• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

OPINI : Menguatkan UMKM di Era New Normal (Bagian 1)

Editor: Tim Redaksi
30 Mei 2020
di Opini
Andi Faisal

Oleh : Andi Faisal SE, M.Ak

OPINI — Sejak kemunculnya di Wuhan pada Bulan Desember 2019, Pandemi Covid 19 sudah berlangsung selama lima bulan, dan sampai saat ini belum ada titik terang kapan pandemi ini akan berakhir. Meskipun para ahli-ahli terbaik di dunia telah berusaha, namun vaksin untuk mencegah penularan tidak kunjung ditemukan. Pemerintah dari berbagai negara telah mengarahkan seluruh sumber daya yang diperlukan untuk menjaga agar sistem sosial dan ekonomi tidak jatuh.

Akan tetapi, jika kondisi ini terus berlanjut tinggal menunggu waktu seluruh sistem ekonomi akan runtuh. Apalagi di era globalisasi saat ini, tidak ada negara yang betul-betul mandiri secara ekonomi, setiap negara bergantung pada negara lain, sehingga krisis ekonomi di suatu negara dapat menjalar ke negara lainnya.

Kondisi ini membuat pemerintah tidak punya pilihan lain selain “berdamai” dengan Covid-19.
Pemerintah Indonesia telah menyusun strategi pemulihan ekonomi agar masyarakat dapat kembali bekerja dan/atau membuka kembali usahanya. Presiden Jokowi menyebutnya “Tatanan Hidup Baru”, dalam istilah yang lebih populer “New Normal”.

Dari ederan yang dimuat di berbagai media, ada 5 fase pemulihan ekonomi yang akan dimulai pada tanggal 1 Juni 2020 mendatang. Namun, penulis melihat edaran ini bersifat normatif, sekedar membolehkan toko/pasar kembali buka dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Apa yang perlu ditekankan adalah, meskipun toko/pasar kembali buka, namun para pelaku usaha tersebut akan menghadapi suatu tantangan baru akibat adanya perubahan perilaku (Change behaviour) konsumsi masyarakat selama masa Social Distancing kurang lebih tiga bulan lamanya.
Sebelum Covid-19 merebak, masyarakat sudah akrab dengan online shopping. Namun online shopping pra covid secara umum untuk produk yang sifatnya Secondary need dan juga mayoritas dilakukan oleh generasi millennials. Akan tetapi di masa pemberlakuan Social Distancing sejak Maret 2020, terjadi kenaikan trend belanja online dikalangan masyarakat lintas generasi. Selain itu, juga terjadi kenaikan trend pada produk kebutuhan pokok (Primary Need) masyarakat. Berdasarkan hasil riset dari MCKinsey & Company, 34 persen orang Indonesia mengakui adanya peningkatan belanja makanan secara daring dan 30 persen orang Indonesia juga mengakui adanya peningkatan belanja kebutuhan pokok lainnya secara daring. Tidak hanya itu, para peniliti MCKinsey & Company juga memprediksi kenaikan belanja daring ini akan sampai pada angka 72 persen, meskipun Covid-19 telah berlalu.

BeritaTerkait

Gen Z,  Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

Gen Z, Hegemoni Kapitalisme, dan Industri Kebahagiaan Semu

26 Agustus 2026
Kantor DPRD Dibakar : Saluran Demokrasi Buntu?

Kantor DPRD Dibakar : Saluran Demokrasi Buntu?

26 Agustus 2026
Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

Antrean Mengular di Daerah Kaya Minyak: Menyoroti Gagalnya Tata Kelola dan Solusi Hakiki

19 Agustus 2026
Menakar Urgensi Sekolah Terintegrasi

Menakar Urgensi Sekolah Terintegrasi

11 Agustus 2026

Fenomana di atas jelas merupakan tantangan bagi para pelaku usaha, khususnya pelaku UMKM. Dalam literatur ekonomi, suatu tantangan dapat menjadi peluang atau ancaman. Menjadi peluang jika para pelaku usaha dapat beradaptasi dengan tantangan itu, namun menjadi ancaman jika pelaku usaha tidak dapat berdaptasi dengannya. Karena itu, perlu sinergi dari berbagai pihak untuk bagaimana memperkuat pelaku usaha khususnya UMKM agar dapat mengkonversi tantangan ini menjadi suatu peluang.

Dalam artikel sebelumnya yang juga dimuat di media PIJARNEWS.COM ini, penulis memaparkan data bagaimana peran sentral sektor UMKM dalam perekonomian Indonesia. Lebih dari 50 persen PDB di Indonesia bersumber dari UMKM dan lebih dari 90 Persen Tenaga kerja Indonesia diserap oleh sektor UMKM. Itulah sebabnya sektor UMKM disebut sebagai Tulang Punggung Perekonomian Indonesia. Dengan perannya yang sangat strategis itu, pemerintah diharapkan lebih serius dalam memperkuat UMKM di era New Normal ini.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan dan diperbaiki dalam upaya memperkuat UMKM, yaitu;
Manajemen Keuangan.
Pada umumnya, pelaku UMKM belum terbiasa mengelola keuangan dengan baik. Padahal disiplin mengelola keuangan merupakan kunci agar usaha dapat berkembang. Karenanya pendampingan terkait manajemen keuangan perlu dilakukan secara berkala. Pemerintah bisa bekerjasama dengan Institusi Perguruan Tinggi agar UMKM dapat mengelola keuangannya dengan baik. Selain itu, pemerintah dapat memberikan prasyarat bantuan modal, hanya kepada UMKM yang memiliki laporan keuangan.

Banyak yang mengira penyusunan laporan keuangan adalah sesuatu hal yang rumit dan mesti mempelajari ilmu Akuntansi. Padahal laporan keuangan sangat fleksibel, dapat dibuat sesuai kemampuan setiap orang. Inti dari laporan keuangan adalah catatan Asset, Biaya dan Pendapatan harus jelas. Memang utuk mengakses modal dari bank dibutuhkan laporan keuangan yang sesuai standar Akuntansi sebagai persyaratan, tapi untuk memulai disipilin dalam mengelola keuangan cukup menerapkan pembukuan standar yang bisa dikerjakan.

Pada dasarnya, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) selaku lembaga yang berwenang membuat kebijakan Akuntansi di Indonesia telah menerbitkan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil Menengah (SAK EMKM) sebagai pedoman laporan keuangan UMKM. Laporan ini terdiri dari tiga jenis, yaitu Laporan Posisi Keuangan, laporan Laba/Rugi dan Catatan atas laporan keuangan. IAI menyusun pedoman ini dengan menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan UMKM. Ketiga jenis laporan ini dapat dipelajari oleh siapapun meskipun tidak pernah belajar ilmu Akuntansi sebelumnya. Pada intinya, jika pelaku UMKM dapat menerapkan Managemen Keuangan dengan baik, maka usahanya tidak hanya dapat bertahan tapi juga dapat berkembang. (Bersambung)

*Penulis adalah Dosen IAIN Parepare dan Pemerhati Sosial Ekonomi

Terkait: CoronaCovid-19New NormalUMKM

BeritaTerkait

Festival Literasi Pinrang Digelar 5 Hari, Dorong Budaya Baca dan Gerakkan Ekonomi UMKM

Festival Literasi Pinrang Digelar 5 Hari, Dorong Budaya Baca dan Gerakkan Ekonomi UMKM

Editor: Tohir Muhammad
12 Agustus 2026

...

Pemkot Parepare Tekan Pengangguran, Gandeng Balai Vokasi hingga Buka Akses Kerja ke Luar Daerah

Pemkot Parepare Tekan Pengangguran, Gandeng Balai Vokasi hingga Buka Akses Kerja ke Luar Daerah

Editor: Tohir Muhammad
25 Juli 2026

...

Pemkab Pinrang dan BTN Perkuat Sinergi, Akses Pembiayaan UMKM Jadi Prioritas

Pemkab Pinrang dan BTN Perkuat Sinergi, Akses Pembiayaan UMKM Jadi Prioritas

Editor: Tohir Muhammad
3 April 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi