WATAMPONE, PIJARNEWS.COM–Kebudayaan tidak selalu diwariskan melalui teks dan upacara. Ia juga dapat hidup melalui tubuh, suara, ruang, benda, ingatan, serta pengalaman kolektif yang terus dinegosiasikan oleh generasi ke generasi. Perspektif inilah yang menjadi salah satu pijakan pertunjukan teater “Suara-suara dari Balustrade”, karya yang digagas dan disutradarai Thahirtalas, sebagai bagian dari rangkaian Festival Budaya Gau Maraja 2026: “Simfoni Lumbung: Merayakan Kebudayaan dan Pangan.”
Pertunjukan tersebut akan berlangsung pada 28 September 2026, pukul 19.30 WITA–selesai, bertempat di Penjara Lama Kota Watampone. Pertunjukan terbuka untuk publik dengan HTM gratis.
Pemilihan Penjara Lama sebagai ruang pertunjukan bukan sekadar keputusan teknis mengenai venue. Ruang historis tersebut justru diposisikan sebagai bagian dari dramaturgi. Dinding, balustrade, lorong, pintu, dan jejak material bangunan menjadi semacam arsip diam yang berhadapan dengan tubuh para aktor. Di dalam konstruksi artistik semacam itu, ruang tidak lagi menjadi latar belakang pertunjukan, tetapi berubah menjadi tanda yang ikut berbicara.
Judul “Suara-suara dari Balustrade” dengan demikian dapat dibaca sebagai metafora tentang suara yang berada di antara batas: antara masa lalu dan masa kini, antara ingatan dan kenyataan, antara yang diwariskan dan yang sedang dipertanyakan kembali. Balustrade—sebagai batas antara ruang dalam dan ruang luar—menjadi simbol posisi manusia yang terus bernegosiasi dengan sejarah, lingkungan, pangan, kebudayaan, dan perubahan zaman.
Dari Tanah Menuju Lumbung: Tiga Siklus Kehidupan
Gagasan utama pertunjukan bertumpu pada sebuah siklus sederhana tetapi fundamental: menanam, merawat, dan memanen. Ketiganya bukan hanya aktivitas agraris, melainkan metafora mengenai bagaimana sebuah masyarakat mempertahankan kehidupannya.
Tanah menjadi titik awal. Dari tanah lahir pangan; dari pangan terbentuk kehidupan sosial; dari kehidupan sosial lahir kebudayaan; dan dari kebudayaan terbentuk ingatan kolektif. Oleh karena itu, lumbung dalam konteks Festival Gau Maraja 2026 tidak semata-mata dipahami sebagai tempat penyimpanan hasil panen. Lumbung merupakan simbol keberlanjutan, ketahanan, kerja kolektif, distribusi, dan pewarisan kehidupan.
Dalam perspektif kebudayaan Bugis, pangan juga tidak dapat dilepaskan dari tata hubungan manusia dengan alam. Pertanian, sungai, pesisir, laut, perdagangan, dan mobilitas masyarakat membentuk jejaring kehidupan yang saling berhubungan. Tradisi Bugis secara historis memperlihatkan kuatnya dua orientasi tersebut: agraris dan maritim. Padi dan tanah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat pedalaman, sementara laut menjadi ruang mobilitas, perdagangan, pengetahuan, dan perjumpaan antarkomunitas. Literatur mengenai masyarakat Bugis juga mencatat kuatnya tradisi pertanian sekaligus pelayaran dan perdagangan maritim tersebut. (Wikipedia)
Oleh karena itu, “Suara-suara dari Balustrade” tidak hendak menempatkan budaya agraris dan maritim sebagai dua dunia yang terpisah. Sebaliknya, keduanya dibaca sebagai dua arus kehidupan yang membentuk pengalaman masyarakat Bugis: tanah yang ditanami dan laut yang diarungi; lumbung yang menyimpan pangan dan perahu yang membawa hasil bumi; kampung sebagai ruang asal dan laut sebagai ruang perjumpaan.
Pappaseng: Suara Leluhur yang Menyeberangi Zaman
Salah satu lapisan penting dalam pertunjukan ini adalah gagasan mengenai pappaseng, yakni pesan, petuah, atau nasihat leluhur yang diwariskan sebagai pedoman kehidupan orang Bugis.
Kajian kebudayaan menunjukkan bahwa pappaseng tidak hanya berfungsi sebagai ungkapan moral, tetapi juga menyimpan pandangan mengenai hubungan manusia dengan sesama, orang tua, masyarakat, dan alam. Karena itu, pappaseng dapat dipahami sebagai semacam arsip etis masyarakat Bugis—sebuah ingatan budaya yang tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diarahkan menjadi tindakan. (Jurnal Universitas Padjadjaran)
Salah satu prinsip yang sangat dikenal dalam tradisi Bugis adalah:
“Resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata.(Pappaseng ri elompugi:Prof.Dr.Andi Sukri Syamsuri, M.Hum 2025)
Ungkapan tersebut secara umum dipahami sebagai penegasan mengenai kerja keras dan ketekunan sebagai jalan bagi hadirnya keberkahan. Dalam konteks kebudayaan pangan, prinsip ini memperoleh relevansi yang kuat: tidak ada panen tanpa proses menanam dan merawat; tidak ada lumbung tanpa kerja; dan tidak ada keberlanjutan tanpa kesediaan generasi berikutnya untuk meneruskan pengetahuan yang diwariskan.
Pappaseng juga mengenal prinsip “taro ada taro gau”—kesatuan antara perkataan dan perbuatan. Dalam konteks pertunjukan, prinsip tersebut dapat dibaca secara dramaturgis: suara tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus menjelma menjadi tubuh, tindakan, ritme, dan peristiwa panggung.
Kajian terhadap pappaseng Bugis menunjukkan bahwa petuah leluhur tersebut mengandung nilai kejujuran, keteguhan, siri’, etos kerja, gotong royong, dan solidaritas. (Sawerigading) Penelitian lain memperlihatkan bahwa pappaseng juga menggunakan metafora yang bersumber dari manusia, binatang, tumbuhan, benda, serta peristiwa alam. Dengan demikian, alam bukan sekadar latar dalam sistem simbolik Bugis, tetapi menjadi sumber penting untuk membangun pengertian tentang kehidupan manusia. (Kimli)
Di sinilah relevansi pappaseng dengan tema “Simfoni Lumbung” menjadi semakin kuat. Pangan bukan hanya perkara konsumsi, tetapi juga perkara etika, kerja, pengetahuan, hubungan sosial, dan keberlanjutan ekologis.
Antara Agraris dan Maritim: Dua Horizon Kebudayaan
Dalam pembacaan kebudayaan Bugis, tanah dan laut dapat dipahami sebagai dua ruang pengetahuan.
Di daratan, masyarakat belajar mengenai musim, tanah, benih, air, tanaman, kerja kolektif, dan kesabaran. Di laut, manusia belajar membaca angin, arus, arah, cuaca, jarak, risiko, dan keberanian mengambil keputusan. Keduanya mengajarkan satu prinsip yang sama: kehidupan menuntut kemampuan membaca tanda-tanda alam.
Dalam pengertian semiotik, petani dan pelaut sama-sama merupakan pembaca tanda. Petani membaca langit, tanah, air, daun, musim, dan perubahan cuaca; pelaut membaca angin, gelombang, bintang, arus, dan cakrawala. Pengetahuan tersebut kemudian diterjemahkan menjadi tindakan.
“Suara-suara dari Balustrade” dapat ditempatkan dalam ruang pemaknaan tersebut. Tubuh aktor menjadi pembaca tanda, ruang menjadi teks, suara menjadi penanda, sementara pangan dan kebudayaan menjadi medan makna yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan.
Dengan pendekatan demikian, teater tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga mengaktifkan kembali pertanyaan: Apa yang diwariskan oleh leluhur? Apa yang sedang kita pertahankan? Apa yang mulai hilang? Dan apa yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya?
Penjara Lama sebagai Arsip Kebudayaan
Pemilihan Penjara Lama Kota Watampone memberi lapisan makna tersendiri terhadap pertunjukan. Sebuah bangunan yang pada masa lalu berkaitan dengan pembatasan kebebasan justru dihidupkan kembali sebagai ruang seni dan perjumpaan publik.
Kontradiksi tersebut menjadi menarik secara artistik. Ruang yang pernah menyimpan tubuh-tubuh yang dibatasi kini menjadi ruang tempat tubuh-tubuh artistik berbicara. Dinding yang dahulu menjadi simbol pemisah berubah menjadi permukaan tempat ingatan, suara, dan kebudayaan dipertemukan.
Dalam kerangka ini, balustrade dapat dibaca sebagai ambang. Ia bukan hanya pagar atau pembatas fisik, melainkan simbol dari batas-batas sejarah: antara kebebasan dan keterbatasan, antara ingatan dan pelupaan, antara warisan dan perubahan.
Pertunjukan tersebut sekaligus menawarkan cara lain dalam memperlakukan situs bersejarah: bukan semata sebagai benda peninggalan yang harus dilihat, tetapi sebagai ruang yang dapat ditafsirkan kembali melalui seni pertunjukan.
Teater sebagai Ruang Dialog Kebudayaan
Kehadiran “Suara-suara dari Balustrade” dalam rangkaian Gau Maraja 2026 yang dimotori oleh pemerintah kabupaten Bone memperlihatkan bahwa festival budaya dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan kreativitas kontemporer.
Festival tidak hanya menghadirkan kebudayaan sebagai tontonan, tetapi juga sebagai ruang refleksi. Dalam konteks ini, pangan menjadi pintu masuk untuk berbicara mengenai tanah, laut, kerja, ekonomi, keluarga, ritual, lingkungan, pengetahuan lokal, dan masa depan kebudayaan.
Pertunjukan teater menjadi medium yang memungkinkan berbagai lapisan tersebut hadir secara bersamaan—bukan sebagai ceramah, melainkan melalui suara, tubuh, gerak, ruang, bunyi, simbol, dan atmosfer.
Gagasan tersebut sejalan dengan pemahaman akademik mengenai pappaseng sebagai warisan pengetahuan dan nilai yang terus dapat ditafsirkan sesuai konteks zaman. Sejumlah kajian menempatkan pappaseng sebagai sumber penting untuk memahami etika, identitas, pendidikan karakter, dan hubungan masyarakat Bugis dengan lingkungan sosial maupun alamnya. (Journal UIN Alauddin)
Dengan demikian, pertunjukan ini tidak diarahkan untuk sekadar “menghidupkan kembali masa lalu”. Yang lebih penting adalah membuka percakapan dengan masa lalu untuk memahami masa kini dan membayangkan masa depan.
Merayakan Pangan, Merawat Ingatan
Pada akhirnya, “Suara-suara dari Balustrade” merupakan upaya artistik untuk mempertemukan tiga wilayah yang sering dipisahkan: pangan, kebudayaan, dan ingatan.
Pangan mengingatkan manusia pada tanah dan kerja. Tanah mengingatkan pada leluhur. Leluhur meninggalkan pappaseng. Pappaseng mengajarkan cara membaca kehidupan. Dan seni memberi ruang agar pesan tersebut dapat kembali didengar oleh generasi yang hidup dalam konteks yang berbeda.
Dari tanah menuju lumbung, dari lumbung menuju kehidupan sosial, dari kehidupan sosial menuju kebudayaan, dan dari kebudayaan menuju ingatan—siklus itulah yang hendak dirayakan.
Sementara dari laut, masyarakat belajar tentang perjalanan, keberanian, perjumpaan, dan keterbukaan terhadap dunia. Tanah dan laut, lumbung dan perahu, kampung dan cakrawala, masa lalu dan masa depan, pada akhirnya bertemu dalam satu pertanyaan kebudayaan: bagaimana manusia mempertahankan kehidupan tanpa kehilangan ingatannya?
Pertanyaan tersebut menemukan ruangnya di Penjara Lama Kota Watampone melalui “Suara-suara dari Balustrade”, sebuah pertunjukan yang menjadikan teater bukan hanya sebagai pertunjukan artistik, tetapi sebagai ruang pembacaan ulang terhadap kebudayaan Bugis, pangan, leluhur, dan masa depan.
DATA PERTUNJUKAN
Pertunjukan: Suara-suara dari Balustrade
Ide Cerita & Sutradara: Thahirtalas
Rangkaian: Festival Budaya Gau Maraja 2026 – “Simfoni Lumbung: Merayakan Kebudayaan dan Pangan”
Tempat: Penjara Lama Kota Watampone
Tanggal: Senin, 28 September 2026
Waktu: 19.30 WITA–selesai
HTM: Gratis
Produser Pelaksana: Mario Centre
Kolaborator: Bali Sumange, Oryza, Ninuninu, Talas, serta komunitas/mitra kolaborator sebagaimana tercantum pada materi publikasi.








