• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI: Dilema Kebiri Kimia dalam Penegakan Hukum: Perspektif Keadilan dan Etika dalam Hukum Pidana Islam

Oleh : Dr Hj Saidah, MH (Dosen Prodi HPI IAIN Parepare)

Editor: Tim Redaksi
18 Januari 2024
di Opini
Dr Hj Saidah, MH
(Dosen Prodi HPI IAIN Parepare)

Dr Hj Saidah, MH (Dosen Prodi HPI IAIN Parepare)

OPINI — Penerapan hukuman kebiri di Indonesia merupakan topik kontroversial yang menyentuh ranah moral, hukum, dan etika. Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan kebiri kimia menjadi salah satu langkah pemerintah Indonesia untuk menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak. Namun, jika dilihat dari perspektif hukum pidana Islam, kebijakan ini menimbulkan perdebatan yang mendalam, baik dari sisi keadilan maupun efektivitasnya dalam mencegah kejahatan seksual.
Dalam Islam, hukuman harus berlandaskan pada prinsip keadilan, perlindungan, dan pembinaan.

Hukum pidana Islam mengedepankan konsep ta’zir, yaitu hukuman yang ditentukan oleh hakim berdasarkan kebijakan yang dianggap sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Dalam konteks kekerasan seksual, pelaku bisa dikenakan hukuman yang berat, tergantung pada dampak kejahatan tersebut terhadap korban.

Namun, apakah kebiri kimia sebagai hukuman masuk dalam ranah hukuman ta’zir yang diperbolehkan dalam hukum Islam adalah hal yang perlu dipertanyakan.

Hukum Islam juga mengedepankan prinsip pencegahan (sadd al-dhara’i), yaitu tindakan yang diambil untuk mencegah terjadinya kejahatan lebih lanjut. Jika kebiri kimia dianggap dapat mencegah pelaku untuk mengulangi perbuatannya, maka secara teori, hukuman ini bisa sesuai dengan prinsip tersebut.

BeritaTerkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

24 September 2026
Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

20 September 2026
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

16 September 2026
Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

29 Agustus 2026

Namun, dalam praktiknya, efektivitas kebiri kimia masih diperdebatkan. Banyak pakar medis yang meragukan bahwa kebiri kimia benar-benar mampu mencegah perilaku seksual menyimpang karena masih ada faktor psikologis dan sosial yang mempengaruhi perilaku pelaku.

Selain itu, dari sudut pandang etika Islam, hukuman kebiri mungkin bertentangan dengan prinsip martabat manusia. Islam sangat menghargai tubuh manusia sebagai ciptaan Allah yang harus dihormati. Tindakan yang merusak integritas fisik seseorang, seperti kebiri, bisa dianggap melanggar prinsip dasar ini. Hukuman dalam Islam seharusnya bertujuan untuk memberi efek jera dan pembinaan, bukan semata-mata merusak fisik pelaku.

Persoalan lain yang muncul adalah tentang konsep istihsan dalam hukum Islam, yaitu memberikan solusi yang lebih baik berdasarkan pertimbangan manfaat yang lebih besar. Dalam kasus kekerasan seksual, kebijakan kebiri bisa dianggap sebagai tindakan darurat untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang lebih besar.

Namun, solusi ini harus dibandingkan dengan alternatif hukuman lain yang mungkin lebih efektif dan manusiawi, seperti rehabilitasi psikologis atau pengawasan ketat terhadap pelaku setelah menjalani hukuman penjara. Ada juga pertanyaan tentang hak-hak pelaku dalam Islam.

Meskipun pelaku kejahatan seksual telah melakukan tindakan yang sangat tercela, hukum Islam tetap memberikan hak-hak dasar kepada mereka, termasuk hak untuk diperlakukan dengan adil dan manusiawi. Kebiri, sebagai bentuk hukuman yang permanen dan tidak bisa dipulihkan, menimbulkan pertanyaan apakah hukuman ini adil dan proporsional dengan kejahatan yang dilakukan, terutama jika pelaku sudah menjalani hukuman penjara atau hukuman fisik lainnya.

Dalam konteks syariah, hukuman untuk pelaku zina, pemerkosaan, atau pelecehan seksual sangat jelas. Namun, penerapan hukuman kebiri bukan bagian dari ketentuan yang secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur’an atau hadits. Ini membuat kebijakan ini berada dalam wilayah ijtihad, di mana ulama dan hakim harus menggunakan pertimbangan mereka untuk memutuskan hukuman yang tepat sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.

Selain itu, perdebatan mengenai kebiri juga mencerminkan adanya perbedaan pandangan antara penerapan hukum syariah dan hukum positif di Indonesia. Meskipun Indonesia bukan negara yang sepenuhnya menerapkan syariah, banyak nilai-nilai Islam yang diadopsi dalam sistem hukum nasional. Perlu adanya dialog yang lebih mendalam antara para ulama, pakar hukum, dan pemerintah untuk menemukan jalan tengah yang bisa memenuhi tuntutan keadilan, baik dalam pandangan Islam maupun hukum positif.

Secara keseluruhan, penerapan kebiri di Indonesia menimbulkan banyak pertanyaan dari perspektif hukum pidana Islam. Meskipun tujuannya adalah untuk melindungi korban dan mencegah kejahatan, hukuman ini harus dipertimbangkan lebih matang, baik dari segi keadilan, efektivitas, maupun etika.

Dengan melakukan kajian yang mendalam dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, diharapkan solusi yang diambil dapat lebih sejalan dengan nilai-nilai Islam dan hak asasi manusia.

Pada akhirnya, hukum dalam Islam menekankan pentingnya keadilan yang seimbang antara hak-hak korban dan pelaku. Hukuman kebiri, meskipun bertujuan untuk memberi efek jera, harus selalu dipertimbangkan dengan cermat agar tidak melanggar prinsip-prinsip dasar hukum Islam yang mengutamakan kemanusiaan dan keadilan. (*)

Terkait: Opini

Berita Terkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Editor: Tim Redaksi
24 September 2026

...

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Editor: Tim Redaksi
20 September 2026

...

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
29 Agustus 2026

...

Berita Populer

  • Dukcapil Parepare Imbau Warga Manfaatkan Layanan Resmi, Tak Perlu Calo

    Dukcapil Parepare Imbau Warga Manfaatkan Layanan Resmi, Tak Perlu Calo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanamkan Kedisplinan dan Nilai Agama, Tiga Sekolah di Parepare Ini Kompak Gelar Salat Duha Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaga Produksi Pertanian, Bupati Pinrang Tinjau Panen hingga Pompanisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAHMI Perjuangan Gelar Dialog Nasional, Mengurai “Kegelapan” Menuju Indonesia Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi