Vespa lahir dari puing-puing perang.
Tahun 1946, di Italia yang baru saja bangkit dari reruntuhan, Piaggio memperkenalkan sebuah kendaraan sederhana: bodinya tertutup, mesinnya di samping, tanpa rantai, tanpa banyak pernak-pernik. Corradino D’Ascanio, insinyur pesawat terbang yang membenci suara mesin motor konvensional, merancangnya agar bersih, mudah dirawat, dan ramah bagi siapa pun.
Tak disangka, Vespa tumbuh melampaui fungsinya. Ia menjelma simbol ketahanan, kesetiaan, dan perjalanan panjang lintas generasi. Salah satunya, ada satu unit di halaman rumah kami.
Pagi belum sepenuhnya bangun ketika Vespa itu dinyalakan. Suaranya tidak lantang, tapi jujur. Seperti orang tua yang telah lama belajar berbicara seperlunya.
Vespa Exclusive 2 itu lahir pada 1989. Kini usianya tiga puluh lima tahun. Ia telah mengantar lebih banyak hidup daripada yang sanggup diingat manusia.
Sedikit yang tahu, Vespa ini berasal dari jalan panjang keluarga.
Ia bermula dari seseorang : Tante saya, adik kandung Ibuku.
Di masa mudanya, ia merantau dan tinggal bersama keluarga di Jakarta. Seperti banyak perantau lain, sebagian rezekinya ia kirim pulang ke kampung halaman di Sidrap, Sulawesi Selatan. Uang itu disimpan di Bank BRI, dalam program Simpedes. Rekeningnya menggunakan nama adiknya sekaligus pamanku.
Undian datang tanpa aba-aba.
Hadiah utamanya: satu unit Vespa.
Pada zamannya, Vespa bukan sekadar motor. Ia lambang keberuntungan. Lambang status. Lambang bahwa hidup, pelan-pelan, mulai berpihak.
Namun Vespa itu tak lama singgah. Tante dan pamanku belum bisa mengendarainya. Maka Vespa itu berpindah tangan, bukan lewat jual beli biasa, melainkan lewat kepercayaan keluarga.
Ayahku, mengambil Vespa itu.
Bukan dibayar tunai. Tapi dicicil dengan bayar per panen padi. Kebetulan ayah saya seorang guru yang nyambi jadi petani.
Jalan Kaki dan Angsuran
Saat itu, ayah belum punya apa-apa selain kesabaran.
Ia seorang guru sekolah dasar di dusun terpencil. Setiap hari berjalan kaki sekira sepuluh kilometer pulang pergi. Jalannya panjang, sepi, berbatu, kadang berlumpur. Gajinya cukup untuk makan, cukup untuk hidup, cukup untuk menyekolahkan tiga anaknya. Tidak lebih.
Vespa Exclusive itu dibayar pelan-pelan. Diangsur. Dicicil.
Setiap musim panen padi.
Tidak ada bunga. Tidak ada tenggat mencekik.
Hanya kepercayaan yang dijaga bersama.
Ayah tidak pernah belajar motor lain. Sejak awal, hanya Vespa yang ia kenal.
Dari SD ke Jalan Panjang
Vespa itu mengantar ayah mengajar dari SD terpencil, lalu pindah ke SMP, hingga akhirnya menjadi kepala sekolah lintas kecamatan. Jaraknya sekira dua puluh kilometer sekali jalan. Empat puluh kilometer pulang-pergi setiap hari kerja.
Suatu sore, ayah pulang dalam keadaan sangat lelah. Kantuk datang tanpa permisi. Vespa melaju terlalu ke tengah jalan. Sebuah kendaraan melintas, sopirnya menghardik keras:
“Kenapa di tengah jalan? Mau mati yah!”
Ayah tersentak. Terjaga.
Micro sleep, kata orang.
Ia berhenti sejenak. Menarik napas panjang. Lalu melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah, selamat.
Pernah pula hampir masuk parit, nyaris ke saluran irigasi. Lagi-lagi karena kantuk. Lagi-lagi selamat.
Seolah Vespa itu ikut berjaga.
Dirawat, Diselamatkan
Ayah merawat Vespa itu seperti amanah.
Hampir setiap hari dilap. Sebulan sekali dicuci, terutama bagian bawah, agar lumpur tak memakan bodinya. Karat adalah musuh yang selalu diusir dengan kesabaran.
Ketika Vespa itu sampai kepadaku, anak kedua dari tiga bersaudara, ia telah matang oleh cerita.
Aku memakainya sejak SMP. Diajar oleh pamanku. Mengantar koran, ke sawah, ke kebun, hingga SMA. Saat ayah pensiun, Vespa itu dihibahkan kepadaku.
Pesannya singkat:
Pakai, tapi jangan dijual.
Sebagai wartawan, Vespa itu ikut meliput banyak peristiwa.
Pernah suatu hari aku ditabrak pengendara sepeda motor berboncengan. Motor mereka, rangka besi berbalut plastik, terlempar dan lecet. Vespa hanya tergores sedikit catnya. Aku selamat.
Aku malah memberi uang kepada penabrak agar mereka membeli obat.
Qadarullah. Allah menjaga.
Ke Pegunungan
Ada satu kisah yang selalu kuingat.
Vespa itu pernah kupakai meliput latihan militer di kawasan pegunungan sekitar Siddo, Kabupaten Barru. Jalan berbatu. Tanjakan tajam. Bersamaku, ada satu sepeda motor besar, motor laki-laki, kata orang.
Kami sama-sama naik.
Vespa asal Italia itu pelan, tapi pasti. Alhamdulillah, ia selamat naik dan turun.
Motor besar itu patah subrekernya. Tak bisa jalan. Akhirnya diangkut pulang menggunakan gerobak pedagang besi bekas.
Ironisnya, Vespa tua sering justru dicari pedagang besi tua untuk ditimbang. Padahal hari itu, ia membuktikan dirinya bukan besi tua, melainkan besi yang setia.
Di situlah aku memahami keyakinan para pemiliknya: satu Vespa berarti sejuta saudara.
Di jalan, selalu ada senyum, anggukan, atau lambaian tangan. Jika mogok, cukup ditepikan. Hampir selalu ada yang datang membantu. Tanpa banyak tanya. Tanpa pamrih.
Ditawar, tapi Tidak Dijual
Lebih dari lima orang pernah menawar Vespa ini.
Aku selalu menggeleng.
Suatu hari, di jalan besar, sebuah mobil mewah mendekat. Kacanya terbuka perlahan.
“Pak, Vespanya mau dijual?”
Aku tersenyum.
“Tidak.”
Ada pula yang menawari tukar tambah: Vespa baru dicat, mengilap, plus uang. Katanya mau dibawa ke Bekasi.
Aku tetap menggeleng.
Cat, Waktu, dan Kesetiaan
Kini Vespa Exclusive 1989 warna putih itu masih setia dipakai, termasuk mengajar di kampus. Mahasiswa, sahabat, hingga pejabat kampus kerap menyapa:
“Masih setia yah, Pak?”
“Bagus kalau dicat ulang.”
Aku menjelaskan pelan-pelan. Bagi kolektor Vespa klasik, cat asli adalah sejarah. Mencat ulang berarti menghapus sebagian jejak.
Tentu, suatu hari aku ingin mengecatnya kembali. Tapi itu bukan perkara murah. Maka untuk sementara, Vespa ini kubiarkan apa adanya. Jujur pada usianya.
Pagi itu, Vespa kembali melaju di jalan besar. Tidak tergesa. Tidak malu.
Ia membawa lelah yang pernah hampir jatuh, dan kegembiraan yang selalu pulang.
Ada kendaraan yang dibeli untuk gaya.
Ada yang dirawat untuk cerita.
Vespa ini memilih setia.
Dan selama Allah mengizinkan, ia akan terus dipakai.
Belum mau dijual. (*)
Penulis: Alfiansyah Anwar












