• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 24 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Manajer KDKMP, Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

OPINI

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
24 Juli 2026
di Opini
Manajer KDKMP,  Penggerak Ruang Publik Ekonomi Desa

Penulis, Dian Muhtadiah Hamna diantara Calon Manager Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih usai memberi pelatihan di Dodiklatpur PPTK XIV Ambon, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram, Bagian Barat Maluku, Jumat (17/7/2026)

Oleh: Dian Muhtadiah Hamna (Jurnalis/Akademisi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Makassar)

SAAT berdialog dengan para calon Manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), saya sampai pada satu kesimpulan: tantangan terbesar koperasi ternyata bukan hanya mencari modal, mengisi stok barang, atau memastikan mesin kasir “tidak ngambek”.

Tantangan yang jauh lebih rumit adalah membangun kepercayaan masyarakat agar koperasi benar-benar menjadi rumah ekonomi bersama, bukan sekadar bangunan baru yang ramai saat diresmikan, lalu sunyi setelah spanduk dilepas.

Untuk kali pertama, saya bertemu dengan “murid terjauh”, yakni para Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia atau SPPI yang sedang dipersiapkan menjadi Manajer KDKMP. Disebut terjauh karena posisi saya berada di Makassar, sedangkan mereka menunggu di Pulau Seram.

BeritaTerkait

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

Edukasi Awal Sekolah Anti Perundungan

24 Juli 2026
Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

16 Juli 2026
Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

14 Juli 2026
Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026

Dini hari, Jumat, 17 Juli 2026, saya terbang menuju Kota Ambon. Pesawat berangkat ketika sebagian besar orang masih tidur nyenyak, sementara saya sudah duduk di kabin dengan mata yang belum sepenuhnya sepakat untuk terbuka.

Saya tiba di Ambon pukul 06.10 waktu setempat. Dari bandara Pattimura, saya dijemput panitia lokal menuju Pelabuhan Penyeberangan Hunimua. Perjalanan darat memakan waktu sekitar dua jam. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal feri menuju Pulau Seram selama kurang lebih dua jam lagi.

Di atas feri, saya membatin. Hidup memang penuh kejutan. Kemarin saya mengajar di Makassar, lalu pagi ini tiba-tiba berada di Ambon Manise untuk berbicara tentang Digitalisasi Koperasi SIMKOPDES dan KDKMP di hadapan ratusan calon Manager KDKMP.

Menjelang siang, saya tiba di Dodiklatpur PPTK XIV Ambon yang berlokasi di Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten Seram, Bagian Barat Maluku. Para calon Manajer KDKMP terdengar riuh ketika saya memasuki kelas.

“Maaf saya terlambat. Saya belum tidur sejak tadi malam karena mengejar pesawat subuh. Semangat kalian untuk menjadi Manajer KDKMP ikut menghidupkan semangat saya,” ucap saya, cukup merasa bersalah.
Ucapan itu disambut tepuk tangan peserta yang telah menunggu hampir dua jam. Tepuk tangan yang cukup meriah. Saya tidak tahu apakah mereka benar-benar terharu atau sekadar lega karena akhirnya pengajarnya muncul juga.

Ada hal menarik dari para calon Manajer KDKMP tersebut. Mereka berasal dari beragam disiplin ilmu. Kenyataan ini menunjukkan bahwa mengurus koperasi tidak hanya menjadi hak istimewa orang yang pernah belajar manajemen di kampus. Siapa bilang koperasi hanya boleh dikelola oleh mereka yang akrab dengan neraca, laba-rugi, dan istilah keuangan yang kadang lebih sulit dipahami daripada kode dari seseorang yang sedang marah?

Para calon manajer ini datang dengan pengalaman, keahlian, dan cara pandang yang berbeda. Namun, mereka dipersatukan oleh satu tujuan: membangun koperasi sebagai kekuatan ekonomi desa yang mandiri, inklusif, dan berdaya saing.

Setelah menyampaikan materi, saya mengajak mereka melihat posisi manajer dari sudut pandang yang lebih luas. Manajer koperasi bukan hanya orang yang mengurus administrasi, mengecek stok barang, membuat laporan, dan menjawab pertanyaan mengapa harga beras naik. Mereka juga berperan sebagai penggerak komunikasi ekonomi di desa.

Di sinilah pekerjaan menjadi menarik sekaligus menantang. Sebab, angka dalam laporan keuangan bisa dihitung, tetapi kepercayaan masyarakat tidak tumbuh hanya melalui perhitungan matematis. Ia dibangun melalui komunikasi, transparansi, dan pengalaman positif yang berlangsung secara berkelanjutan.

Ketika berbicara tentang koperasi, sebagian orang masih melihatnya sebagai institusi ekonomi yang hanya mengurus simpan pinjam, perdagangan, atau pelayanan kebutuhan masyarakat. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, makna koperasi menjadi terlalu sederhana apabila dibatasi pada urusan membeli, menjual, meminjam, dan mencicil.

Koperasi pada hakikatnya merupakan ruang sosial yang mempertemukan manusia, gagasan, kepentingan, dan harapan bersama. Di dalam koperasi, warga bukan sekadar pelanggan yang datang membawa uang dan pulang membawa barang. Mereka adalah anggota, pemilik, sekaligus pihak yang menentukan arah organisasi.
Semangat tersebut menjadi fondasi penting Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Kehadirannya membawa gagasan besar tentang bagaimana desa dapat tumbuh sebagai pusat ekonomi berbasis masyarakat.

Koperasi tidak hanya diarahkan untuk menyediakan kebutuhan sehari-hari. Ia diharapkan menjadi instrumen pemberdayaan, memperkuat kemandirian warga, menghubungkan potensi lokal dengan pasar, dan menciptakan distribusi manfaat ekonomi yang lebih merata.

Namun, keberhasilan KDKMP tidak cukup diukur dari megahnya kantor, banyaknya rak, cepatnya jaringan internet, atau panjangnya daftar unit usaha. Kepercayaan publik adalah napas koperasi. Tanpanya, koperasi hanya menjadi organisasi yang tercatat secara administratif, tetapi tidak hidup secara sosial.

Penghubung Aspirasi dan Kepentingan Masyarakat
Konsep ruang publik sering dibicarakan dalam konteks politik dan demokrasi. Ruang publik dipahami sebagai tempat masyarakat menyampaikan pandangan, memperdebatkan kepentingan, dan mencari kesepakatan bersama.

Namun, ruang publik sebenarnya juga dapat berkembang dalam aktivitas ekonomi. Di tingkat desa, ruang publik ekonomi merupakan tempat warga bertukar informasi, menyampaikan kebutuhan, membicarakan potensi lokal, serta menentukan arah pengembangan ekonomi bersama.

Koperasi memiliki peluang besar untuk menjadi ruang tersebut. Prinsip koperasi menempatkan anggota sebagai pemilik sekaligus pengguna layanan. Artinya, koperasi tidak boleh bergerak hanya berdasarkan keputusan segelintir pengurus, apalagi berdasarkan firasat seseorang yang merasa paling memahami kebutuhan desa.

Pada titik ini, manajer koperasi memegang peranan penting. Manajer harus menjadi penghubung antara kepentingan organisasi dan kebutuhan masyarakat.
Setiap desa memiliki karakter ekonomi yang berbeda. Ada desa yang bertumpu pada pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, kerajinan, pariwisata, atau ekonomi kreatif. Oleh karena itu, model usaha koperasi tidak dapat diseragamkan seperti seragam sekolah.

Koperasi di wilayah pertanian tentu menghadapi persoalan berbeda dengan koperasi di wilayah pesisir. Petani mungkin membutuhkan pupuk, akses pasar, gudang, dan kepastian harga. Nelayan membutuhkan penyimpanan dingin, bahan bakar, serta jalur distribusi. Pelaku UMKM membutuhkan kemasan, promosi digital, dan akses pembiayaan. Generasi muda mungkin membutuhkan pelatihan bisnis digital dan ruang kreativitas.

Tugas manajer adalah membaca realitas tersebut, bukan sekadar menyalin program dari desa lain lalu mengganti nama wilayah pada halaman sampul.

Manajer harus mendengarkan aspirasi warga, mengenali persoalan ekonomi, serta menerjemahkan kebutuhan lokal menjadi strategi usaha. Koperasi harus dibangun berdasarkan kehidupan nyata masyarakat, bukan hanya berdasarkan presentasi yang terlihat menarik di layar proyektor.

Fondasi Koperasi yang Berkelanjutan
Hubungan antara koperasi dan masyarakat dapat dijelaskan melalui teori Two-Way Symmetrical Communication yang dikembangkan James E. Grunig. Grunig menjelaskan bahwa komunikasi yang efektif tidak berhenti pada penyampaian pesan dari organisasi kepada publik. Komunikasi harus menciptakan hubungan yang memungkinkan organisasi dan masyarakat saling mendengar, saling memahami, dan melakukan penyesuaian.

Secara sederhana, komunikasi dua arah simetris berarti koperasi tidak hanya memegang mikrofon, tetapi juga bersedia menyerahkannya kepada masyarakat.

Prinsip ini sangat relevan dalam pengelolaan Kopdes Merah Putih. Manajer tidak cukup hanya menjelaskan bahwa koperasi telah berdiri, memiliki layanan tertentu, dan membuka usaha baru. Mereka juga harus membuka ruang agar masyarakat dapat menyampaikan kritik, kebutuhan, kekhawatiran, bahkan ketidaksetujuannya.

Sebelum menentukan unit usaha, misalnya, manajer perlu bertanya: apakah masyarakat membutuhkan akses pangan dengan harga lebih terjangkau? Apakah petani kesulitan memeroleh pupuk? Apakah hasil panen sering dibeli dengan harga rendah? Apakah pelaku UMKM kesulitan masuk ke pasar yang lebih luas? Apakah anak-anak muda memiliki ide usaha tetapi kekurangan pendampingan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dari balik meja kantor. Manajer perlu turun, berdialog, dan mendengarkan. Sesekali mungkin juga perlu duduk di warung kopi karena di banyak desa, informasi penting justru lebih cepat beredar di sana daripada dalam rapat resmi.

Komunikasi dua arah menjadikan masyarakat bukan sebagai objek penerima program, melainkan mitra yang ikut menentukan arah koperasi. Manajer berfungsi sebagai fasilitator dialog, bukan penguasa tunggal.
Ketika masyarakat merasa didengar, kepercayaan akan tumbuh. Ketika kepercayaan tumbuh, partisipasi meningkat. Saat partisipasi menguat, koperasi memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang.

Menjadi Pemimpin Sosial
Selain komunikasi, keberhasilan koperasi juga ditentukan oleh modal sosial. Modal sosial menjelaskan bahwa kekuatan komunitas tidak hanya berasal dari uang, aset, atau fasilitas, tetapi juga dari kepercayaan, norma bersama, solidaritas, dan jaringan kerja sama.

Modal finansial dapat digunakan untuk membeli etalase, komputer, kendaraan operasional, atau stok barang. Akan tetapi, uang tidak secara otomatis dapat membeli rasa memiliki.

Dalam kehidupan desa, modal sosial sebenarnya telah lama hadir melalui gotong royong, musyawarah, solidaritas, dan kebiasaan saling membantu. Nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan nyata yang dapat menopang ekonomi desa.

Namun, modal sosial juga dapat menipis apabila tidak dirawat. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun dapat rusak hanya karena satu laporan yang tidak transparan atau satu keputusan yang dianggap tidak adil.

Oleh karena itu, manajer koperasi harus menjaga transparansi, membuka akses informasi, menerima kritik, menghargai aspirasi anggota, dan membangun hubungan setara dengan masyarakat.

Manajer koperasi masa depan juga harus menjadi pemimpin sosial yang mampu menjembatani kepentingan ekonomi dan kebutuhan masyarakat. Mereka perlu mempertemukan pemerintah desa, warga, pelaku usaha lokal, kelompok perempuan, petani, nelayan, generasi muda, dan berbagai unsur lainnya.

Dengan kemampuan tersebut, koperasi dapat berkembang menjadi pusat interaksi ekonomi masyarakat. Koperasi bukan hanya tempat orang membeli beras, minyak goreng, atau kebutuhan rumah tangga. Ia menjadi tempat masyarakat membangun jaringan, belajar, berkolaborasi, bertukar informasi, dan menciptakan peluang usaha baru.

Kopdes Merah Putih memiliki peluang besar menjadi simbol kebangkitan ekonomi berbasis masyarakat. Namun, keberhasilannya tidak boleh hanya dihitung dari jumlah koperasi yang didirikan, banyaknya unit usaha, atau besarnya transaksi.

Koperasi akan berjaya ketika mampu membangun hubungan, merawat kepercayaan, dan menyediakan ruang bersama bagi masyarakat desa. Di situlah peran penting seorang manajer: bukan hanya menjaga agar usaha tetap berjalan, tetapi memastikan koperasi tetap memiliki jiwa. (*)

Terkait: KDKMPManager KDKMP

BeritaTerkait

Tak Ada Konten Tersedia

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi