• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026
di Opini
Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Oleh : Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Polisi Pamong Praja meringkus 37 remaja yang ditemukan kumpul kebo, di wilayah Samarinda pada Sabtu 29 November 2025. Razia ini dilakukan dalam rangka operasi Penyakit Masyarakat (Pekat) gabungan yang menyasar sejumlah guest house di Samarinda. Selain penindakan susila, operasi ini juga mengindikasikan lain seperti miras dan sabu. 37 orang yang diamankan tersebut telah dibawa ke Kantor Satpol PP Samarinda untuk selanjutnya akan menjalani pembinaan dan pendataan.

Melihat satu kasus atau berita tersebut saja kita sudah menemukan banyak kerusakan yang terjadi di dalamnya. Mulai dari perzinahan, miras, dan narkoba. Itu semakin menunjukan bahwa kerusakan yang ada pada remaja saat ini bersifat kompleks dan sistemik. Mulai dari individu yang sekuler dan jauh dari ketakwaan pada Allah, mengakibatkan mereka berperilaku sesuka hawa nafsu mereka.

Tampak sangat terindra dengan jelas, bahwasanya anak-anak generasi hari ini sudah sangat jauh dari agama. Indonesia yang memiliki budaya timur, tapi mereka tak lagi mengenal apa itu budaya ketimuran yang memiliki kekhasan pada adab dan tingkah laku yang luhur dan merupakan cerminan dari agamanya. Generasi hari ini, tak segan-segan melakukan perbuatan keji hanya sekadar memuaskan nafsunya, tanpa memahami moral dan etika bahkan nilai agama.

BeritaTerkait

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

13 Oktober 2026
Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

9 Oktober 2026

Adapun masyarakat umum saat ini cenderung apatis, yang hanya membiarkan dan menormalisasikan kemaksiatan tersebut dengan berbagai alasan, entah untuk mendapatkan keuntungan dari kemaksiatan tersebut, maupun enggan terlibat dalam permasalahan yang ada dan justru memilih bungkam.

Adapun negara sebagai institusi yang memiliki peran vital dalam membatasi tindak kemaksiatan tersebut pun gagal melindungi generasi yang terlanjur terjerumus, karena demokrasi jelas tidak pernah tegas dalam memberantas kemaksiatan. Negara yang berasaskan demokrasi pastilah hanya memikirkan keuntungan semata tanpa pertimbangan baik buruk nya dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakat. Negara hanya melakukan razia pendataan pembinaan tanpa hukuman, jelas hal ini tidak memberi efek jera kepada mereka. Inilah bukti dari semakin meradangnya Kritis identitas generasi saat ini, lantas bagaimana negara bisa jadi pelopor perubahan jika nasibnya begini?

Sistem sekuler dan faham liberalismelah akar permasalahan yang saat ini semakin menjerat jiwa-jiwa anak muda. Ideologi kapitalisme telah menjadikan generasi yang kapital dan materialistik. Pendidikan yang dibangun sekadar mampu mencetak generasi yang siap kerja dan ditampung oleh para korporat dalam meraup keuntungan tapi minus akhlak dan moral.

Asas sekulerisme juga kian mengental dalam dunia pendidikan. Menjadikan agama hanya pada satu sisi dan tidak penting pada sisi lainnya. Seakan agama hanya dibawa saat ibadah, namun tidaklah menjad urgen saat terkait dengan urusan dunia. Jika terlalu agamis maka akan terkesan ekstremis, radikal, dan fundamentalis. Pada akhirnya, generasi menjadi phobia mempelajari agamanya sendiri, bahkan berani mempertentangkan syariat Allah dengan logika akalnya, sehingga generasi yang lahir adalah generasi liberal yang jauh dari peradaban luhur.

Ideologi kapitalisme juga menjadikan generasi gagap/gamang dengan agamanya. Satu sisi diperintahkan untuk menjalankan pendidikan sesuai karakter Pancasila salah satunya adalah untuk menjadi generasi yang bertaqwa pada Tuhan yang Maha Esa, namun di sisi lain dibenturkan dengan moderasi agama, monsterisasi ajaran Islam yang pada akhirnya secara perlahan karakteristik generasi dimandulkan.

Maka, asas ini mau tidak mau akan mencetak dan melahirkan generasi-generasi liberal dalam 4 hal. Yakni, kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan berkepemilikan dan kebebasan bertingkah laku. Dampak dari itu semua generasi muslim kian jauh dari Islam. Karakter khas yang harusnya melekat pada diri seorang muslim telah hilang dan menjadi generasi yang liberal dan hedonis, menghalalkan segala cara demi mewujudkan kesenangan semu. Seks bebas kian meningkat tajam, L987 menjadi lumrah dan wajar, jiwa materialisik kian menjelma, fatalnya jiwa-jiwa mereka sangatlah rapuh, lemah dan tak berkualitas. Nauzubillah tsumma nauzubillah

Islam sebagai agama yang sesuai akal dan fitrah menusia itu telah menunjukkan bukti yang nyata. Luhurnya peradaban di muka bumi ini, ketika mengembalikan segala hal pada aturan Allah SWT dan Rasul-Nya. Hancurnya peradaban di bumi ini ketika kita dengan sombong mencampakkan aturan Ilahi.

Harusnya generasi muslim adalah generasi terbaik dan umat terbaik (Khairu Ummah) sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya. Mengembalikan masa kejayaan Islam yang terbukti pendidikannya mencetak generasi muda tangguh dan beradab. Mari selamatkan generasi kita dengan berjuang kembali apa yang Allah perintahkan dengan berislam Kaffah dalam semua aspek kehidupan.

Ada 3 komponen yang harus berjalan untuk bisa menciptakan generasi tangguh dan berakhlak mulia yaitu;
Pertama, adanya takwa individu. Ketakwaan ini hanya akan ada ketika aturan kehidupan hanya bersumber dari Islam saja bukan yang lain. Seorang muslim wajib yakin bahwa dunia ini adalah kehidupan sementara dan ada yaumul hisab yang harus kita lewati di hari akhirat kelak.

Kedua, kontrol masyarakat. Pendidikan tidak akan berhasil jika masyarakat pun tidak ikut andil. Maka masyarakat dibentuk untuk memiliki misi dakwah. Pengontrolan yang dilakukan bermisi langit, bahwa kemaksiatan itu akan berefek pada dirinya, keturunannya dan semua orang menanggung dosa jariyah.
Ketiga, negara menerapkan aturan Allah dan Rasul-Nya dalam semua aspek kehidupan. Bukankah Allah SWT telah memerintahkan umatnya untuk masuk ke dalam Islam secara Kaffah.

Maka, seharusnya seorang muslim tidak mengambil aturan hidup yang lain kecuali hanya berhukum pada yang telah Allah tetapkan. Sejarah telah mencatat, ketika aturan kehidupan dikembalikan pada hukum Allah SWT, kesejahteraan, ketenangan, kedamaian, dan pendidikan terbukti mencetak generasi tangguh beriman lagi bertaqwa. Wallahu’alam bissawab. (*)

Terkait: Opini

Berita Terkait

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Editor: Tim Redaksi
20 Oktober 2026

...

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Editor: Tim Redaksi
13 Oktober 2026

...

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Editor: Tim Redaksi
8 Oktober 2026

...

Berita Populer

  • Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Benang Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa Kewirausahaan UMS Rappang Kembangkan Produk Rajut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi