Oleh :Dr. Dian Muhtadiah Hamna, M.I.Kom, Arni, S.Kom, M.I.Kom dan Mukrimah Anas (Universitas Muhammadiyah Makassar)
Era di mana informasi hanya dimonopoli oleh televisi dan surat kabar resmi telah usai. Kini, di sudut-sudut Kecamatan Buntu Batu, Kabupaten Enrekang, sebuah transformasi digital sedang terjadi. Lewat layar ponsel, warga tidak lagi sekadar menjadi penonton berita, melainkan pemain aktif dalam dunia informasi melalui fenomena Citizen Journalism atau jurnalisme warga.
Sebuah penelitian terbaru memotret peran krusial akun Instagram @enrekanginfo dalam membentuk pola pikir dan tingkat literasi informasi masyarakat setempat. Hasilnya mengejutkan: media sosial bukan lagi sekadar tempat pamer foto, melainkan “sekolah digital” yang melatih warga untuk kritis.
Kecepatan yang Melampaui Media Konvensional
Dengan pengikut mencapai 171 ribu (per Februari 2026), @enrekanginfo telah menjadi sumber rujukan utama. Mengapa? Karena kecepatan. Mulai dari info tanah longsor, kebakaran, hingga barang hilang di Buntu Batu tersaji hampir seketika, seringkali lebih cepat daripada rilisan berita resmi.
Namun, kecepatan ini membawa tantangan tersendiri terkait kredibilitas. Di sinilah teori Uses and Gratification bekerja. Warga Buntu Batu mengakses akun ini bukan tanpa alasan. Mereka memiliki kebutuhan kognitif (ingin tahu), kebutuhan afektif (emosional), hingga kebutuhan kebiasaan (habitual) yang membuat mengecek @enrekanginfo menjadi rutinitas harian layaknya meminum kopi di pagi hari.
Bukan Sekadar “Scroll”, Tapi Makin Pintar
Penelitian ini membuktikan adanya hubungan positif yang signifikan (koefisien 0,329) antara keaktifan warga di akun jurnalisme warga tersebut dengan kemampuan literasi informasi mereka. Menggunakan parameter The Big Six Model, warga Buntu Batu menunjukkan peningkatan dalam:
• Task Definition: Mampu menentukan informasi apa yang mereka butuhkan.
• Evaluation: Tidak mudah percaya pada informasi yang beredar; warga mulai terbiasa memverifikasi konten untuk menghindari hoaks.
“Tingginya indikator evaluasi mencerminkan warga Buntu Batu kini lebih waspada dan tidak menelan mentah-mentah berita yang ada,” ungkap peneliti dalam laporannya.
Desa Digital: Dari Instagram ke Website Desa
Fenomena melek informasi ini tidak berhenti di media sosial. Desa-desa di Kecamatan Buntu Batu, seperti Desa Ledan, Pasui, hingga Latimojong, kini aktif mengelola situs web resmi desa. Hal ini menandakan bahwa semangat citizen journalism telah mendorong warga untuk berperan aktif sebagai produsen informasi yang bermanfaat bagi lingkungannya.
Catatan Penting: Verifikasi Tetap Utama
Meski memberikan dampak positif, penelitian ini memberikan “lampu kuning” bagi pengelola akun dan masyarakat. Pengelola @enrekanginfo disarankan untuk memperketat validasi konten kiriman warga guna meminimalisir disinformasi.
Bagi warga Buntu Batu, tantangannya adalah mempertahankan sikap kritis. Partisipasi aktif sebagai pelapor kejadian harus dibarengi dengan rasa tanggung jawab dan akurasi kronologi. Di masa depan, penelitian ini menyarankan agar literasi informasi juga dipelajari di platform media sosial lain untuk melihat apakah tren positif ini konsisten di seluruh ekosistem digital. (*)














