• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Selasa, 31 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

OPINI; Social Distancing, Dominasi Kekuatan Fatwa dan Filsafat

Alfiansyah Anwar Editor: Alfiansyah Anwar
26 Maret 2020
di Opini
Agus

Oleh : Dr Agus Muchsin, M.Ag*

OPINI — Slogan lucu, menggelitik terbaca melalui facebook “bersatu kita sakit bercerai-berai kita sehat”. Ibarat sebuah kaidah umum (al qawa’id al kulliyah), maka keberlakuannya temporal oleh karena adanya slogan umum dan sifatnya mendasar (asasiyah) “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”.

Motif dua slogan di atas sebenarnya berbeda, satu untuk lelucon dan yang lainnya untuk menumbuhkan semangat perjuangan dan persatuan untuk mengusir dan mempertahankan negara dari tekanan kolonialisme. Di era merebaknya penyakit corona maksud dari jargon ini adalah bersatu untuk melawan virus covid 19, namun bukan dengan kekuatan alutista tapi dengan kesadaran untuk stay at home dan menghindari tempat ramai dikunjungi orang (social distance).

Kerakter orang berbeda, entah karena ingin menghibur atau karena dinamisasi pemikiran yang terus berkembang, seiring dengan perubahan perilaku sosial yang tidak luput dari perkembangan teknologi informasi maka sebuah jargon memberikan dukungan terhadap social distance.

Corak kalimat dengan pola logika terbalik dari biasanya, menyarankan untuk menghindar dari keramaian seperti pada klausa bercerai berai kita sehat. Sebuah pesan terkonstruk untuk memaknai hidup universal bukan individual, seperti yang dipahami oleh sekelompok orang egois.

Klaim atas hidup adalah miliknya sendiri, kalau dia sakit maka dia sendiri yang merasakan. Mereka tidak menyadari bahwa penularan virus covid 19 juga membahayakan hidup orang lain.

Berita Terkait

Covid-19 Berlalu, Warga Tanete Ini Masih Hidup Dalam Pilu

Pandemi Covid-19 Masih Ada, Muncul Varian Arcturus

Tahan Laju Kenaikan Covid-19, Pemerintah Kembali Memperpanjang PPKM Level 1 di Seluruh Wilayah Indonesia

Aspek Hukum Aplikasi Peduli Lindungi: Menyelaraskan Kesehatan Masyarakat dengan Hak Privasi Individu

Perubahan pesan pada slogan di atas mengingatkan pada satu teori konstruksi hukum yang banyak digambarkan dalam khazanah keilmuan Hukum Islam. Ibnu Qayyim al Jauziyah menyebut sebagai perubahan hukum (pembaharuan hukum) seperti dalam kaedah disebutkan تغير الاحكام مع تغير الازمان والامكنة (perubahan dari sebuah hukum didasari oleh perubahan waktu dan tempat).

Teori perubahan ini, dalam Islam berawal dari adanya dua aliran pasca wafatnya Rasulullah saw, yakni al Madrasah al Hadits (المدرسة الحديث) dengan karakter pemahamannya terkesan tekstual dan al Madrasah al Ra’yi (المدرسة الرءي) dengan kontekstualnya.

Tekstual mesti didahulukan atas kontekstual, karena pesan agama disampaikan melalui teks, namun bukan berarti bahwa pemahaman kontekstual diabaikan, seperti pada aliran madzhab al dzahiriyah yang tidak menerima selain dari tuntutan makna (المقتضي المعني). Alasannya sederhana karena budaya Arab berbeda dengan Nusantara, contoh transaksi barter yang legal adalah Dinar dan Dirham, bukan Rupiah.

Pemahaman konteks inilah kemudian memaksa bagi para ulama Ushul al Fiqh untuk membuat rambu-rambunya karena dikhawatirkan akan terlalu jauh dari makna teksnya. Karena itu, pemahaman teks diawali dari penentuan qath’iy al dalalah (sesuatu yang maknanya jelas) atau dzanny al dalalah (sesuatu yang bisa difahami hanya melalui interpretasi).

Peluang untuk pemahaman teks hanya pada persoalan dzanni al dalalah. Maka fenomena pemahaman hukum dikalangan ulama pun berbeda disebabkan metode pendekatan hukum (istinbath hukum) dan pendekatan filosofis yang variatif.

Bagi Islam, ini membanggakan namun jika tidak diikat dengan kekuatan hukum melalui legislasi atau fatwa maka akan sangat berbahaya. Perubahan ini penting untuk diidentifikasi melalui dua kriteria perkembangan hukum Islam yakni; materi hukumnya (syari’ah) dan formil hukumnya (tasyri’). Fatalnya masyarakat belum mampu membedakan keduanya, bagi mereka hanya satu terma yakni syari’ah.

Ragam pendapat dengan persepsi berbeda adalah hal biasa, terlebih jika masuk dalam ranah filosofis yang syarat dengan sederetan aliran untuk menguak kebenaran. Namun ketika ragam kebenaran itu tidak dikuatkan maka masyarakat akan bingung, bahkan akan melahirkan kegaduhan.

Perdebatan tentang implikasi social distance terhadap nilai hidup secara universal cukup menjadi bukti akan dominasi filosofis, mulai alasan ekonomi, kesehatan, budaya, hingga agama. Kesemuanya melahirkan corak pemikiran berbeda, namun selanjutnya disadari oleh pemerintah dan ulama bahwa ini bukan lagi pada ranah adu teori, melainkan perlu tindakan untuk mengeluarkan putusan/fatwa berisi himbauan, yang oleh majelis disepakati memberikan manfaat. (*)

Terkait: CoronaCovid-19Social Distancing

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Terima Audiensi BPLIP Makassar, Bupati Tegaskan Komitmen Sidrap Sukseskan Swasembada Pangan

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Jelang Porsenijar Sulsel, Pemkab Sidrap Matangkan Akomodasi hingga Kesiapan Atlet

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Bupati Pinrang Pimpin Upacara Perdana Usai Lebaran, Minta ASN Tingkatkan Kinerja

Editor: Muhammad Tohir
31 Maret 2026

Pemkot Parepare Mulai Susun Strategi Pembangunan 2027

Editor: Muhammad Tohir
30 Maret 2026

Penurunan Kemiskinan dan Raihan Sertifikat Menuju Kota Bersih Pemkot Parepare Diapresiasi Pemprov

Editor: Muhammad Tohir
30 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan