PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Pasca gempa berkekuatan 7,4 SR melanda Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu, ribuan warga Palu hingga kini masih mengungsi di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.
Salah seorang pengungsi, Nurhidayah menceritakan kisahnya kepada PIJARNEWS saat berjuang menyelamatkan diri di lokasi gempa dan likuefaksi di Petobo. Nurhidayah ditemui usai mengikuti trauma healing yang digelar Persit Kartika Chandra Kirana Kodim 1405 Mallusetasi, Ahad 21 Oktober 2018.
Waktu itu, Nurhidayah sedang berkunjung ke rumah orang tuanya karena hendak ke dokter gigi di daerah Zebra. Kurang lebih 500 meter dari Petobo, lokasi yang merupakan tempat terjadinya fenomena likuefaksi– bangunan, pohon berjalan disertai lumpur.
Saat gempa terjadi, Nurhidayah hendak melaksanakan salat. “Pas azan magrib berkumandang, saya menitip anakku di kamar kakakku karena hendak mengerjakan salat. Saat ingin berwudu, tiba-tiba saya merasa pusing. Perasaan saya tidak enak,” kata Nurhidayah saat berbincang dengan PIJARNEWS, Ahad 21 Oktober 2018.
Saat kejadian gempa itu, Nurhidayah kemudian berlari mengampiri anaknya. Beberapa detik kemudian, Ia merasakan guncangan dahsyat sehingga tidak dapat bergerak dari tempat ia berdiri.
“Saya sangat beryukur kepada Allah Subhana Wataala karena setelah menggendong anak saya, lemari yang ada di depannya jatuh dan hampir menimpanya. Untung saya cepat menghampirinya,” ungkap Nurhidayah.
Nunu– sapaan akrab Nurhidayah mengaku berupaya berlari sebisa mungkin ke depan pintu rumah untuk menyelamatkan diri. Saat itu ia sudah menggendong anaknya Ahmad berumur satu tahun. “Saat berlari dan menggendong Ahmad, saya jatuh dan bangun lagi. Kemudian terlempar ke kanan dan ke kiri. Lantai rumah pun ikut terbelah,” kenang Nunu.
Setelah berhasil keluar dari rumah, ibu dua anak ini menyangka dunia sudah kiamat. Ia melihat langit tampak mendung, hitam gelap, tiang listrik dan menara telepon berjatuhan, pagar dan beberapa rumah roboh termasuk rumah orang tuanya.
“Saat itu, orang-orang sekitar berteriak, gempar di mana-mana, ada lumpur-ada lumpur. Kita semua sudah siap-siap meninggalkan tempat itu dengan penuh ketakutan, ternyata lumpurnya berhenti pas perbatasan antara Petobo dengan Dewi Sartika,” jelasnya.
Usai gempa, Nunu beserta keluarganya selamat termasuk anaknya yang hampir tertimpa lemari. Mereka kemudian memilih tetap bertahan dan mengungsi di pinggir jalan, tepat depan rumah. Tanpa tenda selama empat hari. “Selama empat hari itu, kami tidak mendapat bantuan tenda dan bahan makanan. Kami hanya tidur di depan rumah tanpa alas,” kata Nunu.
Menurut Nunu, ia bersama keluarganya punya uang, tapi penjual makanan dan minuman yang tidak ada. Selain itu, di hari pertama setelah gempa, aksi penjarahan di mana-mana. Sampai anaknya sakit, Nunu beserta keluarganya kemudian langsung memilih pulang ke rumah kerabatnya di Kota Parepare.
Saat ini, Nunu mengungsi di rumah keluarganya di Kampung Tegal, Kelurahan Lapadde, Kota Parepare. Sedangkan suaminya, masih di Kota Palu memperbaiki rumahnya yang rusak akibat gempa. (*)
Reporter : Hamdan
Editor : Alfiansyah Anwar









