PAREPARE, PIJARNEWS.COM – Ikatan Alumni Pondok Pesantren se-Sulawesi Selatan (Sulsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar) menggelar seminar kolaborasi dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026. Kegiatan bertema “Memperteguh Jiwa Santri, Mempererat Alumni, dan Menebar Manfaat bagi Negeri” ini berlangsung di Gedung Laboratorium Terpadu IAIN Parepare, Rabu (21/10/2026) malam.
Seminar yang dimulai pukul 20.00 Wita tersebut dihadiri sekitar 200 peserta dari kalangan alumni pondok pesantren. Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Parepare, Dr. Andi Bahri S, M.E., M.Fil.; dosen IAIN Parepare, Dr. H. Islamul Haq, Lc., M.A.; serta dosen IAIN Parepare sekaligus Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Dr. M. Ali Rusdi Bedong, S.Th.I., M.H.I. JelajahiKota
Seminar ini bertujuan memperteguh jati diri dan nilai-nilai kepesantrenan di tengah tantangan zaman. Selain itu, kegiatan tersebut menjadi wadah untuk memperkuat solidaritas alumni serta mendorong peran strategis mereka dalam membangun generasi yang berdaya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dalam pemaparannya, Andi Bahri menekankan pentingnya menjaga identitas dan karakter santri agar tetap kokoh menghadapi berbagai perubahan. Menurutnya, nilai-nilai kepesantrenan harus menjadi landasan dalam menjaga akhlak, integritas, dan identitas keislaman.
“Jadilah generasi kemiri, kalau dipencet dia tetap kokoh dan kuat dalam menjaga nilai keislaman yang tertanam pada diri kita. Dalam membangun karakter kemiri ini, inilah ciri khas santri, identitas santri, karakter santri bahwa santri bisa ditempatkan di mana saja. Dia bisa memberi warna dan mewarnai, dia bisa memberi pengaruh dan memengaruhi,” ujar Andi Bahri.
Selain penguatan karakter, seminar tersebut juga membahas pentingnya solidaritas dan jejaring antar alumni pesantren. Kolaborasi dinilai menjadi salah satu kunci untuk memperkuat peran alumni dalam membangun generasi yang berakhlak, berilmu, dan mampu menghadapi tantangan masa depan.
Narasumber lainnya, Islamul Haq, menegaskan pentingnya menjaga hubungan antar alumni serta membangun jejaring yang kuat lintas pesantren. Menurutnya, alumni yang telah sukses juga diharapkan dapat berkontribusi dalam membimbing lulusan pesantren yang lebih muda, terutama dalam memasuki dunia kerja.
“Alumni pesantren harus menjaga solidaritas sehingga bisa membuat acara seperti ini. Yang paling penting adalah membangun jejaring antar-pesantren. Alumni senior yang sudah berhasil dapat membimbing santri junior yang baru lulus dari pesantren sampai ke dunia kerja,” ungkap Islamul Haq.
Sementara itu, M. Ali Rusdi Bedong mengulas pentingnya mengaktualisasikan ilmu dan nilai-nilai kepesantrenan melalui pengabdian kepada masyarakat. Ia menilai, selain penguasaan ilmu pengetahuan, santri dan alumni perlu memiliki kemampuan beradaptasi serta kreativitas agar mampu berkontribusi di berbagai bidang.
“Pesan saya itu tadi, residensi yang kedua kemampuan beradaptasi itu harus penting. Kemudian kreativitas, kenapa ini penting? Jika karakter ini sudah hidup maka mudah. Makanya ilmu memang penting, tapi yang lebih penting itu adalah soft skill yang bisa mengantarkan kita di mana pun dan apa pun yang kita kerjakan,” ujarnya.
Ketua panitia, Muhammad Edy Naharuddin, berharap seminar kolaborasi tersebut tidak berhenti pada kegiatan kali ini. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut sebagai upaya memperkuat kolaborasi, menjaga solidaritas, dan mempererat silaturahmi antaralumni pondok pesantren di Sulsel dan Sulbar.
Reporter: Abdul Latif (Mahasiswa Magang PPL STAIN Majene)











