PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Kabut menyelimuti Kota Parepare, Sulawesi Selatan (Sulsel), dalam beberapa hari terakhir. BPBD mencatat sekitar 71 hektare lahan di wilayah tersebut terbakar sejak Juli hingga menjelang Oktober 2026. Sementara itu, kabut yang terlihat di Parepare diduga turut dipengaruhi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari luar daerah.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Parepare, Muhammad Rasdy Gery Runtu, mengatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan sejumlah instansi untuk memantau kondisi kabut asap dan menangani kebakaran lahan di wilayah setempat.
Menurut Rasdy, asap yang menyelimuti Parepare diduga tidak hanya berasal dari kebakaran di sekitar kota, tetapi juga terbawa angin dari wilayah lain.
“Kalau angin bertiup dari arah timur, maka asap yang masuk ke Parepare berasal dari Papua dan Maluku. Sementara kalau angin bertiup dari arah barat, berarti asapnya berasal dari daerah Kalimantan, tepatnya Nunukan,” ujar Rasdy dalam wawancara.
Dia mengatakan BPBD berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kesehatan, BMKG, serta petugas pemadam kebakaran untuk memantau perkembangan kondisi tersebut.
Rasdy menyebut kebakaran lahan di Kota Parepare sejak Juli hingga menjelang awal Oktober 2026 diperkirakan mencapai 71 hektare. Data tersebut masih perlu dipastikan melalui rekapitulasi resmi luas lahan yang terbakar.
Dia menjelaskan asap dari kebakaran lokal biasanya berangsur hilang setelah api berhasil dipadamkan. Namun, kabut yang masih terlihat di Parepare diduga juga dipengaruhi asap dari luar daerah, termasuk wilayah sekitar seperti Kabupaten Barru dan Sidenreng Rappang (Sidrap).
Berdasarkan pemberitaan detikSulsel pada 9 Oktober 2026, BMKG Sulawesi Selatan melaporkan kondisi udara kabur di Parepare dan Makassar. Saat itu, konsentrasi PM2.5 yang tercatat di Stasiun Klimatologi BMKG di Maros mencapai 85,3 mikrogram per meter kubik dan masuk kategori tidak sehat.
Angka tersebut merupakan hasil pengukuran di Maros, bukan pengukuran langsung di Kota Parepare.
Pada 10 Oktober 2026, BMKG kembali menyampaikan kualitas udara di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Kondisi itu diperkirakan berlangsung hingga 13 Oktober 2026 dan dikaitkan dengan sebaran asap karhutla dari sejumlah wilayah, termasuk Kalimantan, Maluku, dan Papua.
Meski demikian, sumber asap yang secara spesifik mencapai Parepare masih perlu dipastikan melalui analisis sebaran asap dan arah angin oleh BMKG.
BPBD mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, terutama ketika kabut asap terlihat semakin pekat. Warga juga disarankan menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
Masyarakat diminta mewaspadai kondisi panas dan kekeringan yang terjadi di Parepare. Upaya mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dapat membantu membatasi paparan polusi udara saat kualitas udara memburuk.
Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan, diimbau lebih berhati-hati. Jika memungkinkan, aktivitas fisik di luar ruangan sebaiknya dikurangi selama kondisi udara belum membaik.
Warga juga diharapkan mengikuti perkembangan informasi dari BMKG dan imbauan Dinas Kesehatan Kota Parepare untuk mengetahui kondisi kualitas udara serta langkah perlindungan yang perlu dilakukan.
Penulis: Amelia Sri Wahyuni












