PAREPARE,PIJARNEWS.COM – Keramaian pusat Kota Parepare kini semakin mudah ditemui, terutama saat berbagai event digelar dan tenant makanan serta minuman bermunculan. Namun, di tengah geliat ekonomi tersebut, masih ada pedagang kecil yang justru merasakan sepinya pembeli.
Salah satunya Baharuddin, pedagang popcorn yang telah berjualan di depan pintu masuk Pasar Senggol, Kota Parepare, selama sekitar 30 tahun.
Saat ditemui pada Kamis (10/9/2026), Baharuddin atau akrab disapa Bahar tampak duduk menunggu pembeli. Di hadapannya terdapat dagangan popcorn yang siap dijual kepada pengunjung pasar.
Bahar datang menjelang Magrib menggunakan sepeda motor dari rumah. Ia membawa bahan-bahan yang telah disiapkan sebelumnya, kemudian mulai berjualan hingga malam hari.
Selama puluhan tahun berjualan, Bahar telah menyaksikan perubahan suasana Pasar Senggol. Menurutnya, kondisi pasar saat ini tidak lagi seramai dahulu, terutama pada malam Minggu.
“Dulu ada banyak sekali, sekarang madodong (kurang) bahasa Ogi’nya,” ujar Bahar saat menceritakan kondisi pembelinya saat ini.
Menurut Bahar, dahulu pembeli popcorn cukup ramai. Bahkan, pendapatannya bisa mencapai ratusan ribu rupiah dalam sehari. Kini, kondisi tersebut jauh berbeda.
Ia mengaku kini sudah bersyukur apabila mendapatkan keuntungan sekitar Rp 10 ribu.
Sepinya pembeli membuat Bahar harus lebih berhati-hati mengatur modal. Salah satu bahan utama yang dibutuhkan adalah jagung.
Harga jagung saat ini sekitar Rp 25 ribu per kilogram. Sementara itu, satu karung jagung bisa mencapai sekitar Rp 500 ribu.
Ketika penjualan masih ramai, Bahar dapat membeli jagung dalam jumlah lebih banyak karena stok bisa terjual dalam waktu relatif singkat. Namun, kondisi tersebut kini berubah.
Ia memilih membeli jagung sedikit demi sedikit agar modal yang dikeluarkan dapat disesuaikan dengan pemasukan.
Bagi Bahar, cara tersebut menjadi salah satu upaya agar usahanya tetap berjalan meski jumlah pembeli tidak lagi sebanyak dahulu.
Perkembangan Kota Parepare turut mengubah pola keramaian masyarakat. Berbagai kegiatan dan event yang digelar di pusat kota menghadirkan banyak pilihan bagi warga untuk berkumpul.
Tenant makanan dan minuman juga semakin mudah ditemukan di sejumlah lokasi.
Namun, keramaian tersebut tidak selalu dirasakan pedagang yang berada di Pasar Senggol.
Bahar melihat jumlah pengunjung pasar semakin berkurang dibandingkan masa ketika ia pertama kali berjualan. Kondisi itu tentu berpengaruh terhadap pendapatan para pedagang.
Ketika pembeli berkurang, dagangan berisiko tidak habis. Modal yang seharusnya kembali untuk membeli bahan juga menjadi lebih sulit diputar.
Meski begitu, Bahar memilih untuk tetap bertahan.
“Saya ini orang tua. Masjid saja tempatku. Pasrahkan sama Tuhan biar dilancarkan rezeki,” katanya.
Menurutnya, berjualan popcorn merupakan pekerjaan yang masih dapat dilakukan seorang diri. Ia tidak perlu merepotkan orang lain untuk menjalankan usaha tersebut.
Di tengah aktivitas berjualan, Bahar juga berusaha tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim. Ketika waktu salat tiba, ia meninggalkan dagangannya sejenak untuk melaksanakan salat.
Kisah Bahar menunjukkan bahwa mencari nafkah dan menjalankan ibadah dapat berjalan beriringan.
Setiap hari ia tetap datang berjualan meskipun tidak mengetahui berapa banyak popcorn yang akan terjual. Ia melakukan usaha semampunya, sementara hasil akhirnya diserahkan kepada tuhan.
Penulis: Luthfiyana Mansur












