MAKASSAR, PIJARNEWS.COM — Malam di Antang tak hanya tentang lampu jalan dan lalu lintas yang mereda. Kamis (23/4/2026) lalu, suasana di Jalan Moha Lasuloro justru hidup oleh percakapan hangat, gelak tawa, dan secangkir kopi yang menyatukan polisi dan warga dalam satu lingkaran kebersamaan.
Sekitar 70 warga duduk berdampingan dengan jajaran kepolisian dalam kegiatan bertajuk Ngopi Kamtibmas dan Silaturahmi. Tidak ada sekat formal yang kaku, yang terasa justru keakraban. Di tengah mereka hadir Wakapolrestabes Makassar, AKBP Andi Erma Suryono, yang memilih mendengar lebih banyak daripada berbicara.
Di sudut lain, tokoh masyarakat, aparat pemerintah, hingga perangkat RT/RW tampak membaur. Anggota DPRD Kota Makassar, Hartono, Camat Manggala Ahmad, Lurah Antang H. Waris, serta Kapolsek Manggala Kompol Semuel To’longan, ikut larut dalam suasana yang jauh dari kesan seremonial.
“Situasi di Antang relatif aman karena kebersamaan ini,” ujar H Waris, Lurah Antang singkat, namun penuh makna. Ia percaya keamanan bukan semata hasil patroli, tetapi buah dari hubungan yang terawat.
Namun di balik suasana santai, terselip pesan serius. AKBP Andi Erma Suryono mengingatkan bahwa menjaga keamanan bukan perkara mudah, terlebih dengan jumlah personel kepolisian yang tak sebanding dengan populasi warga.
“Kamtibmas bukan hanya tanggung jawab Polri, tetapi tanggung jawab kita bersama,” ujarnya, menatap warga yang mendengarkan dengan saksama.
Isu narkotika menjadi salah satu sorotan utama malam itu. Ia menyebut, kasus narkoba masih mendominasi jumlah tahanan di Polrestabes Makassar, sebuah fakta yang membuat diskusi semakin reflektif. Warga pun diajak untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, termasuk melindungi generasi muda melalui program “Jagai Anakta”.
Percakapan kemudian mengalir tanpa jarak. Warga menyampaikan kegelisahan mereka: dari keterbatasan personel polisi, kebutuhan patroli malam, hingga kekhawatiran terhadap geng motor dan peredaran narkoba.
Menanggapi itu, Kapolsek Manggala, Kompol Semuel To’longan, memastikan bahwa patroli akan terus ditingkatkan, termasuk patroli hunting di jam rawan. Ia juga menegaskan peran penting Bhabinkamtibmas dalam mendeteksi potensi gangguan sejak dini.
“Keamanan lingkungan tidak bisa berjalan tanpa keterlibatan warga,” tegasnya.
Malam semakin larut, namun diskusi tak terasa usai. Kopi demi kopi tersaji, menjadi saksi bahwa keamanan ternyata bisa dimulai dari hal sederhana: duduk bersama, saling mendengar, dan membangun rasa percaya.
Sekitar pukul 22.00 WITA, kegiatan ditutup tanpa formalitas berlebihan. Yang tersisa bukan hanya cangkir kosong, tetapi juga harapan bahwa kota ini akan tetap aman, selama warganya masih mau duduk bersama dan peduli satu sama lain. (alf)












