• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Pendidikan

Refleksi Persatuan Umat di Musda VI ICMI Parepare, Prof Ahmad Sewang Soroti Akar Perpecahan dan Jalan Integrasi

Editor: Tim Redaksi
5 Mei 2026
di Pendidikan, Topik Utama
Prof Ahmad Sewang

Suasana saat Prof Dr KH Ahmad M Sewang saat menjadi pemateri pada pembukaan Musda ICMI Orda Parepare.

BeritaTerkait

Culture Day SIT Andalusia Sukses Tampilkan Ragam Seni dan Budaya Nusantara

Culture Day SIT Andalusia Sukses Tampilkan Ragam Seni dan Budaya Nusantara

24 Oktober 2026
Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

22 Oktober 2026
Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Angkat Isu Parkir Liar dan Kearifan Lokal Sipakainge’, Sigap Team Unibos Lolos Pimnas ke-39 Tahun 2026

Angkat Isu Parkir Liar dan Kearifan Lokal Sipakainge’, Sigap Team Unibos Lolos Pimnas ke-39 Tahun 2026

20 Oktober 2026
PAREPARE, PIJARNEWS.COM — Gagasan tentang pentingnya merajut kembali persatuan umat Islam menjadi salah satu sorotan utama dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) VI ICMI Orda Parepare yang digelar di Auditorium BJ Habibie, Kompleks Rumah Jabatan Wali Kota Parepare, Ahad, 3 Mei 2026.
Dalam forum tersebut, Prof Dr KH Ahmad M. Sewang yang menjadi pembicara utama, memaparkan refleksi kritis bertajuk “Merajut Persatuan Umat”. Ia menggunakan pendekatan sosio-historis untuk mengurai akar perpecahan dalam sejarah Islam sekaligus menawarkan solusi integratif bagi masa depan umat.
Prof Ahmad Sewang mengawali paparannya dengan menegaskan bahwa persatuan ideal umat, sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW, mulai mengalami pengikisan sejak terjadinya konflik besar yang dikenal sebagai Al-Fitnatul Kubraa pada masa Utsman bin Affan. Konflik tersebut kemudian berlanjut pada era Ali bin Abi Thalib melalui peristiwa Perang Jamal dan Perang Siffin yang menjadi titik awal munculnya berbagai faksi teologis dalam Islam.
“Dari sinilah lahir kelompok-kelompok seperti Sunni, Syiah, Khawarij, dan Murjiah yang tidak hanya berbeda secara politik, tetapi juga berkembang ke ranah teologis,” ujarnya.
Ia juga menyinggung dinamika intelektual yang memperdalam perbedaan, seperti tragedi Mihnah pada era Abbasiyah yang mempertentangkan rasionalitas Mu’tazilah dengan pendekatan tekstual ahli hadis.
Dalam konteks kekinian, Prof Ahmad Sewang menilai bahwa klaim kebenaran tunggal di tengah umat sering kali bersumber dari pemahaman tekstual yang kaku, termasuk dalam menafsirkan hadis tentang “73 golongan”. Menurutnya, sejumlah ulama moderat, termasuk dari Al-Azhar, telah berupaya mendekonstruksi narasi tersebut dengan menekankan bahwa mayoritas umat Islam berada dalam koridor keselamatan, kecuali mereka yang menyimpang secara ekstrem.
Lebih lanjut, ia menyoroti tantangan besar umat saat ini berupa fenomena takfir (mengkafirkan) dan tadhlil (menyesatkan), yang kerap diperparah oleh kepentingan geopolitik global. Kondisi ini dinilai menjadi penghambat utama terwujudnya persatuan yang kokoh.
Sebagai solusi, Prof Ahmad Sewang menawarkan pendekatan At-Taqrib bayn al-Madzahib, yakni upaya mendekatkan berbagai mazhab melalui redefinisi identitas umat Islam yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan.
“Perbedaan adalah sunnatullah dan justru menjadi rahmat. Persatuan bukan berarti menyeragamkan, tetapi menciptakan harmoni dalam keberagaman,” tegasnya.
Ia mencontohkan perbedaan karakter sahabat Nabi, seperti Abu Bakar yang lembut dan Umar bin Khattab yang tegas, sebagai bukti bahwa keberagaman merupakan bagian dari dinamika yang memperkaya umat.
Menurutnya, keberagaman penafsiran dalam Al-Qur’an, baik melalui ayat muhkamat maupun mutasyabihat, menunjukkan bahwa Tuhan memang menghendaki kebhinnekaan. Oleh karena itu, umat Islam didorong untuk menjadikan perbedaan sebagai energi positif dalam berlomba-lomba melakukan kebaikan (fastabiqul khairat).
Paparan ini menjadi salah satu refleksi penting dalam pembukaan Musda VI ICMI Parepare, sekaligus menguatkan peran ICMI sebagai wadah cendekiawan dalam merawat persatuan umat di tengah tantangan zaman.
Ade Astuty
Penulis Ade Hastuty foto bersama pengurus ICMI Orda Parepare.
Pembukaan Musda VI ICMI Orda Parepare ini dihadiri Wali Kota Parepare, H Tasming Hamid, SE, MH, Sekretaris Daerah, Amarun Agung Hamka dan sejumlah pejabat Forkopimda. Selain itu, delapan perwakilan organisasi masyarakat (Ormas) Islam hadir di acara tersebut seperi ICMI Orda Parepare, Muhammadiyah, NU, DDI, Aisiyah, Muslimat NU, Wanita Islam, dan Ummahat.
Tak hanya itu, ada juga Organisasi Satuan (Orsat) dan Banom. Perwakilan Orsat yang hadir yakni IAIN Parepare, Umpar, ITH, DDI, Orsat Ujung, Soreang, Bacukiki, dan Bacukiki Barat. Usai pembukaan, dilakukan pemilihan ketua. Hasilnya, Prof Dr KH Mahsyar Idris, M.Ag kembali terpilih untuk kedua kalinya memimpin ICMI Orda Parepare.
Peran ICMI dan organisasi intelektual lainnya sangat vital untuk menjadi wadah yang merawat persatuan. Persatuan umat tidak dicapai dengan penyeragaman, melainkan dengan menciptakan harmoni di mana setiap kelompok merasa menjadi bagian dari identitas besar Islam yang inklusif. Sebagai pendidik, tugas kita adalah memastikan bahwa “pengkaderan” di masa depan tidak lagi membangun tembok, melainkan membangun jembatan. (*)
Penulis: Ade Hastuty (Sekretaris Umum Pengurus Daerah Wanita Islam, Kota Parepare)
Editor: Alfiansyah Anwar
Terkait: ICMIICMI Orda ParepareMusdaProf Ahmad Sewang

Berita Terkait

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Editor: Tim Redaksi
21 Oktober 2026

...

ICMI Parepare Bahas Bisnis Digital dan Pengkaderan Pemuda

ICMI Parepare Bahas Bisnis Digital dan Pengkaderan Pemuda

Editor: Tim Redaksi
2 Oktober 2026

...

Wali Kota Parepare: ICMI Adalah Rumah Besar Kaum Cendekia dan Penggerak Perubahan

Wali Kota Parepare: ICMI Adalah Rumah Besar Kaum Cendekia dan Penggerak Perubahan

Editor: Tohir Muhammad
20 Juni 2026

...

Berita Populer

  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiprah Santri di Pentas Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi