ESAI, PIJARNEWS.COM — Di sejumlah jalan protokol Kota Makassar, Sulawesi Selatan, terpampang baliho promosi yang ada gambar perempuan dengan perhiasan emas. Kalimatnya sederhana, tetapi mengundang senyum: Kijang seperti emas, harga jual kembalinya tetap tinggi. Di salah satu sudut baliho itu, tercantum nama Kalla.
Kalimat promosi tersebut mengingatkan pada satu unit mobil Kijang LGX keluaran 2002. Hingga kini masih setia menemani keluarga. Usianya sudah lebih dari dua dekade. Beberapa kali masuk bengkel, sejumlah komponennya telah diganti, tetapi mesinnya masih berusaha mengantarkan kami ke berbagai tujuan.
Saya belum pernah memiliki mobil Kijang atas nama sendiri. Namun, selama hampir 19 tahun, saya cukup akrab dengan mobil keluarga mertua. Dari situlah saya mengenal Kijang bukan semata-mata sebagai kendaraan, melainkan juga sebagai bagian dari perjalanan hidup dan kenangan keluarga.
Sekitar 2007, almarhum mertua lakilaki saya memiliki Toyota Kijang Krista tahun 1989. Mobil berwarna hijau itu bukan sekadar alat transportasi. Ia dirawat dengan penuh perhatian oleh pemiliknya. Sebelum punya Kijang, mertua punya Mobil Toyota Hardtop.
Hampir setiap pagi, beliau membersihkan dan mencuci mobil kesayangannya sendiri. Tak perlu menunggu mobil terlihat kotor untuk merawatnya. Barangkali, bagi beliau, merawat kendaraan juga bagian dari menjaga amanah atas rezeki yang dititipkan Allah Swt.
Pada masa itu, saya masih perlu belajar mengemudikan mobil. Mertua kemudian mengajari saya mengendarai Kijang Krista miliknya. Tujuannya sederhana: agar saya bisa meminjam mobil tersebut ketika harus meliput berita ke luar daerah, daripada menyewa kendaraan.
Pelajaran pertama berlangsung di halaman rumah. Saya diajari mengenal pedal gas, kopling, dan rem. Hampir setiap hari latihan itu dilakukan. Maju dan mundur di halaman rumah. Setelah sekitar sepekan, Alhamdulillah, saya mulai bisa mengemudikannya. Seorang anggota keluarga yang juga sahabat kemudian membantu saya berlatih di jalan poros dari arah Parepare ke Pinrang.
Dari halaman rumah itulah saya belajar bahwa sebuah kendaraan bisa menjadi sarana untuk menjemput tanggung jawab. Bagi seorang wartawan, mobil bukan sekadar benda yang mengantarkan tubuh, tetapi juga membantu mengantarkan kabar kepada masyarakat.
Tak lama kemudian, sebuah Toyota Kijang Innova milik Kakak Ipar juga hadir di rumah mertua. Mobil yang diperdagangkan Kakak Ipar itu disimpan di garasi. Seperti Kijang Krista, mesinnya perlu dinyalakan dan kendaraannya dirawat secara berkala. Sesekali, saya pun berkesempatan menggunakannya.
Namun, perjalanan kedua mobil itu di rumah mertua tidak berlangsung lama. Kijang Krista dan Kijang Innova akhirnya dijual. Saya ikut andil melakukan transaksi penjualan untuk dua mobil tersebut. Hasil penjualan Kijang Krista digunakan sebagai tambahan dana untuk membeli sebuah rumah toko (ruko), termasuk membantu biaya renovasinya. Sementara itu, hasil penjualan Kijang Innova diserahkan kepada Kakak Ipar yang ketika itu berdagang mobil bekas di Kalimantan Timur.
Di sini, saya mulai memahami mengapa mobil Kijang kerap disebut memiliki nilai jual kembali yang baik. Kendaraan yang semula dibeli untuk memenuhi kebutuhan keluarga ternyata dapat pula menjadi bagian dari perencanaan ekonomi rumah tangga.
Dalam teori pemasaran, nilai sebuah produk tidak hanya ditentukan oleh harga ketika dibeli. Ada pula nilai yang dirasakan konsumen selama menggunakan produk tersebut, termasuk manfaat, kemudahan perawatan, ketersediaan suku cadang, dan nilai jual kembali.
Philip Kotler dan Kevin Lane Keller, dalam kajian pemasaran, menjelaskan pentingnya nilai pelanggan dan kepuasan dalam membangun hubungan jangka panjang antara konsumen dan merek. Dalam pengalaman keluarga kami, kepercayaan terhadap Kijang tumbuh bukan karena iklan semata, melainkan karena pengalaman menggunakannya dari tahun ke tahun.
Tentu, pengalaman sebuah keluarga tidak bisa dijadikan ukuran bagi seluruh pemilik Kijang. Harga jual kendaraan bekas tetap dipengaruhi usia, kondisi, perawatan, permintaan pasar, dan berbagai faktor lainnya. Namun, bagi keluarga kami, pengalaman itu cukup menjadi alasan untuk memahami mengapa Kijang memiliki tempat tersendiri di hati sebagian masyarakat.
Setelah kedua mobil tersebut dijual, Kakak Ipar dari Kalimantan Timur kembali mengirimkan sebuah Toyota Kijang LGX tahun 2002. Mobil inilah yang hingga kini masih digunakan keluarga.
Perjalanan Kijang LGX buatan Jepang ini tentu tidak selalu mulus. Keluar-masuk bengkel sudah menjadi bagian dari kesehariannya. Konsumsi bahan bakarnya pun terasa cukup besar. Maklum, kapasitas mesinnya sekitar 1.800 Cc. Namun, bodinya yang kokoh dan ruang kabinnya yang lapang masih menjadi alasan keluarga mempertahankannya.
Kaki-kakinya sebagian besar sudah dibenahi. Setidaknya lima bengkel di Kota Parepare pernah membantu memperbaiki mobil berwarna Hijau Toska yang masih kami rawat itu.
Kompresor AC telah diganti agar kabin kembali terasa sejuk. Sepasang demi sepasang komponen suspensi, karet kaki-kaki, engine mounting, dan sejumlah komponen lainnya juga telah diganti. Bahkan, komponen power steering, kampas kopling, dan matahari kopling sudah mendapat perhatian.
Kalau mobil ini bisa bercerita, barangkali ia akan menyebut nama-nama bengkel yang pernah menjadi tempatnya beristirahat. Ada biaya perawatan yang harus dikeluarkan, ada waktu yang perlu disisihkan, dan ada kesabaran yang mesti dipelihara.
Beberapa waktu lalu, Kijang LGX ini pernah ditawar untuk dibeli. Namun, keluarga belum berkenan melepasnya. Bukan semata-mata karena merasa harga tersebut belum sesuai dengan nilai mobil, melainkan karena masih ada ikatan kenangan yang sulit dihitung dengan uang.
Di sinilah saya tersenyum mengingat baliho Kalla tadi. Jika Kijang disebut seperti emas karena harga jualnya tetap tinggi, semoga Kijang kami juga masih menyimpan sedikit kilau itu.
Namun, tentu saja, emas dan mobil berbeda. Emas tidak perlu mengganti kampas kopling, tidak mengeluh ketika AC rusak, dan tidak meminta diantar ke bengkel. Sementara itu, Kijang kami masih harus berjuang menghadapi usia, jalanan, dan kebutuhan perawatan yang tidak sedikit.
Meski demikian, mobil ini pernah membawa saya melintasi sejumlah daerah untuk menjalankan tugas jurnalistik dan menjadi dosen. Saya pernah mengemudikannya ke Mamuju, Sulawesi Barat, ke Siwa, Kabupaten Wajo, serta beberapa kali ke Makassar.
Setiap perjalanan menyimpan cerita. Ada berita yang harus segera dikirim, ada jalan panjang yang harus ditempuh, dan ada keluarga yang menunggu kepulangan. Dalam perjalanan seperti itu, kendaraan yang setia tentu memiliki arti tersendiri.
Orang Bugis mengenal falsafah resopa temmangingngi, namalomo naletei pammase Dewata Seuwae. Artinya, hanya dengan kerja keras dan ketekunan, rahmat Tuhan akan lebih mudah menghampiri.
Falsafah ini mengajarkan bahwa hasil tidak datang begitu saja. Ada usaha, kesabaran, dan ikhtiar yang harus dijalani. Barangkali, begitu pula cara kami merawat Kijang klasik ini: tidak berharap ia selalu sempurna, tetapi berusaha menjaganya agar tetap bermanfaat.
Dalam ajaran Islam, rasa syukur juga tidak berhenti pada ucapan. Syukur dapat diwujudkan dengan memanfaatkan nikmat secara baik dan bertanggung jawab. Allah Swt. berfirman dalam QS Ibrahim ayat 7, bahwa apabila manusia bersyukur, niscaya Allah akan menambah nikmat kepadanya.
Bagi kami, Kijang LGX ini adalah salah satu nikmat yang patut disyukuri. Ia mungkin tidak lagi muda, tetapi masih dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Sayangnya, pada September hingga Oktober 2026 ini, mobil tersebut lebih jarang digunakan. Kelangkaan Pertalite membuat kami harus mempertimbangkan waktu dan kebutuhan sebelum bepergian. Mengantre berjam-jam di SPBU bukan perkara mudah, terlebih ketika ada pekerjaan lain yang juga menunggu.
Belakangan, usai penerapan sistem ganjil-genap pelat nomor kendaraan di SPBU, kini sudah mulai memberi harapan agar pengisian BBM lebih teratur. Kami pun berharap dapat kembali menggunakan Kijang sesuai jadwal yang berlaku.
Sabtu malam, 17 Oktober 2026, kami terpaksa membeli bensin eceran dalam botol untuk sekadar membawa mobil ke salah satu tempat di Kota Parepare. Alhamdulillah, bahan bakar itu cukup untuk perjalanan singkat tersebut. Sepulang dari lokasi tersebut, kami mencoba antre di salah satu SPBU dan akhirnya bisa mengisi full BBM Pertalite.
Semoga ketersediaan BBM segera kembali normal. Bukan hanya agar Kijang kami bisa kembali beroperasi, tetapi juga agar masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada kendaraan dapat menjalankan aktivitas dengan lebih tenang.
Di tengah cerita ini, saya teringat nama Kalla yang terpampang pada baliho promosi tadi. Sebagai perusahaan yang telah lama dikenal masyarakat Sulawesi Selatan, PT NV Hadji Kalla tentu memiliki pengalaman panjang dalam memahami kebutuhan konsumen Kijang Toyota.
Saya tidak sedang mengajukan permintaan khusus, apalagi merasa bahwa mobil tua kami harus mendapat perlakuan istimewa. Saya hanya membayangkan, alangkah menyenangkannya jika suatu hari ada program yang memberi kesempatan kepada pemilik Kijang lama untuk memeriksa kondisi kendaraannya dan berkonsultasi mengenai perawatan. Baik mesin maupun bodinya.
Barangkali, bagi perusahaan, program seperti itu dapat menjadi bentuk hubungan baik dengan pelanggan lintas generasi.
Dalam pemasaran, hubungan pelanggan tidak selalu selesai ketika transaksi pembelian terjadi. Kepercayaan dapat tumbuh melalui pelayanan, perhatian, dan pengalaman yang baik sepanjang masa penggunaan produk. Dan, siapa tahu, kisah sederhana tentang sebuah Kijang tua ini dapat menjadi pengingat bahwa di balik setiap kendaraan, ada manusia dan kenangan yang menyertainya.
Falsafah Bugis sipakatau, sipakalebbi, sipakainge mengajarkan kita untuk saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan. Semoga semangat itu juga hadir dalam hubungan antara perusahaan dan masyarakat: bukan semata-mata penjual dan pembeli, melainkan sesama pihak yang saling memberi manfaat.
Jika kelak Kijang LGX ini benar-benar harus berganti, tentu kami akan mempertimbangkannya dengan bijaksana. Namun, selama masih bisa dirawat dan digunakan, kami akan berusaha menjaganya sebaik mungkin.
Sebab, bagi kami, nilai sebuah mobil tidak selalu terletak pada tahun produksinya, kemilau catnya, atau tingginya harga jual kembali. Ada nilai yang lebih sunyi: kenangan bersama orang-orang tercinta, perjalanan mencari nafkah, dan jasa yang pernah diberikannya.
Almarhum mertua telah mengajari mengemudikan Kijang. Kini, setiap kali memegang kemudi Kijang LGX, ada bagian dari kenangan itu yang seolah ikut berjalan.
Semoga Allah Swt. melimpahkan rahmat kepada beliau, menjaga keluarga kami, serta memudahkan rezeki setiap orang yang sedang berjuang di jalan kehidupannya.
Dan kepada Kijang klasik kami, semoga mesinnya tetap sehat, suku cadangnya mudah ditemukan, dan jalannya masih panjang.
Sebab, tidak semua yang berharga harus berkilau seperti emas. Ada yang cukup tua, sedikit berisik, sesekali masuk bengkel, tetapi tetap setia menemani perjalanan. (ai/alf)












