• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 7 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Esai; Belajar Ilmu Tulus Dari Seorang Pengemis

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
28 April 2017
di Opini
Esai; Belajar Ilmu Tulus Dari Seorang Pengemis

Terik matahari siang itu sangat terasa hingga di sudut meja warung kopi yang padat dengan pelanggan setianya, ketika saya tengah menyeruput suguhan kopi, seorang ibu berusia sekitar tujuh puluh tahunan, berperawakan sedang dengan penampilan lusuh, sambil berjalan tertatih-tatih mendekati saya dan menengadahkan tangannya degan muka memelas dan berkata “minta sedekahta pak” tanpa fikir panjang saya pun mencoba merogoh kocek dan berniat, berapa pun uang keluar dari usi kantongku akan saya berikan pada ibu tersebut. Tapi ternyata hanya ada beberapa lembar uang kertas ribuan, dalam hati saya bertutur “Ahh…. Sudahlah mungkin segini saja rejeki ibu ini melalui perantara isi kantong saya”

Ibu itu pun pergi meninggalkan meja saya dan beranjak ke meja lain, dari gelengan kepala beberapa pengunjung lain tampaknya terlihat tidak bersedia memberinya uang, namun tetdengar kalimat menggerutu “jangan biasakan memberi uang sama pengimis, itu sama halnya kita mengajarinya jadi pemalas” mendengar kata itu lalu kuhela nafas panjang.

Melihat kejadian tadi, saya mencoba meriview ingatan seorang sahabat se profesi saya sebagai seorang jurnalis, saya pun bertanya kondisi seperti apa yang bisa membuat kamu merasa menolong seseorang dengan profesi kita, dengan spontan ia berkata, ketika kita sudah memberitakan seseorang yang mengalami kondisi yang kurang beruntung, lalu kemudian orang berbondong-bondong memberinya bantuan, sambil memegang dadanya, ia berkata disitu kami merasakan memilik kepuasan batin.

Alam bawah sadar saya pun mulai mengorek ingatan saya, pada apa yang pernah saya alami, ketika kami mengantar seorang donatur yang hendak membantu seorang gadis yang terpaksa harus mengemis buat biaya operasi ayahnya yang mengalami gangguan katub jantung, usai mengantar sang donatur itu, saya kembali ke rumah dan menemui anak pertamaku yang sedang asyik bermain dengan kawannya, lalu iya menyambutku dengan memangilku ayah, besok hari terakhir saya membayar uang perpisahan sekolah, saya pun lalu bergegas ke mesin ATM terdekat, duh.. Ternyata isi rekeningku nominalnya tidak cukup untuk membayar uang perpisahan anakku, kembali saya hela nafas panjang dan berharap ada rejeki halal dalam waktu dekat buat biaaya perpisahan anakku, dari peristiwa itu saya belajar bahwa menolong itu suatu keikhlasan, suatu ketulusan, tidak boleh ada pamrih, maka menolonglah sepanjang kia bisa.

Berita Terkait

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

IKN Sebagai Smart City dengan Konsep Forest City Apa Kaitannya untuk Indonesia Emas 2045?

Gubernur dan Pisang Bawa Siswi SMAN 8 Pinrang Ini Juara 1 Lomba Esai Diknas Provinsi

ESAI : Pesona Paputo Beach, Destinasi Wisata yang Indah

Kalau kita cermati di sekitar kita yang begitu banyak orang menjadi pengemis, terkadang juga mungkin terbesit di benak kita apakah mereka yang mengemis ini layak dibantu? Tentulah, semuanya berpulang kepada niat tulus yang menari-nari di dalam lubuk hati kita yang terdalam.

Lagipula, perbuatan meminta-minta memang tergolong kurang baik. Sebab bisa kita mendengar kalimat lebih baik tangan di atas atau menolong, dari pada menerima pertolongan. Setidaknya, kita berupaya keras agar kita tidak meminta pertolongan, seperti halnya pengemis.

Kalau pun kita harus menolong, sepatutnya kita tidak menjadikan orang yang ditolong berada pada posisi mengemis. Artinya lebih jauh, kalau kita memang harus menolong, maka janganlah membuat orang yang akan ditolong itu menghambakan dirinya, terlebih bila ternyata bila orang menolong itu mempisisikan dirinya sebagai super hero dan memiliki jasa baik.

Tanpa bermaksud menggurui, orang tua saya pernah berkata, berusahalah terus berbuat baik meski pun perbuatan baik itu belum tentu dinilai baik, itu artinya sama dengan mereka menabur benih yang banyak, maka suatu saat dia akan menuai hasilnya kelak di kemudian hari, tentu hal ini terus berlaku, sebab menolong yang banyak sama halnya menabung amal kebaikan yang akan menolong kita, bila mana suatu saat kita akan berhadapan dengan kondisi yang sangat sulit. (*)

Abdillah MS
(Ketua Perhimpunan Jurnalis Ajatappareng – PIJAR)

(Pemimpin Redaksi PIJARNEWS.COM)

Terkait: Esai

TerkaitBerita

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Februari 2026

...

BeritaTerkini

Wali Kota Parepare dan Kapolres Jajal Lapangan Padel Royal Metro Sky

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Resmikan Masjid Anas Bin Malik dan SIT An Naas, Tasming Hamid Ajak Masyarakat Makmurkan Masjid

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Lelaki Berbadik di Pinrang Nyaris Bentrok, Aksi Heroik Danpos Watang Sawitto Tuai Pujian

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
7 Maret 2026

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan