yang mereka sayangi.
Potongan-potongan kertas kecil tersebut kemudian ditempelkan pada sebuah kanvas hingga membentuk satu karya bersama: sebuah langit yang dipenuhi harapan.
Bagi Retno Ayu Kusumaningrum, S.M., M.Si., kegiatan tersebut menjadi salah satu bagian yang memiliki makna tersendiri karena memperlihatkan bahwa kegiatan sosial dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan keberanian anak dalam bermimpi.
“Kami ingin anak-anak merasakan bahwa mereka punya ruang untuk bermimpi dan menyampaikan harapannya. Mungkin yang ditulis hari ini hanya sebuah kata atau satu kalimat sederhana, tetapi kami percaya setiap harapan memiliki arti dan layak untuk didengarkan,” ungkap Retno.
Menurutnya, kegiatan seperti ini juga menjadi pengingat bagi seluruh pihak bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar.
“Kadang yang dibutuhkan adalah waktu untuk hadir, mendengarkan, bermain bersama, dan membuat seseorang merasa bahwa mereka tidak sendiri. Dari hal-hal sederhana seperti itulah kebersamaan dan kepedulian dapat tumbuh,” lanjutnya.
Setelah permainan dan penulisan harapan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan penyerahan bingkisan kepada anak-anak Rumah Harapan Indonesia.
Momen penyerahan bingkisan berlangsung dalam suasana hangat. Namun, jika ada satu hal yang terasa paling berharga dari pertemuan tersebut, mungkin bukanlah apa yang dibawa pulang oleh anak-anak.
Senyum yang muncul setelah permainan. Tawa yang pecah ketika bermain bersama. Keberanian seorang anak ketika menyebutkan cita-citanya. Dan selembar sticky note yang ditempelkan di atas kanvas sebagai pengingat bahwa sebuah mimpi pernah dituliskan pada hari itu.
Muh. Fitrah Ramadhan Umar, S.Psi., M.A./M.Si., selaku panitia kegiatan, menyampaikan bahwa interaksi bersama anak-anak menjadi bagian yang membuat kegiatan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar agenda sosial.
“Yang paling berkesan dari kegiatan ini adalah melihat bagaimana anak-anak begitu antusias ketika diajak bermain dan bercerita. Kami datang membawa sebuah kegiatan, tetapi kami justru pulang membawa banyak pelajaran tentang kebahagiaan, keberanian bermimpi, dan arti kebersamaan,” tuturnya.
Ia berharap semangat berbagi yang hadir dalam kegiatan tersebut dapat terus menjadi bagian dari perjalanan Universitas Bosowa.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai satu agenda Dies Natalis. Semoga semangat untuk hadir, berbagi, dan memberikan manfaat dapat terus menjadi bagian dari budaya kita,” tambahnya.
Kegiatan Bakti Sosial Dies Natalis ke-40 Universitas Bosowa di Rumah Harapan Indonesia kemudian ditutup dengan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pihak Rumah Harapan Indonesia, panitia, relawan, hingga anak-anak yang telah membuat suasana kegiatan menjadi begitu hangat.
Namun, barangkali kegiatan tersebut sebenarnya belum benar-benar berakhir.
Sebab sebagian dari kegiatan itu masih akan tinggal dalam ingatan: pada foto yang tersimpan, pada tawa yang sempat terdengar, dan terutama pada kanvas berisi puluhan harapan yang kini menjadi satu “Sky of Wishes.”
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, orang-orang dewasa yang hadir di sana juga sedang belajar sesuatu: bahwa sebuah harapan tidak membutuhkan kalimat yang panjang untuk menjadi berarti. Ia hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan percaya bahwa harapan itu layak diperjuangkan.
Di usia ke-40, Universitas Bosowa tidak hanya merayakan perjalanan. Universitas juga memilih untuk menengok ke luar, menyapa, berbagi, dan menanamkan kebaikan di tempat lain.
Karena pada akhirnya, Dies Natalis bukan hanya tentang menghitung berapa tahun sebuah institusi telah berdiri. Ia adalah tentang menghitung berapa banyak kehidupan yang pernah disentuh, berapa banyak senyum yang pernah dihadirkan, dan berapa banyak harapan yang ikut dinyalakan.
Dan di Rumah Harapan Indonesia, pada pagi 26 September itu, Universitas Bosowa mungkin tidak sedang mengubah dunia dalam satu hari.
Tetapi setidaknya, hari itu, beberapa anak belajar bahwa mimpi mereka pantas dituliskan. Bahwa suara mereka pantas didengar. Dan bahwa di suatu tempat, ada orang-orang yang bersedia berdiri bersama mereka, menatap langit yang sama, dan percaya bahwa suatu hari nanti—harapan itu akan menemukan jalannya untuk menjadi nyata. (adv)











