• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 15 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI : Rindu Cium Tangan Guru

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
22 Mei 2020
di Opini
Hairil

Oleh : Hairil M Pd (Guru SMP Negeri 9 Parepare)

OPINI–Pemerintah hentikan Ujian Nasional (UN) setahun lebih cepat dari rencana 2021. Penghapusan UN, mencegah penyebaran wabah Covid19. Kebijakan itu, disambut suka ria sebagian peserta didik.

“Yes, tak ada lagi Ujian Nasional,” kata seorang anak didik yang duduk di bangku kelas sembilan Sekolah Menengah Pertama (SMP), usai membaca sebuah berita di media online, sambil tertawa terbahak.

Sang anak tak menyadari, penghapusan UN, lebih cepat akibat penyebaran virus mematikan itu, membuat suasana tidak menyenangkan bagi dirinya, orang tua, dan guru.

Setelah tiga bulan dirumahkan, ia baru sadar bahwa dirinya bersama jutaan anak didik di Indonesia yang juga angkatan 2020, angkatan pertama yang tak merasakan “nikmatnya” UN.

Mereka tak merasakan diawasi pengawas UN yang berintegritas, mampu duduk di kursi selama dua jam, hanya memastikan UN jujur dan berintegritas.

Berita Terkait

Dua Figur Pendidik Asal Sidrap Wakili Sulsel pada Ajang Nasional Apresiasi GTK 2025

Jalin Keakraban Guru-Siswa, SMKN 1 Pinrang Gelar ‘Kudapan Bersama’

Tasming Hamid Dorong PGRI Parepare Jadi Mitra Strategis Pemerintah untuk Majukan Pendidikan

34 Mahasiswa PPG FKIP UMPAR Resmi Sandang Gelar Guru Profesional

Tak ada lagi guru yang datang beridiri di pagi buta di depan gerbang sekolah, menyambutnya dengan senyum. Tak ada lagi memberi salam dan nasihat pagi yang membuat jiwanya tenang.

Tak ada lagi, merapikan bajunya yang kurang rapi, tidak ada lagi menanyakan kabarnya dan orang tuanya di rumah. Tak ada lagi cium tangan yang penuh keberkahan.

Tak ada lagi apel pagi, tak ada lagi baca buku massal, mengaji bersama, salat Duha berjemaah di halaman sekolah yang rutin digelar setiap Kamis.

Tak ada lagi belajar bersama di kelas, tak ada lagi diskusi, tak ada lagi presentasi, tak ada lagi ribut-ribut yang menggangu guru mengajar di ruang sebelah, tak ada lagi cerita sahabat dan wejangan guru yang membuat kami selalu optimis menggapai masa depan.

Tak ada lagi marah-marah dari guru karena kami tak mau mendengar nasihatnya. Kini kami mulai rindu masa-masa itu. Rindu cium tangan guru.

Kini, saya bersedia dimarahi dan mau menerima nasihat guru. Kami rindu mimik wajahnya yang ikhlas menasihati, memuji dan memarahi kami.

Selama tiga bulan, kami dirumahkan, belajar lewat daring. Hanya sapaan tertulis, samangat pagi. Jaga kesehatan, selalu di rumah, dan selalu berdoa, menjadi penyemangat di kala kami baru bangun dari tidur.

Kami mulai bosan belajar lewat daring, tak ada pertemuan tatap muka, kami tak bisa bercengkrama dan bermain lagi bersama teman-teman sebaya. Saya sadar, kami belum terbiasa belajar via daring.

Hanya kata-kata yang selalui diuntai di kolom komentar google classroom yang telah disiapkan guru agar kami bisa belajar dengan baik, meski sangat terbatas.

Kami juga diwajibkan masuk di group WhatShapp (WA) untuk sekadar saling menyapa atau video call, jika kuota internet cukup.

Orang tua harus harus memiliki profesi ganda, menjadi guru bagi anak-anaknya. Merasakan bagaimana susahnya menjadi guru.

Selain itu, orang tua wajib menyisihkan budget tambahan, membeli kuota. Lalu, menunggu jaringan internet bersahabat. Saat jaringan tak bersahabat, anak dan orang tua dibuat pusing tujuh keliling.

Kini kami rindu suasana di sekolah. Saya sadar lebih baik belajar di sekolah dibandingkan di rumah. Di sekolah, bisa bermain dan belajar bersama teman. Meski kami sering buat susah guru.

Guru kami selalu mengajak manfaatkan kesempatan dan waktu untuk belajar dan bermain bersama. Kini kami merasakan rindu ingin bertemu dan bertatap muka. Tapi, itu hanya asa, biarlah menjadi hasrat dan rindu.

Rindu itu harus memenuhi syarat yaitu jarak dan waktu. Bahkan guruku, pernah membuat rumus rindu. Rindu itu berbanding lurus waktu dan jarak.

“Makin besar waktu dan jarak maka rindunya kian besar,” katanya, tertawa menghibur diri.

Kami berharap, wabah penyakit Covid-19 telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, dan menjangkiti ratusan ribu warga, termasuk di Negeri Zambrut Khatulistiwa, segera berlalu. Kembalilah ke asalnya.

Namun, di balik wabah ini, kami mendapat hikmah dan pelajaran. Kami paham apa itu Virus Corona. Kami mengetahui mengapa penyakit ini kerap disebut sebagai Corona.

Perbedaan mendasar antara Corona dan Covid-19 ialah soal pelabelannya. Corona, merupakan nama virusnya, sedangkan Covid-19 ialah nama resmi untuk penyakit yang disebabkan oleh virus Corona.

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO secara resmi menamai penyakit virus Corona yang pertama kali diidentifikasi di Cina pada 31 Desember itu dengan nama Covid-19.

Covid-19 yaitu singkatan dari Corona Virus Disease. Penamaan ini menghindari referensi ke lokasi geografis tertentu, spesies hewan atau sekelompok orang sesuai dengan rekomendasi internasional untuk penamaan agar menghindari stigmatisasi.

Sejak Virus Corona mewabah, saya mengerti makna hidup bersih dan sehat. Selalu berkumpul bersaama keluarga, belajar dan beribadah di rumah.

Selama ini, kita belum manfaatkan pertemuan dan tatap muka di kelas dengan maksimal. Saat ini, kami ingin bertatap muka, tapi harus berjauhan. Khawatir muncul saling curiga, apalagi ada yang batuk dan bersih. Lebih baik di rumah.

Kini, kami bersiap memasuki fase kedua, dirumahkan. Kami belajar lewat daring, guru kami racin mengecek posisi kami. Ia meminta dikirimkan lokasi kami via google map. Mereka ingin memastikan kami berada di rumah.

“Tapi kalau boleh minta, jangan terlalu banyak tugas. Saya khawatir banyak temanku yang stres dan sakit. Esensi dirumahkan, agar kita sehat dan terhindar dari Virus Corona,” katanya berharap.

Mari berdoa agar mahluk bernama Korona kembali ke habitat aslinya. Manusia bukan inangnya Corona, agar anak didik bisa belajar dengan riang di kelas.(*)

Terkait: Covid-19GuruUN

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

BeritaTerkini

Lurah dan Ketua PKK Antang Pantau Pasar Murah Pemkot

Editor: Muhammad Tohir
15 Maret 2026

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

Liga Ramadan 2026 Berakhir, Sekda Parepare: Jaga Semangat Pembinaan

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan