Oleh : Dhea Rahmah Artika, A.Md.Keb
( Praktisi Kesehatan, Aktivis Dakwah Remaja )
Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey pada tahun 2025 menunjukkan bahwa 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial, meningkat tajam dari 30% pada tahun sebelumnya.
Mirisnya, disaat yang sama, fenomena self-reward, healing, hiburan, dan konsumsi gaya hidup kian populer. Setelah bekerja keras, seolah menjadi tuntutan untuk membeli makanan favorit, kosmetik, pakaian, jalan-jalan, atau menikmati hiburan dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri. Fenomena ini sebenarnya tidak otomatis salah. Persoalannya muncul ketika konsumsi dijadikan mekanisme utama untuk mengatasi tekanan hidup.
Timbullah sebuah pertanyaan mendasar, mengapa generasi hari ini menjadi golongan yang merasa tidak aman secara finansial sehingga semakin membutuhkan konsumsi untuk merasakan arti bahagia?
Ada Tekanan Struktural
Gen Z sering disebut sebagai generasi yang paling adaptif terhadap kemajuan teknologi, paling akrab dengan euporia media sosial, sekaligus paling terbuka untuk membicarakan kesehatan mental. Namun, di balik berbagai label tersebut ada realitas yang jauh lebih serius dan butuh atensi lebih, yaitu generasi muda kini sedang hidup dalam himpitan ekonomi, tekanan sosial, dan ketidakpastian masa depan.
Terlalu mudah untuk menyalahkan Gen Z sebagai generasi yang boros, tidak mampu menabung, atau terlalu gemar healing. Narasi semacam itu justru berpotensi besar menutup persoalan struktural yang lebih besar. Bagaimana mungkin tuntutan terhadap anak muda untuk hidup hemat ketika biaya hidup terus meningkat, harga kebutuhan semakin mahal, sementara akses terhadap pekerjaan layak dan kepastian ekonomi tidak selalu mudah? Artinya, problem Gen Z bukan semata-mata hanya seputar tidak bisa mengatur keuangan. Ada tekanan struktural yang membuat masa depan terasa semakin mahal dan semakin tidak pasti.
Sistem yang Terpatri Nyatanya Rusak
Hari ini ada sebuah aturan hidup rusak yang justru diagungkan yaitu Kapitalisme, dimana standar kehidupan akan disandarkan pada keuntungan nilai materi belaka. Dalam sistem kapitalisme ini sendiri kebutuhan dasar kehidupan semakin banyak diletakkan sebagai tanggung jawab atas individu. Pendidikan, kesehatan, tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan ekonomi keluarga harus diperjuangkan masing-masing. Negara justru hanya hadir melalui berbagai kebijakan, tetapi mekanisme ekonomi yang dominan tetap membuat individu berhadapan langsung dengan tekanan pasar.
Ironisnya, tekanan ekonomi tersebut kemudian bertemu dengan budaya konsumtif yang dinilai sangat agresif. Media sosial tidak hanya sarana ruang komunikasi, kini media sosial telah berubah menjadi etalase kehidupan. Anak muda setiap hari diperlihatkan standar semu seperti kecantikan, kesuksesan, liburan, kuliner, fesyen, gadget, dan gaya hidup tertentu.
Lalu muncullah istilah FOMO, takut tertinggal dari gegap gempita sebuah tren, takut tidak dianggap, takut hidupnya tidak cukup menarik. Hari ini self-reward. Besok healing. Lusa little treat mungkin saja setelah itu akan muncul tren-tren baru. Akibatnya, konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan namun telah menjelma menjadi simbol identitas.
Sayangnya, hari ini agama telah dipisahkan dari pengaturan kehidupan, ukuran keberhasilan dengan mudahnya bergeser menjadi materi, berapa penghasilan, apa pekerjaan, mobil apa yang digunakan, rumah seperti apa yang dimiliki, ke mana bisa berlibur, dan seberapa menarik kehidupan yang dapat ditampilkan di media sosial.
Negara Bukan Sekadar Regulator
Disinilah fenomena ini akhirnya menjadi persoalan politik. Jika masalah Gen Z hanya dianggap sebagai persoalan financial literacy, solusinya cukup hanya dengan seminar mengatur keuangan. Jika masalahnya dianggap sebagai persoalan kesehatan mental, solusinya cukup dengan konseling. Kemudian jika dianggap persoalan konsumtif, solusinya cukup menyuruh anak muda gemar menabung.
Padahal persoalannya jauh lebih besar. Sistem ekonomi seperti apakah yang sedang membentuk kehidupan generasi muda? Negara seperti apa yang seharusnya hadir untuk menjamin kesejahteraan rakyat? Dan nilai apa yang seharusnya menjadi dasar pembentukan generasi?
Dalam perspektif Islam, negara wajib memiliki tanggung jawab besar terhadap pemenuhan kebutuhan rakyat. Pengelolaan kekayaan alam tidak semestinya hanya berorientasi pada keuntungan segelintir pihak, tetapi diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat. Dalam gagasan negara Khilafah, pengelolaan sumber daya alam yang menjadi milik umum ditempatkan sebagai bagian dari mekanisme pemenuhan kebutuhan masyarakat. Negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan rakyat memenuhi kebutuhan hidupnya secara layak.
Islam juga tidak memandang generasi sebagai pasar yang harus terus-menerus didorong untuk menjadi agen-agen konsumtif. Informasi, media, dan pendidikan seharusnya membangun kepribadian dan ketakwaan, bukan semata-mata mengejar engagement, klik, dan keuntungan iklan. Generasi muda harus dibentuk menjadi manusia yang memiliki visi, bukan sekadar konsumen. Mereka harus dididik untuk mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, memahami batas halal-haram, memiliki kepedulian sosial, serta memiliki kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Yang dibutuhkan adalah sistem yang mampu memberikan jaminan kebutuhan dasar, kesempatan kerja yang layak, pendidikan yang berkualitas, perlindungan terhadap masyarakat dari kerusakan budaya, serta pembentukan kepribadian yang memiliki tujuan hidup. Sebab tidak adil rasanya jika generasi muda terus disuruh beradaptasi dengan mahalnya kehidupan, sementara akar persoalannya tidak pernah disentuh.
Islam menawarkan paradigma berbeda, kehidupan tidak dibangun di atas kebebasan tanpa batas dan pengejaran materi, tetapi di atas akidah, syariah, dan tanggung jawab negara terhadap rakyat.
Karena itu, persoalan Gen Z sesungguhnya bukan hanya persoalan self-reward. Ini adalah persoalan ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan ideologi. Jika generasi muda terus dibiarkan terhimpit antara biaya hidup yang semakin tinggi, budaya konsumtif yang semakin kuat, dan tujuan hidup yang semakin kabur.
Wallahu a’lam Bissawab







