• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 26 April, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Esai: Rumah Bagi Penyair

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
4 Maret 2017
di Budaya dan Sastra

Rumah Bagi Penyair
(Ilham Halimsyah)

“Kalau rumah bagi penyair adalah puisi. Maka saya harus segera pulang. ”

Setahun bahkan lebih, puisi-puisi saya tak lahir. Mungkin terhimpit rutinitas keseharian yang ritmenya menyita waktu. Hingga tak menyisakan tempat untuk sekadar berkontemplasi. Atau karena realitas yang saya jalani tak menyodorkan romantisme yang perlu diabadikan. Saya seperti kehilangan enargi kreatif untuk meramu kata, menyusun kalimat menjadi puisi memukau.

“Di teras hujan menderas. Seketika cuaca berkemas. Langit pun berganti lekas. Serupa cemas yang tak bisa diremas.”

Padahal, dalam kurun waktu 1996-2006, puisi-puisi saya terpublikasi secara meluas. Baik di media lokal maupun di media nasional. Baik pada terbitan harian, bulanan, maupun buku. Kalau menulis puisi membutuhkan sebuah stimulan, maka rangsangan inilah yang nampaknya tak hinggap dalam benak saya selama ini.

Berita Terkait

Sang Vespa, Si Saksi Perjuangan

ESAI: Komunikasi Digital sebagai Pembawa Harapan bagi Generasi Z

IKN Sebagai Smart City dengan Konsep Forest City Apa Kaitannya untuk Indonesia Emas 2045?

Gubernur dan Pisang Bawa Siswi SMAN 8 Pinrang Ini Juara 1 Lomba Esai Diknas Provinsi

“Seketika angin menderu. Langit membiru. Padahal belum sempat ia menitip rindu.”

Kata-kata seperti menguap begitu saja. Tak sempat terabadikan. Peristiwa-peristiwa berlalu. Tanpa mampu kurekam secara gramatik. Ini juga bisa jadi karena peristiwa tersebut berlangsung secara berentetan. Sehingga belum sempat merefleksinya, datang lagi peristiwa lain. Dan ini memberondong sepanjang hari.

“Maka kubiarkan dingin memelukmu agar hujan beku di rindumu.”

Saya teringat perkataan seorang kawan penyair; “ada dua hal yang membuat puisi dapat dengan mudah lahir, pertama kalau kita jatuh cinta, kedua kalau kita patah hati.” Lantas apakah saya mesti jatuh cinta lagi untuk bisa mencipta puisi? Atau mesti patah hati dulu agar kembali melahirkan sajak?” ungkapku dalam hati.

“Kalau rumah bagi penyair adalah puisi. Maka saya rindu untuk pulang.”

28 Juni 2009

Terkait: EsaiPuisi

TerkaitBerita

Lestarikan Budaya, Tim dosen UMS Rappang Latih Tari Tradisi dan Kreasi Sanggar Seni Aiyra di Soppeng

Editor: Tim Redaksi
28 Oktober 2025

...

Kerabat Arung Batulappa Bentuk Dewan Adat, Bakal Godok Nama untuk Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Kerabat Arung Batulappa Bentuk Dewan Adat, Bakal Godok Nama untuk Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

Editor: Muhammad Tohir
7 Agustus 2025

...

“Art The Seen Exhibition”: Jejak Akademik, Estetik, dan Etik dalam Ruang Pamer Seni Rupa Unismuh Makassar

“Art The Seen Exhibition”: Jejak Akademik, Estetik, dan Etik dalam Ruang Pamer Seni Rupa Unismuh Makassar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Juli 2025

...

Juli, SSB BSF IAIN Bone-Dinas Kebudayaan Gelar SEBAYA FEST 2025 Antar Pelajar

Juli, SSB BSF IAIN Bone-Dinas Kebudayaan Gelar SEBAYA FEST 2025 Antar Pelajar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
21 Juni 2025

...

Berita Terkini

 JCH Embarkasi Makassar Kini Bisa Gunakan Skema Makkah Route

 JCH Embarkasi Makassar Kini Bisa Gunakan Skema Makkah Route

Editor: Muhammad Tohir
26 April 2026

Imigrasi Parepare Perkuat Pencegahan TPPO, Sasar Kelurahan Lemoe

Imigrasi Parepare Perkuat Pencegahan TPPO, Sasar Kelurahan Lemoe

Editor: Muhammad Tohir
26 April 2026

Audisi D’Academy 8, Bupati: Sidrap Punya Banyak Talenta

Audisi D’Academy 8, Bupati: Sidrap Punya Banyak Talenta

Editor: Muhammad Tohir
25 April 2026

Sang Vespa, Si Saksi Perjuangan

Sang Vespa, Si Saksi Perjuangan

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 April 2026

Ngopi Kamtibmas: Dari Secangkir Kopi, Polisi dan Warga Antang Rajut Keamanan Kota

Ngopi Kamtibmas: Dari Secangkir Kopi, Polisi dan Warga Antang Rajut Keamanan Kota

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 April 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan