• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 17 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Sulselbar

WFD, Lembaga Independen Inggris Dorong Kapasitas Fungsi Legislasi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 November 2019
di Sulselbar
WFD, Lembaga Independen Inggris  Dorong Kapasitas Fungsi Legislasi

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pusat Kajian HAM, Migrasi dan Multikulturalisme–Universitas Jember (CHRM2-UNEJ) saat ini  melaksanakan kerja sama dengan The Westminster Foundation for Democracy (WFD) sebagai lembaga publik independen dari Kerajaan Inggris, Selasa-Rabu (5-6/11/2019) di Swiss-Bellin Jl. Boulevard No.55, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

WFD  mendorong peningkatan kapasitas DPR-RI, DPD-RI dan DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran agar lebih berkualitas, akuntabel, partisipatoris dan inklusif di wilayah Indonesia.

Salah satu permasalahan yang saat ini menjadi perhatian masyarakat luas adalah banyaknya Peraturan Daerah (Perda) yang dinilai bermasalah, baik karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maupun karena dinilai diskriminatif terhadap perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Sehubungan hal di atas, dengan dukungan program CLFI dari Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri (DFAT) Canada, WFD dan CHRM2-UNEJ menyelenggarakan lokakarya tentang pemantauan, peninjauan dan pengawasan Peraturan Daerah oleh DPRD sebagai upaya mengurangi Perda/ Perkada bermasalah,” ungkap Direktur LBH Pers Makassaar, Fajriani Langgeng, panitia regional Lokakarya WFD.

BeritaTerkait

UNHAS dan UMMA Maros Perkenalkan Pengolahan Sango-Sango Gunakan Kain Paranet

UNHAS dan UMMA Maros Perkenalkan Pengolahan Sango-Sango Gunakan Kain Paranet

16 Juli 2026
Workshop Dakwah Digital Kolaborasi IAIN Parepare dan Pijarnews.com Tak Berhenti di Pelatihan

Workshop Dakwah Digital Kolaborasi IAIN Parepare dan Pijarnews.com Tak Berhenti di Pelatihan

12 Juli 2026
Berdaya, Berdakwah, Berdampak: Workshop Jurnalistik Islam Cetak Kreator Dakwah Digital Muda

Berdaya, Berdakwah, Berdampak: Workshop Jurnalistik Islam Cetak Kreator Dakwah Digital Muda

12 Juli 2026
Jaring Calon Anggota, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar Gelar Seleksi

Jaring Calon Anggota, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar Gelar Seleksi

5 Juli 2026

Agenda tersebut menghadirkan anggota DPRD, Staf Biro Hukum, Pegiat Organisasi Masyarakat Sipil, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

Hellay Mojadidi, Koordinator Dana Kanada untuk Inisiatif Lokal, Embassy of Canada for Indonesia dan Timor Leste, menyebutkan dalam memastikan, salah satu hal sebagai masyarakat demokratis adalah menjunjung kesetaraan bagi setiap orang, termasuk kaum minoritas harus dihormati.

“Pemerintah Kanada memahami keberagaman adalah sumber kekuatan dan ketahanan dan tentunya menjadikan Kanada kaya. Inklusif adalah hal yang baik, tetapi memang bukan jalan yang mudah,” ujarnya.

Kanada berkolaboraasi dengan negara lain, dalam mempelajari sistem inklusif. Ini sangat penting dan berharap Indonesia bisa menjadi bermanfaat dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

“Menjadi inklusif bukan jalan mudah, tapi ketika pemerintah memilih cara inklusif maka keunggulan ekonomi, sosial hingga bisa menjadi negara demokratis. Membangun sistem inklusif tentu sulit, dibutuhkan waktu. Kanada bisa sebaik sekarang ini karena berkolaborasi dengan negara lain menciptakan sistem inklusif tersebut,” tambahnya. (*)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

WFD, Lembaga Independen Inggris  Dorong Kapasitas Legislasi

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pusat Kajian HAM, Migrasi dan Multikulturalisme–Universitas Jember (CHRM2-UNEJ) saat ini  melaksanakan kerja sama dengan The Westminster Foundation for Democracy (WFD) sebagai lembaga publik independen dari Kerajaan Inggris, Selasa-Rabu (5-6/11/2019) di Swiss-Bellin Jl. Boulevard No.55, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

WFD  mendorong peningkatan kapasitas DPR-RI, DPD-RI dan DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran agar lebih berkualitas, akuntabel, partisipatoris dan inklusif di wilayah Indonesia.

Salah satu permasalahan yang saat ini menjadi perhatian masyarakat luas adalah banyaknya Peraturan Daerah (Perda) yang dinilai bermasalah, baik karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maupun karena dinilai diskriminatif terhadap perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Sehubungan hal di atas, dengan dukungan program CLFI dari Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri (DFAT) Canada, WFD dan CHRM2-UNEJ menyelenggarakan lokakarya tentang pemantauan, peninjauan dan pengawasan Peraturan Daerah oleh DPRD sebagai upaya mengurangi Perda/ Perkada bermasalah,” ungkap Direktur LBH Pers Makassaar, Fajriani Langgeng, panitia regional Lokakarya WFD.

Agenda tersebut menghadirkan anggota DPRD, Staf Biro Hukum, Pegiat Organisasi Masyarakat Sipil, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

Hellay Mojadidi, Koordinator Dana Kanada untuk Inisiatif Lokal, Embassy of Canada for Indonesia dan Timor Leste, menyebutkan dalam memastikan, salah satu hal sebagai masyarakat demokratis adalah menjunjung kesetaraan bagi setiap orang, termasuk kaum minoritas harus dihormati.

“Pemerintah Kanada memahami keberagaman adalah sumber kekuatan dan ketahanan dan tentunya menjadikan Kanada kaya. Inklusif adalah hal yang baik, tetapi memang bukan jalan yang mudah,” ujarnya.

Kanada berkolaboraasi dengan negara lain, dalam mempelajari sistem inklusif. Ini sangat penting dan berharap Indonesia bisa menjadi bermanfaat dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

“Menjadi inklusif bukan jalan mudah, tapi ketika pemerintah memilih cara inklusif maka keunggulan ekonomi, sosial hingga bisa menjadi negara demokratis. Membangun sistem inklusif tentu sulit, dibutuhkan waktu. Kanada bisa sebaik sekarang ini karena berkolaborasi dengan negara lain menciptakan sistem inklusif tersebut,” tambahnya. (*)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Terkait: MOU

BeritaTerkait

Sidrap–Banjarmasin Jalin Kerja Sama Suplai Beras dan Telur untuk Stabilitas Pangan

Editor: Tim Redaksi
22 Oktober 2025

...

MoU dengan Politeknik Muhammadiyah Makassar, Wali Kota Harap Tidak Hanya Seremonial

Editor: Tohir Muhammad
15 September 2025

...

MoU Rampung, Pemkab Sidrap Rakor Tindak Lanjut Kerja Sama dengan Tarakan

Editor: Tohir Muhammad
9 September 2025

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi