Oleh: Dra. Diana Rina, M.Si, Drs. Muhammad Yusuf, M.Si (Dosen Universitas Muhammadiyah Makassar)
Ikhwan Aulia (Alumni Universitas Muhammadiyah Makassar)
Sulawesi Selatan tak pernah kehabisan stok pesona alam. Dari sekian banyak titik cantik di peta Celebes, Kabupaten Kepulauan Selayar muncul sebagai primadona dengan deretan pantai eksotis dan kekayaan budayanya. Namun, memiliki potensi besar saja ternyata tidak cukup. Tantangan nyata justru ada pada bagaimana “menjual” pesona tersebut ke mata dunia.
Salah satu titik yang kini menjadi sorotan adalah Pantai Punagaan. Terletak di pesisir timur Pulau Selayar, tepatnya di Desa Patilereng, Pantai Punagaan menawarkan lanskap unik berupa teluk dengan pasir kelabu yang dipadukan dengan kemegahan tebing tinggi serta air laut yang jernih.
Jalan Terjal Promosi Wisata
Meski sudah resmi dibuka sejak tahun 2017 di bawah naungan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Baloka Mandiri, popularitas Pantai Punagaan seolah masih “jalan di tempat”. Sejauh ini, pengunjung didominasi oleh wisatawan lokal. Apa yang salah?
Hasil observasi menunjukkan adanya celah lebar dalam strategi komunikasi pemasaran. Selama hampir tujuh tahun beroperasi, promosi Pantai Punagaan justru lebih banyak digerakkan oleh pihak eksternal. Akibatnya, identitas asli dan nilai unik pantai ini belum terintegrasi secara kuat dalam satu narasi pemasaran yang konsisten.
Kendala di Balik Layar
Berdasarkan kajian mendalam, ada tiga masalah utama yang membuat langkah promosi Pantai Punagaan terhambat:
1. Pesan yang Tidak Konsisten: Strategi komunikasi yang ada belum menyentuh akar identitas lokal, sehingga keunggulan spesifik Punagaan belum dikenal luas.
2. Ketergantungan Eksternal: Kurangnya koordinasi antara BUMDes dan mitra luar membuat upaya pemasaran menjadi tidak terpusat (tersentralisasi).
3. Gagap Digital: Di era media sosial, promosi Pantai Punagaan dinilai masih terjebak pada metode konvensional. Padahal, platform digital adalah kunci untuk menjangkau wisatawan nasional maupun mancanegara.
Tak hanya soal iklan, faktor Sumber Daya Manusia (SDM) juga menjadi rapor merah. Pengelola dinilai belum sepenuhnya menerapkan prinsip Sapta Pesona—standar emas dalam daya tarik pariwisata Indonesia—yang mencakup unsur aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.
Menuju Pengelolaan Proaktif
Melihat kondisi tersebut, penguatan peran BUMDes Baloka Mandiri menjadi harga mati. BUMDes tidak boleh lagi hanya bersikap reaktif atau sekadar menjadi penonton saat pihak luar melakukan promosi.
“Penting bagi BUMDes untuk mulai merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi strategi komunikasi pemasaran secara mandiri dan terintegrasi,” ungkap hasil penelitian terkait.
Transformasi dari metode konvensional ke digital, dibarengi dengan peningkatan kapasitas SDM, diharapkan mampu mengubah wajah Pantai Punagaan. Targetnya jelas: mengubah “permata tersembunyi” ini menjadi destinasi unggulan yang tidak hanya ramai saat akhir pekan oleh warga lokal, tetapi juga menjadi magnet bagi pelancong dari berbagai penjuru negeri.
Dalam dunia pariwisata modern, keindahan alam saja tidak cukup untuk mendatangkan bus-bus pariwisata. Mengutip maestro pemasaran Kotler dan Keller (2016), setidaknya ada lima “senjata” utama atau bauran komunikasi pemasaran yang harus dimainkan secara harmonis oleh pengelola destinasi:
• Periklanan (Advertising): Seberapa masif informasi Pantai Punagaan tersebar di media cetak, elektronik, hingga layar gawai calon pelancong?
• Promosi Penjualan (Sales Promotion): Adakah “pemanis” seperti promo paket liburan atau insentif jangka pendek yang membuat orang enggan menolak berkunjung?
• Hubungan Masyarakat & Publisitas: Bagaimana BUMDes membangun citra positif agar Pantai Punagaan punya reputasi mentereng di mata publik?
• Pemasaran Langsung (Direct Marketing): Sentuhan personal melalui pesan singkat atau media sosial yang langsung menyapa calon wisatawan.
• The Power of “Word of Mouth”: Kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut. Wisatawan yang puas adalah “baliho” berjalan yang paling ampuh.
Menembus Barikade Hambatan
Namun, di balik teori yang tampak sempurna tersebut, realita di lapangan seringkali berkata lain. Kerangka pikir penelitian ini menyoroti bahwa BUMDes Baloka Mandiri, sebagai nakhoda pengelola Pantai Punagaan, masih terjebak dalam berbagai kendala teknis maupun strategis.
Sejauh ini, pemanfaatan lima “senjata” di atas dinilai belum mencapai titik ledak yang optimal. Akibatnya, potensi besar Pantai Punagaan masih terkurung dalam promosi yang bersifat sporadis dan tidak terpadu.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Alih-alih hanya sekadar memaparkan masalah, penelitian ini hadir untuk mengidentifikasi di mana letak “sumbat” yang menghambat arus wisatawan. Tujuannya jelas: memberikan rekomendasi strategis yang konkret bagi BUMDes.
Bukan mustahil, jika hambatan-hambatan komunikasi ini berhasil diurai dan strategi Kotler-Keller diterapkan secara presisi, Pantai Punagaan tidak lagi hanya menjadi tempat pelarian warga lokal di akhir pekan, melainkan destinasi wajib bagi mereka yang mencari eksotisme di ujung selatan Sulawesi.
Setelah menelaah lebih dalam, sebuah simpulan besar muncul ke permukaan. Pantai Punagaan sebenarnya tidak tinggal diam. Sejauh ini, pengelola telah berupaya mengaktifkan lima “mesin” komunikasi sekaligus: mulai dari iklan informatif dan persuasif, penyelenggaraan acara, publisitas, hingga mengandalkan kekuatan promosi dari mulut ke mulut (word of mouth).
Namun, mengapa gaungnya belum optimal?
Lemahnya “Brand” dan Kendala Fisik
Ada dua hambatan utama yang menjadi batu sandungan bagi kemajuan Pantai Punagaan. Pertama, kurangnya koordinasi sistematis dalam membangun merek (brand) yang kuat. Promosi di media sosial saat ini masih bersifat organik—bergantung pada inisiatif masing-masing pengunjung yang mengunggah foto tanpa adanya kampanye terstruktur dari pengelola.
Kedua, adanya hambatan mekanis berupa akses fisik. Keindahan tersembunyi Pantai Punagaan masih sulit dijangkau karena infrastruktur menuju lokasi yang menantang. Hal ini menjadi tantangan besar dalam menyebarkan informasi positif jika tidak dibarengi dengan kenyamanan perjalanan wisatawan.
Peta Jalan Baru: Rekomendasi untuk Perubahan
Agar Pantai Punagaan tak sekadar menjadi “permata yang tertimbun”, penelitian ini menawarkan beberapa langkah strategis yang bisa diambil:
1. Bagi Pengelola (BUMDes):
• Go Digital & Collaborative: Jangan hanya menunggu pengunjung mengunggah foto. BUMDes harus mulai berkolaborasi dengan influencer atau media pariwisata untuk menciptakan konten yang menarik.
• Storytelling Visual: Memperkuat branding melalui cerita visual dan pengalaman interaktif yang bisa dibagikan wisatawan secara luas.
• Lobi Infrastruktur: Bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk membenahi aksesibilitas menuju destinasi.
2. Bagi Peneliti Selanjutnya:
• Dibutuhkan studi komparatif dengan destinasi serupa yang sukses, serta penggunaan metode kuantitatif untuk mengukur dampak strategi komunikasi terhadap jumlah kunjungan secara nyata.
• Penting untuk menganalisis pemanfaatan platform visual terkini seperti TikTok dan YouTube berbasis data guna memetakan perilaku wisatawan masa kini.
Dengan langkah-langkah yang lebih proaktif dan terencana, Pantai Punagaan bukan lagi sekadar destinasi alternatif, melainkan mercusuar baru bagi pariwisata di Kepulauan Selayar. (*)













