• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Opini: Wali Kota, Matilah!

Editor: Ibrah La Iman
28 Januari 2018
di Opini
Tahun politik tiba. Bapak akan dapat baju kaus bergambar. Ibu mendapat lebih banyak undangan menghadiri pengajian atau majelis dzikir. Pintu dan kaca jendela rumah mulai dijejali stiker berisi nama, foto dan slogan-slogan menarik. Laksana kolom iklan pada koran. Sementara, di sejumlah pinggir dan sudut simpang jalan terserak baliho dan spanduk deklarasi kandidat wali kota jauh waktu sebelumnya.
Parepare, 1955, Pemilihan Umum pertama dilaksanakan. Waktu itu, partai dan para aktor politik berkampanye dengan memasang spanduk, pamflet, dan brosur pada pohon, tiang listrik, dan dinding rumah warga. Bentuk kampanye yang sama hingga kini. Mungkin, kandidat wali kota kita saat ini memang miskin daya kreatif. Itu membuat saya dongkol.

Kampanye Anda tahu, pada prinsipnya adalah mengkomunikasikan sesuatu. Sudah tentu, berharap memengaruhi orang banyak.

Memasang foto pada baliho atau spanduk di pinggir dan sudut simpang jalan hanya mengotori kota. Itu menurut sejumlah politikus. Saya sependapat dengan mereka. Memang apa yang bisa diberikan oleh foto yang mejeng seperti … di pinggir jalan? Sama sekali, tidak menunjukkan kualitas seorang wali kota apalagi gagasannya. Hanya pedagang kaki lima berusia lanjut saja yang barangkali dapat kita temui kini memandang foto baliho kandidat wali kota. Lumayan, buat dinding warung, pikirnya mungkin saja.

Begitu pun dengan strategi memasang stiker di pintu dan jendela rumah. Biasanya ini dilakukan di tengah malam oleh tim pendukung politisi saat penghuni rumah sedang di ranjang. Barangkali mereka tidak pernah merasakan, juga membayangkan bagaimana repotnya mengelap jendela dan pintu di malam-malam hari raya.

Dan hal paling konyol yang sering calon wali kota lakukan saat berkampanye adalah berbagi baju kaus bergambar foto mereka. Syukur, jikalau mereka terpilih, juga selama menjabat dikenang baik. Bagaimana kalau tidak? Siapa yang mau memakainya coba? Jadi lap barangkali pun enggan!

BeritaTerkait

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

24 September 2026
Senyum Di Balik Truk Batu Bara

Senyum Di Balik Truk Batu Bara

20 September 2026
Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

Moderasi Beragama di Ruang Digital: Menjaga Perbedaan di Tengah Derasnya Informasi

16 September 2026
Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

Politik Viral dan Krisis Kepercayaan Publik

29 Agustus 2026

Di zaman now politikus semestinya melawan kampanye ala nenek moyang. Nenek moyang belum mengenal internet, ponsel pintar, apalagi media sosial. Para kandidat wali kota seharusnya bertarung secara gagasan. Mereka bisa memanfaatkan pengguna ponsel pintar yang lebih banyak tunduk ketimbang bercakap hadap-hadapan. Bukan pamer-pameran gaya foto laksana model iklan pasta gigi, jualan kopiah, jas, dan lain sebagainya.

Bertarung secara gagasan akan lebih mudah menarik orang untuk membaca, lalu menganalisis, mengkritisi, dan mendialogkannya. Keterbukaan dalam ini wajib. Toh, pemilih didominasi oleh orang-orang yang sudah mampu membaca bukan.

Sebagai pemilih, kita hanya perlu tahu sedikit hal tentang riwayat kandidat wali kota. Ini mudah. Informasi dapat ditemukan di sekitar tempat tinggal, keluarga, sekolah, teman, dan organisasi. Kita harus sedikit lebih aktif memang!

Sebaliknya, calon wali kota yang harus tahu banyak dan banyak tahu hal tentang kita yang akan dipimpinnya. Harus tahu kebutuhan kita sebagai masyarakat. Lingkungan tempat tinggal, pendidikan, pekerjaan, dan perlakuan hukum misalnya. Bukan rajin menghadiri majelis zikir yang secara temporal. Bukan menyantuni fakir, anak yatim, dan korban bencana alam untuk bahan berita pencitraan. Hal-hal seperti itu tidak layak diinformasikan. Sebab, tangan kiri tanpa diberi tahu akan tahu. Orang baik melakukannya secara rahasia.

Dengan menghimpun pengetahuan ihwal masyarakat yang hendak dipimpin, sang calon selanjutnya dapat mengemas visi dan misi politisnya—mengutamakan kepentingan masyarakat. Barang tentu, pekerjaan ini tidak mudah. Ia mesti ripuh menampung, memilah, dan mengutamakan hajat orang banyak secara realistis. Kecakapan menjadi makhluk meruang inilah yang mungkin dapat menghindarkan kepala daerah terjebak dalam nafsu kekuasaaan. Dengan kata lain, seorang wali kota harus membunuh ego kekuasaan dan pemuasan individualnya. Memperjuangkan kepentingan masyarakat seperti isi khotbah. Kalimat sedetik yang lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.

Pemasangan alat peraga tidak dapat memberikan pendidikan politik bagi masyarakat. Hal serupa juga terjadi pada surat suara pemilihan. Lagi-lagi, kita hanya dihadapkan pada foto, bukan gagasan calon wali kota. Mengapa? Sebagai catatan, membaca lebih mudah merangsang kesadaran menentukan pilihan.

126.511 orang Parepare memiliki hak pilih. Itu data bulan Desember 2017.  Untuk memilih wali kota yang baik, Anda harus tahu tentangnya. Apa yang ia perjuangkan? Ke mana arah gagasannya? Dan mengapa ia mengarah dan memperjuangkan idenya?

Sejumlah jawaban atas pertanyaan tersebut di atas harus termaktub dalam strategi kampanye seorang kandidat wali kota. Jika ketiga asas itu hilang, yakinlah, ia adalah kandidat kepala daerah yang buruk. Sebab, seorang wali kota yang baik harus belajar mati sebelum ia menjabat. Dan mati, tepat saat namanya terpilih sebagai pemegang amanat masyarakat.

Penulis: Ilham Mustamin

Terkait: MatilahMenulisParepare MenulisWali Kota

Berita Terkait

Tasming Serahkan Bantuan Peralatan UMKM Parepare, Tekankan Kejujuran dan Kerja Keras

Tasming Serahkan Bantuan Peralatan UMKM Parepare, Tekankan Kejujuran dan Kerja Keras

Editor: Tohir Muhammad
13 September 2026

...

Kukuhkan Calon Paskibraka Parepare 2026, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Kukuhkan Calon Paskibraka Parepare 2026, Tasming Hamid Sampaikan Pesan Ini

Editor: Tohir Muhammad
16 Agustus 2026

...

44 Hari KKN UNHAS di Parepare, Wali Kota Minta Hasil Program Ditindaklanjuti

44 Hari KKN UNHAS di Parepare, Wali Kota Minta Hasil Program Ditindaklanjuti

Editor: Tohir Muhammad
14 Agustus 2026

...

Berita Populer

  • Dukcapil Parepare Imbau Warga Manfaatkan Layanan Resmi, Tak Perlu Calo

    Dukcapil Parepare Imbau Warga Manfaatkan Layanan Resmi, Tak Perlu Calo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tanamkan Kedisplinan dan Nilai Agama, Tiga Sekolah di Parepare Ini Kompak Gelar Salat Duha Bersama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Di Tengah Kekeringan : Negara dan Ancaman Krisis Air Bersih

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jaga Produksi Pertanian, Bupati Pinrang Tinjau Panen hingga Pompanisasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAHMI Perjuangan Gelar Dialog Nasional, Mengurai “Kegelapan” Menuju Indonesia Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi