• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Dari Pesantren Menuju Kepemimpinan, Pertahanan, Keamanan, dan Kemandirian Ekonomi Bangsa

Editor: Tim Redaksi
21 Oktober 2026
di Nasional, Opini, Pendidikan, Sulselbar

Oleh : Mahsyar Idris (Dosen IAIN Parepare/Ketua ICMI Orda Parepare)

OPINI, PIJARNEWS.COM — Peringatan Hari Santri Nasional pada Kamis, 22 Oktober 2026, merupakan momentum penting untuk merefleksikan kembali kontribusi santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Hari Santri bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan bentuk pengakuan negara terhadap perjuangan ulama dan santri dalam merebut, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan.

Secara historis, penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad 1945 yang dipelopori KH Hasyim Asy’ari. Resolusi tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam membangkitkan semangat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pengakuan negara kemudian diwujudkan melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 yang menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri, meskipun bukan hari libur nasional.

Peringatan Hari Santri tahun 2026 mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Melalui Surat Edaran Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026, pemerintah mengajak berbagai elemen bangsa untuk menyemarakkan peringatan tersebut. Tema ini menegaskan bahwa santri bukan hanya pewaris tradisi keilmuan Islam, melainkan juga kekuatan sosial yang memiliki tanggung jawab moral dan kebangsaan dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

BeritaTerkait

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

19 Oktober 2026
SMAN 5 Parepare Gelar Open House Virtual, Kenalkan Program Sekolah Unggul Garuda Transformatif

SMAN 5 Parepare Gelar Open House Virtual, Kenalkan Program Sekolah Unggul Garuda Transformatif

18 Oktober 2026
Wali Kota Parepare: Lulusan ITH Harus Berdampak bagi Masyarakat

Wali Kota Parepare: Lulusan ITH Harus Berdampak bagi Masyarakat

17 Oktober 2026

Jika pada masa perjuangan kemerdekaan para santri tampil di medan pertempuran untuk mempertahankan kedaulatan negara, kini pengabdian mereka mengalami transformasi. Santri hadir dalam berbagai bidang kehidupan, mulai dari pemerintahan, pendidikan, politik, pertahanan, kepolisian, hingga dunia usaha. Kenyataan ini sekaligus membantah anggapan bahwa pendidikan pesantren hanya mempersiapkan lulusannya menjadi pemuka agama.

Santri dalam Kepemimpinan Nasional

Sejarah kepemimpinan Indonesia memperlihatkan bahwa sejumlah tokoh nasional memiliki latar belakang pendidikan pesantren. KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Presiden keempat Republik Indonesia, merupakan salah satu contoh nyata. Pemikiran dan kepemimpinannya menunjukkan bahwa tradisi intelektual pesantren mampu berdialog dengan demokrasi, pluralisme, kebudayaan, dan kehidupan kebangsaan.

KH Ma’ruf Amin, Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2019-2024, juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren, termasuk Pesantren Tebuireng, Jombang. Demikian pula Prof. Mahfud MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, yang pernah memperoleh pendidikan di lingkungan pesantren di Madura.

Tokoh lainnya ialah Muhaimin Iskandar, alumni Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, Jombang; Prof. Nasaruddin Umar, Menteri Agama yang berlatar belakang pendidikan Pesantren As’adiyah, Sengkang; serta Raja Juli Antoni, Menteri Kehutanan yang pernah menempuh pendidikan di Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah, Garut.

Hidayat Nur Wahid dan Lukman Hakim Saifuddin juga merupakan tokoh nasional yang memiliki latar belakang pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor. Kehadiran tokoh-tokoh tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren dapat menjadi fondasi pembentukan karakter, kepemimpinan, kecerdasan sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Namun, keberhasilan seorang pemimpin tidak semata-mata diukur dari tingginya
jabatan yang dicapai, melainkan dari integritas, keteladanan, dan manfaat kepemimpinannya bagi masyarakat.

Santri dalam Pertahanan dan Keamanan.

Kontribusi santri terhadap pertahanan negara memiliki akar sejarah yang kuat. Resolusi Jihad 1945 menjadi bukti bahwa nilai-nilai keagamaan dan semangat nasionalisme dapat menyatu dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan bangsa.

Dalam perkembangan Indonesia modern, sejumlah tokoh militer juga dikenal memiliki pengalaman pendidikan pesantren. Di antaranya Jenderal TNI (Purn.) Dudung Abdurachman, mantan Kepala Staf Angkatan Darat, yang diberitakan pernah menimba ilmu agama di lingkungan Pesantren Buntet, Cirebon.

Di Sulawesi Selatan, kiprah alumni Pesantren Modern IMMIM Putra Makassar juga menarik perhatian. Laksamana Pertama TNI Abdul Rivai Ras dikenal memiliki keterkaitan dengan lingkungan pendidikan pesantren tersebut. Demikian pula Brigadir Jenderal TNI Muhammad Risal Salewangan, yang disebut sebagai alumni IMMIM angkatan 1993.

Pada jenjang perwira muda, Letnan Dua Ahmad Naufal dikenal memiliki latar belakang pendidikan di Pesantren Ar-Risalah Lirboyo, Kediri, sebelum meniti karier pengabdian di lingkungan TNI Angkatan Laut.

Kiprah mereka memperlihatkan bahwa nilai kedisiplinan, kepemimpinan, kemandirian, dan tanggung jawab yang ditanamkan dalam pendidikan pesantren memiliki relevansi dengan pembentukan karakter prajurit. Namun, keberhasilan karier militer tetap menuntut kompetensi profesional, pendidikan khusus, serta integritas pribadi.

Dalam institusi kepolisian, sejumlah perwira juga memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Di antaranya Jenderal Polisi (Purn.) Badrodin Haiti, mantan Kapolri, yang disebut pernah memperoleh pendidikan agama di lingkungan Pesantren Baitul Arqom, Jember. Tokoh lainnya ialah Inspektur Jenderal Polisi (Purn.) Abdul Gofur, yang dikenal memiliki hubungan dengan tradisi pendidikan pesantren di Kaliwungu, serta Brigadir Jenderal Polisi Muhammad Sabilul Alif, yang memiliki latar belakang pendidikan Pesantren Langitan, Tuban.

Berdasarkan data Staf Sumber Daya Manusia Polri yang dipublikasikan pada November 2024, sebanyak 265 anggota Polri berlatar belakang pendidikan santri berhasil direkrut sepanjang periode 2021-2024, melalui jalur Tamtama, Bintara, dan Akademi Kepolisian. Data tersebut menunjukkan bahwa kesempatan bagi alumni pesantren untuk mengabdi melalui institusi penegakan hukum semakin terbuka. Akan tetapi, nilai kejujuran, keadilan, amanah, dan pelayanan kepada masyarakat harus tetap menjadi ukuran utama keberhasilan pengabdian mereka.

Santri dan Kemandirian Ekonomi

Kiprah santri tidak terbatas pada pemerintahan, pertahanan, dan keamanan. Sejumlah alumni pesantren juga menunjukkan kemampuan mengembangkan kewirausahaan, membangun usaha produktif, serta menciptakan lapangan pekerjaan.

H. Masnuh Masrur Arif atau Abah Masrur, yang disebut memiliki latar belakang pendidikan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, dikenal berkecimpung dalam industri logam dan penyediaan kebutuhan infrastruktur.

Contoh lainnya adalah H. Kholid Mustofa, pengembang Kampung Coklat di Blitar, Jawa Timur. Setelah mengalami kegagalan usaha peternakan ayam akibat wabah flu burung pada 2004, ia berupaya mengembangkan potensi tanaman kakao hingga melahirkan kawasan wisata edukasi Kampung Coklat pada 2014.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan. Ketekunan, kreativitas, kemampuan membaca peluang, dan keberanian menghadapi risiko merupakan modal penting dalam membangun kemandirian ckonomi.

Tokoh lain yang disebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren ialah Ustaz Sevi Hiri Jiliyaman, yang berkecimpung dalam usaha makanan dan minuman, serta Muhammad Turmudi, pengusaha kerajinan batu alam dan mosaik yang mengembangkan usahanya hingga menjangkau pasar ekspor.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjuangan. Ketekunan, kreativitas, kemampuan membaca peluang, dan keberanian menghadapi risiko merupakan modal penting dalam membangun kemandirian ekonomi.

Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren memiliki potensi membentuk wirausahawan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan pribadi, tetapi juga mengedepankan kejujuran, kerja keras, kepedulian sosial, dan kemaslahatan masyarakat.

Dari Tradisi Pesantren Menuju Indonesia Emas

Kiprah santri dalam berbagai bidang kehidupan nasional menunjukkan bahwa pesantren merupakan salah satu lembaga strategis dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Pendidikan pesantren tidak hanya menekankan penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak, kedisiplinan, kesederhanaan, kemandirian, dan penghormatan kepada guru.

Al-Qur’an dalam QS. al-Mujadilah [58]: 11 menegaskan bahwa Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Ayat ini mengandung pesan bahwa ilmu pengetahuan harus berjalan beriringan dengan keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial.

Menghadapi perkembangan teknologi digital, kecerdasan artificial, serta perubahan ekonomi global, pesantren dituntut terus meningkatkan kualitas pendidikan tanpa kehilangan identitas dan tradisi keilmuannya. Penguatan kompetensi sains, teknologi, kewirausahaan, dan kepemimpinan menjadi kebutuhan penting agar santri mampu berperan aktif dalam pembangunan bangsa.

Oleh karena itu, peringatan Hari Santri hendaknya tidak berhenti pada upacara dan kegiatan seremonial, tetapi menjadi momentum evaluasi sekaligus penguatan komitmen pengabdian. Santri yang menjadi pejabat harus menjaga amanah; yang menjadi prajurit mempertahankan kedaulatan negara; yang menjadi polisi menegakkan keadilan; dan yang menjadi pengusaha membangun perekonomian yang jujur, produktif, serta berkeadaban.

Keberhasilan santri sesungguhnya tidak ditentukan oleh seberapa tinggi jabatan yang diraih, seberapa besar kekuasaan yang dimiliki, atau seberapa banyak kekayaan yang dikumpulkan, melainkan oleh sejauh mana ilmu, iman, dan akhlaknya memberikan manfaat bagi kehidupan
masyarakat. Pada akhirnya, santri yang berhasil bukan hanya mereka yang mampu tampil di pentas nasional, melainkan mereka yang tetap membawa dan mengamalkan nilai-nilai pesantren ketika berada di pentas nasional.

Di situlah hakikat pengabdian santri kepada agama, bangsa, dan negara. Selamat memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026. Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas. (*)

Editor : Alfiansyah Anwar

Terkait: Hari SantriHARI SANTRI NASIONALICMI Orda ParepareKota ParepareMahsyar Idris

Berita Terkait

Bupati Sidrap Siapkan Kegiatan Akbar untuk 12 Ribu Penghafal Al-Qur’an

Bupati Sidrap Siapkan Kegiatan Akbar untuk 12 Ribu Penghafal Al-Qur’an

Editor: Tohir Muhammad
21 Oktober 2026

...

ESAI : Kijang Bagai Emas

ESAI : Kijang Bagai Emas

Editor: Alfiansyah Anwar
18 Oktober 2026

...

ICMI Parepare Bahas Bisnis Digital dan Pengkaderan Pemuda

ICMI Parepare Bahas Bisnis Digital dan Pengkaderan Pemuda

Editor: Tim Redaksi
2 Oktober 2026

...

Berita Populer

  • Akibat Kabut Asap Sekolah Daring 2 Hari di Parepare, KBM Tatap Muka Dievaluasi

    Akibat Kabut Asap Sekolah Daring 2 Hari di Parepare, KBM Tatap Muka Dievaluasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • ITH Parepare Gelar Wisuda Perdana, 79 Mahasiswa Resmi Sandang Gelar Sarjana

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejumlah Pejabat Pemkot Parepare Bergeser, Ini Nama dan Jabatan Barunya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sempat Menganggur Sebulan, Erni Bangkit Usai Dapat Inspirasi dari Media Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi