• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Sulselbar

Begini Meriahnya Maulid Nabi Dirangkai Tradisi Sayyang Pattuddu di Ujung Lero

Editor: Alfiansyah Anwar
22 Desember 2019
di Sulselbar
Begini Meriahnya Maulid Nabi Dirangkai Tradisi Sayyang Pattuddu di Ujung Lero

Suasana saat tradisi Sayyang Pattuddu digelar di Desa Ujung Lero, Suppa, Pinrang, Sabtu (21/12/2019).

PINRANG, PIJARNEWS.COM — Maulid Nabi Muhammad SAW digelar secara meriah di Lapangan Desa Ujung Lero, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Sabtu (21/12/2019) kemarin.

Acara ini dirangkai dengan tradisi Sayyang Pattuddu atau pagelaran Kuda Menari. Puluhan ribu orang menyaksikan acara yang digelar satu kali dalam dua tahun itu.

Habib Abdurrahim Assegaf Puang Makka (Pakai Sorban). –fiand/pijarnews–

Tampil sebagai pembawa hikmah maulid yakni Habib Abdurrahim Assegaf atau akrab disapa Puang Makka. Menurut Puang Makka, teladan nabi yang perlu diterapkan dalam kondisi bangsa saat ini yakni penyantun dan penyayang. “Sikap penyantun dan penyayang inilah yang disandangkan Allah Subhana Wataala kepada Rasulullah Muhammad Sallalahu Alaihi Wasallam,” ujar Puang Makka.

Usai ceramah maulid, warga kemudian mendekati pohon pisang yang telah dihias. Umumnya hiasan berisi telur yang sudah direbus. Sejumlah makanan dan minuman juga dibagikan kepada pengunjung yang menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

BeritaTerkait

Pengurus IKAPI Sulsel Resmi Dilantik, Nur Amin Saleh: Rumah Penerbit Tumbuh Bersama

Pengurus IKAPI Sulsel Resmi Dilantik, Nur Amin Saleh: Rumah Penerbit Tumbuh Bersama

1 September 2026
Kolaborasi Umpar, Unhas, dan Universitas Patompo Dorong Transformasi Usaha Perikanan Pesisir di Desa Lawallu Barru

Kolaborasi Umpar, Unhas, dan Universitas Patompo Dorong Transformasi Usaha Perikanan Pesisir di Desa Lawallu Barru

22 Agustus 2026
11 Tahun Al-Risalah Batetangnga: Dari Langkah Kecil Menjadi Gerakan Besar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Energi Pertumbuhan

11 Tahun Al-Risalah Batetangnga: Dari Langkah Kecil Menjadi Gerakan Besar, Kepercayaan Masyarakat Jadi Energi Pertumbuhan

20 Agustus 2026
Tim PKM Universitas Hasanuddin Dampingi Poklahsar Milkfish Lestari  Soppeng Kembangkan Olahan Ikan Patin Berbasis Zero Waste

Tim PKM Universitas Hasanuddin Dampingi Poklahsar Milkfish Lestari Soppeng Kembangkan Olahan Ikan Patin Berbasis Zero Waste

19 Agustus 2026

Selesai acara maulid, siang hari usai Salat Duhur, panitia kemudian menggelar tradisi Sayyang Pattudu. Panitia menampilkan sekira 30 kuda yang telah dilatih khusus.  Kuda tersebut berjalan sambil menari diiringi musik tradisional dan musik religi.

Warga yang sudah khatam Al-Quran menunggang kuda. –fiand/pijarnews–

Kuda tersebut ditunggangi satu hingga dua orang yang telah khatam Alquran. Pesertanya bukan saja warga Ujung Lero, tetapi juga warga Suku Mandar yang ada di Luar Provinsi seperti Polman, Sulawesi Barat, Kalimantan Timur dan Kendari, Sulawesi Tenggara.

Mereka kemudian diarak keliling kampung dan disaksikan puluhan ribuan pengunjung. 

Camat Cuppa, Amran mengatakan, tradisi Sayyang Pattudu ini sebenarnya berasal dari Tanah Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Namun karena mayoritas warga Ujung Lero, Suppa, Kabupaten Pinrang merupakan Suku Mandar, maka tradisi ini juga dilestarikan sekali dalam dua tahun. Hal serupa juga diungkapkan Kepala Desa Ujung Lero, HM Amin.  

Ketua Panitia Maulid dan Sayyang Pattudu, Nurhamma mengatakan, zaman dulu, Sayyang Pattudu ini digelar hanya untuk kalangan bangsawan Suku Mandar saja. Namun karena seiring perkembangan zaman, atas saran seorang ulama saat itu, sehingga Sayyang Pattudu digunakan sebagai salah satu syiar Islam.

“Kini, kuda menari ini bisa ditunggangi warga yang sudah khatam Al-Quran. Mereka kemudian dipandu lalu diarak keliling ke pemukiman warga,” kata Nurhamma.

Salah seorang pemandu kuda menari, Muhammad Idris mengaku melatih khusus kuda Sayyang Pattudunya sepekan sebelum tampil. Kuda itu umumnya didatangkan dari Polman, Sulawesi Barat. “Sewanya berkisar antara Rp750 ribu hingga satu juta rupiah,” kata Idris.

Salah seorang pengunjung asal Kota Parepare, Arifuddin Beddu mengapresiasi kegiatan tradisi Sayyang Pattuddu yang mengedepankan budaya kearifan lokal. “Tradisi ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Desa Ujung Lero, sehingga berpotensi meningkatkan pendapatkan asli daerah (PAD),” ujar ayah tiga anak yang berprofesi sebagai notaris ini. (*)

 Penulis : Alfiansyah Anwar

 

 

 

 

Terkait: Kuda MenariSayyang PattudduSuku MandarUjung Lero

BeritaTerkait

Kemarau Mudahkan Nelayan di Ujung Lero Berburu Ikan

Kemarau Mudahkan Nelayan di Ujung Lero Berburu Ikan

Editor: Tohir Muhammad
2 November 2023

...

Dosen FEB Umpar Edukasi Masyarakat Nelayan Pelaku Usaha Sarung Tenun Sutra di Desa Lero

Dosen FEB Umpar Edukasi Masyarakat Nelayan Pelaku Usaha Sarung Tenun Sutra di Desa Lero

Editor: Tohir Muhammad
28 Agustus 2023

...

ilustrasi pasien

Tujuh Tenaga Medis Pinrang Terpapar Covid -19

Editor: Tohir Muhammad
15 Oktober 2020

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi