• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 16 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Ekonomi

Kemarau, Modal Petani Bawang Merah di Enrekang Tak Kembali, Harga Cuma Segini

Editor: Tohir Muhammad
6 November 2023
di Ekonomi
Kemarau, Modal Petani Bawang Merah di Enrekang Tak Kembali, Harga Cuma Segini

Foto by Arfah

ENREKANG, PIJAR NEWS.COM – Kemarau berdampak kerugian terhadap para petani, seperti para petani bawang merah di Kabupaten Enrekang. Kerugian itu diakui petani Bawang Merah di Desa Mampu, Kecamatan Anggeraja.

Petani mengaku, kemarau yang berkepanjangan membuat pertumbuhan tanaman bawang merah mereka tak bisa tumbuh dengan baik, sehingga bawang kecil dan kualitasnya buruk, disebabkan kurangnya air. Akibatnya hasil panen bawang merah mereka turun siginifikan.

“Pengaruh musim kemarau yakni pertanian seperti bawang merah dan lain-lainnya gagal, banyak tanaman rusak karena tidak adanya air, sehingga pemasukan lumpuh total,” ujar Fahriansyah, salah satu petani bawang di desa Mampu, Ahad (05/11/2023).

Tidak ada metode lain pemerawatan bawang, sebab bawang merah sangat membutuhkan air setiap hari, selama 60 hari dari masa penanaman.

BeritaTerkait

Bupati Sidrap Tinjau Pertanian Terpadu di Cipotakari, Sekali Panen Ikan Raup Ratusan Juta

Bupati Sidrap Tinjau Pertanian Terpadu di Cipotakari, Sekali Panen Ikan Raup Ratusan Juta

17 Juni 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

7 Maret 2026

Kejutan ala Bale by BTN, Saldo Nyasar di Tanggal Tua

19 Februari 2026

Parepare Jadi Kota dengan Inflasi Tertinggi di Sulsel, Emas-Beras Jadi Pemicu

7 Januari 2026

Sementara, bertani bawang merah menjadi sumber utama mata pencaharian Fahriansyah, sehingga pada saat kemarau, hal itu sangat menyulitkan baginya dan petani lainnya.

“Sangat menurun hingga 80% dibandingkan selama musim hujan, harganya sangat berbeda jauh, yang bisa harga saat musim hujan yakni Rp 20rb-45rb per kilo sehingga hasil bisa 3 kali lipat dari modal utama, sedangkan musim kemarau harga mulai Rp 8rb-15rb/kg, sehingga angka kerugian tinggi bahkan modal tidak kembali,” lanjutnya.

Untuk menambah pemasukan keluarga, Fahriansyah juga nyambi sebagai kuli bangunan bahkan juga menjadi tukang ojek bawang.

Menurutnya, kondisi tersebut mesti menjadi perhatian serius, juga berharap ada solusi yang dapat membantu para petani mengatasi kerugian panen yang disebabkan oleh musim kemarau.

Penulis: Nurul Nasira (Mahasiswa PPL IAIN Parepare)

Terkait: Bawang MerahEnrekangKemarauPetani

BeritaTerkait

Pemkab Sidrap Pacu JIAT, Bupati Turun Langsung Bajak Sawah Bareng Petani

Pemkab Sidrap Pacu JIAT, Bupati Turun Langsung Bajak Sawah Bareng Petani

Editor: Tohir Muhammad
5 Mei 2026

...

Motor ‘Kuda Besi’ dan E-Commerce Dobrak Akses Jalan Sulit : Petani Enrekang Panen Pendapatan Lewat Inovasi PKM Umpar

Editor: Tim Redaksi
12 Oktober 2025

...

Kantor PAM Tirta Karajae Parepare

Antisipasi Krisis Air Saat Kemarau, PAM Tirta Karajae Parepare Siapkan Strategi

Editor: Tohir Muhammad
24 September 2025

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi