• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 8 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI: Kampus Mengajar dan Mental Pembelajar

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
22 Juni 2024
di Opini
OPINI: Kampus Mengajar dan Mental Pembelajar

Oleh: Rizki Putra Dewantoro, M.Si (Kader Muhammadiyah, Anggota Rumah Produktif Indonesia)

Dunia kian terbuka bagi mereka yang mau bertebaran di seluruh penjurunya. Berbagai peluang selalu hadir untuk dia yang selalu berusaha. Termasuk semangat kerja sama dan berkolaborasi menjadi kunci. Dunia yang semakin terbuka meniscayakan pendekatan lintas ilmu dan keahlian. Tak terkecuali dalam memajukan pendidikan.

Sepertinya memang berat untuk mengangkat derajat pendidikan di tanah air. Hasil Program for International Student Assessment (PISA) 2022 belum menunjukkan kabar gembira. Kita memang bisa memaklumi karena adanya terpaan pandemi. Peringkat Indonesia memang naik, namun secara skor PISA kita menurun. Tentunya lebih baik bersama menyalakan lilin daripada mengutuk kegelapan.

Kualitas pendidikan erat kaitannya dengan kompetensi guru. Sebelum berbicara tentang kompetensi, jumlah pahlawan tanpa tanda jasa itu perlu diperhatikan saksama. Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), seperti dilansir Antara, Indonesia kekurangan sebanyak 1,3 juta guru pada 2024. Hal ini disebabkan dengan banyaknya guru yang pensiun. Rata-rata jumlah yang pensiun mencapai 70.000 guru per tahun. Sementara itu, profesi guru kurang digemari oleh generasi muda. Oleh karena itu, Indonesia berpotensi darurat kekurangan guru.

Berita Terkait

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Untuk jumlah lembaga pendidikan sendiri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat 399.367 unit sekolah di Indonesia pada tahun ajaran 2022/2023. Jumlah itu terdiri dari 93.385 TK, 31.049 RA, 148.975 SD, dan 26.503 MI. Sementara itu untuk SMP ada 41.986 yang tak kurang dari setengahnya SD. Untuk MTs ada 19.150, 14.236 SMA, 9.826 MA, dan 14.265 SMK.

Masih berdasarkan data BPS, rasio murid-guru pada tahun ajaran 2022/2023 secara nasional berada dalam batas ideal meskipun mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya. Rasio yang tidak ideal ditemukan di Provinsi Jawa Barat sebesar 20,91 dan Banten sebesar 20,85. Selain itu, dengan rasio 10,03, Provinsi Aceh menjadi provinsi dengan rasio murid-guru terendah. Idealnya seorang guru pada jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA bertanggung jawab atas 20 orang murid. Untuk jenjang SMK, seorang guru bertanggung jawab atas 15 orang murid. Hal ini berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru.

Dalam menarik minat untuk terlibat kegiatan belajar mengajar para mahasiswa dapat mengikuti Kampus Mengajar. Berbagai kisah menarik muncul sejak digulirkannya Kampus Mengajar. Mahasiswa PPKN Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menjadi bagian dari Kampus Mengajar yang ternyata mendapat antusiasme sangat tinggi sejak angkatan pertama sejak 2021 silam. Karena dalam pembukaan Kampus Mengajar terdapat sekitar 50.000 pendaftar dan yang diterima hanya 15.000 peserta di seluruh Indonesia. Saat ini Program Kampus Mengajar sudah mencapai Angkatan 7.

Kampus Mengajar yang merupakan bagian dari Merdeka Belajar Kampus Merdeka. Diharapkan peserta Kampus Mengajar dapat berkontribusi sebagai agen perubahan dalam tantangan pendidikan. Program ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa perguruan tinggi untuk mengembangkan aktivitas-aktivitas di luar perkuliahan.

Para pejuang pendidikan tersebut melakukan pengabdiannya selama tiga bulan. Siti Komariah, Mahasiswa Peserta Kampus Mengajar di SDN Sungai Hitam, Kabupaten Musi Rawas, Sumatera Selatan. Kedua, Elvi Nurhidayati Mahasiswa Peserta Kampus Mengajar di SDN 2 Sumber Katon, Lampung Tengah. Mengikuti Kampus Mengajar, menjadi pengalaman yang sangat berharga, mulai sejak dalam proses pendaftaran saja sudah menjadi perjuangan tersendiri.

Terlebih ketika masa pandemi, para mahasiswa kembali ke daerah asalnya masing-masing bisa mengabdi di tempatnya tersebut. Mahasiswa bukan hanya mendalami tentang teori pengajaran di kampus melainkan bisa menerapkannya di lapangan. Di sekolah penempatannya Siti dominan membantu di bagian administrasi. Serta turut bangga dapat membantu sekolah yang berada di daerah 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal).

Sementara itu, Elvi Nurhidayati lebih banyak membantu pengajaran literasi dan numerasi di sekolah penempatannya. Selain itu, juga membantu sekolah untuk beradaptasi dengan teknologi meskipun di tengah keterbatasan infrastruktur. Kampus Mengajar memiliki tujuan dalam penyetaraan dan mengembangkan pendidikan yang ada di Indonesia. Perguruan Tinggi berkolaborasi dengan pemerintah menjangkau sekolah yang membutuhkan pertolongan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bangsa.

Di tahun yang sama, Prodi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), menyelenggarakan Forum Grup Discussion (FGD) dan Refleksi Kampus Mengajar. Eka Sahara, peserta Kampus Mengajar mengaku harus melewati jalan setapak yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hal itu dilakukannya untuk menuju ke sekolah tempat ia mengajar, yakni SDN 4 Caringin Kabupaten Garut Jawa Barat.

Eka menempuh perjalanan 2 jam dari rumahnya dengan motor, dan menitipkan motornya di sebuah rumah lalu meneruskan berjalan kaki menembus sawah dan ladang selama 30 menit untuk mencapai sekolah. Meski harus berjalan kaki, semua dia lakukan dengan senang hati bersama teman sekelompoknya yang sebagian besar mahasiswa keguruan dari UPI Bandung. Eka tersadarkan bahwa masih banyak perjuangan dan pengorbanan yang harus ditempuh oleh anak didik di negeri ini demi mengenyam pendidikan. Kampus Mengajar memberikan pengalaman itu untuk masa depannya.

Mewakili mitra sekolah, Kepala Sekolah SDN 3 Prigi Sigaluh Kabupaten Banjarnegara Sutaryo bahkan terharu. Keterlibatan mahasiswa Kampus Mengajar mampu membantu dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah, baik dalam kegiatan pembelajaran maupun non pembelajaran.

Di sisi lain, sebagai pemangku kebijakan di tingkat pusat Mendikbudristek Nadiem telah mendengar cerita dan banyak testimoni dari para alumni Kampus Mengajar tentang semangat dan perjuangan mereka dalam membantu terwujudnya pembelajaran yang lebih memerdekakan di sekolah-sekolah terpencil. Dedikasi tersebut telah membuahkan hasil yang nyata.

Pemulihan pembelajaran yang jauh lebih cepat tercermin dari peningkatan peringkat literasi dan numerasi Indonesia dalam ranking PISA. Salah satunya adalah kontribusi seluruh mahasiswa alumni Kampus Mengajar yang ikut meningkatkan inovasi pembelajaran literasi dan numerasi di sekolah penugasannya masing-masing. Seperti yang telah ditunjukkan oleh peserta Kampus Mengajar dengan mental sebagai pembelajar. (*)

Terkait: OpiniOpini Pendidikan

TerkaitBerita

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Februari 2026

...

Ramadan 1447H

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

Brimob Parepare Ajak 200 Anak Yatim Buka Puasa Bersama dan Doa untuk Negeri

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

BeritaTerkini

Wali Kota Parepare dan Kapolres Jajal Lapangan Padel Royal Metro Sky

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Resmikan Masjid Anas Bin Malik dan SIT An Naas, Tasming Hamid Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
7 Maret 2026

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan