• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Sulselbar

WFD, Lembaga Independen Inggris Dorong Kapasitas Fungsi Legislasi

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 November 2019
di Sulselbar

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pusat Kajian HAM, Migrasi dan Multikulturalisme–Universitas Jember (CHRM2-UNEJ) saat ini  melaksanakan kerja sama dengan The Westminster Foundation for Democracy (WFD) sebagai lembaga publik independen dari Kerajaan Inggris, Selasa-Rabu (5-6/11/2019) di Swiss-Bellin Jl. Boulevard No.55, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

WFD  mendorong peningkatan kapasitas DPR-RI, DPD-RI dan DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran agar lebih berkualitas, akuntabel, partisipatoris dan inklusif di wilayah Indonesia.

Salah satu permasalahan yang saat ini menjadi perhatian masyarakat luas adalah banyaknya Peraturan Daerah (Perda) yang dinilai bermasalah, baik karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maupun karena dinilai diskriminatif terhadap perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Sehubungan hal di atas, dengan dukungan program CLFI dari Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri (DFAT) Canada, WFD dan CHRM2-UNEJ menyelenggarakan lokakarya tentang pemantauan, peninjauan dan pengawasan Peraturan Daerah oleh DPRD sebagai upaya mengurangi Perda/ Perkada bermasalah,” ungkap Direktur LBH Pers Makassaar, Fajriani Langgeng, panitia regional Lokakarya WFD.

BeritaTerkait

Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

25 Oktober 2026
Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

23 Oktober 2026
Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

22 Oktober 2026
Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026

Agenda tersebut menghadirkan anggota DPRD, Staf Biro Hukum, Pegiat Organisasi Masyarakat Sipil, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

Hellay Mojadidi, Koordinator Dana Kanada untuk Inisiatif Lokal, Embassy of Canada for Indonesia dan Timor Leste, menyebutkan dalam memastikan, salah satu hal sebagai masyarakat demokratis adalah menjunjung kesetaraan bagi setiap orang, termasuk kaum minoritas harus dihormati.

“Pemerintah Kanada memahami keberagaman adalah sumber kekuatan dan ketahanan dan tentunya menjadikan Kanada kaya. Inklusif adalah hal yang baik, tetapi memang bukan jalan yang mudah,” ujarnya.

Kanada berkolaboraasi dengan negara lain, dalam mempelajari sistem inklusif. Ini sangat penting dan berharap Indonesia bisa menjadi bermanfaat dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

“Menjadi inklusif bukan jalan mudah, tapi ketika pemerintah memilih cara inklusif maka keunggulan ekonomi, sosial hingga bisa menjadi negara demokratis. Membangun sistem inklusif tentu sulit, dibutuhkan waktu. Kanada bisa sebaik sekarang ini karena berkolaborasi dengan negara lain menciptakan sistem inklusif tersebut,” tambahnya. (*)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

WFD, Lembaga Independen Inggris  Dorong Kapasitas Legislasi

MAKASSAR, PIJARNEWS.COM–Pusat Kajian HAM, Migrasi dan Multikulturalisme–Universitas Jember (CHRM2-UNEJ) saat ini  melaksanakan kerja sama dengan The Westminster Foundation for Democracy (WFD) sebagai lembaga publik independen dari Kerajaan Inggris, Selasa-Rabu (5-6/11/2019) di Swiss-Bellin Jl. Boulevard No.55, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.

WFD  mendorong peningkatan kapasitas DPR-RI, DPD-RI dan DPRD dalam menjalankan fungsi legislasi, pengawasan dan anggaran agar lebih berkualitas, akuntabel, partisipatoris dan inklusif di wilayah Indonesia.

Salah satu permasalahan yang saat ini menjadi perhatian masyarakat luas adalah banyaknya Peraturan Daerah (Perda) yang dinilai bermasalah, baik karena bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi maupun karena dinilai diskriminatif terhadap perempuan, penyandang disabilitas dan kelompok-kelompok minoritas lain.

“Sehubungan hal di atas, dengan dukungan program CLFI dari Kementerian Perdagangan dan Luar Negeri (DFAT) Canada, WFD dan CHRM2-UNEJ menyelenggarakan lokakarya tentang pemantauan, peninjauan dan pengawasan Peraturan Daerah oleh DPRD sebagai upaya mengurangi Perda/ Perkada bermasalah,” ungkap Direktur LBH Pers Makassaar, Fajriani Langgeng, panitia regional Lokakarya WFD.

Agenda tersebut menghadirkan anggota DPRD, Staf Biro Hukum, Pegiat Organisasi Masyarakat Sipil, dan lembaga-lembaga terkait lainnya.

Hellay Mojadidi, Koordinator Dana Kanada untuk Inisiatif Lokal, Embassy of Canada for Indonesia dan Timor Leste, menyebutkan dalam memastikan, salah satu hal sebagai masyarakat demokratis adalah menjunjung kesetaraan bagi setiap orang, termasuk kaum minoritas harus dihormati.

“Pemerintah Kanada memahami keberagaman adalah sumber kekuatan dan ketahanan dan tentunya menjadikan Kanada kaya. Inklusif adalah hal yang baik, tetapi memang bukan jalan yang mudah,” ujarnya.

Kanada berkolaboraasi dengan negara lain, dalam mempelajari sistem inklusif. Ini sangat penting dan berharap Indonesia bisa menjadi bermanfaat dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas.

“Menjadi inklusif bukan jalan mudah, tapi ketika pemerintah memilih cara inklusif maka keunggulan ekonomi, sosial hingga bisa menjadi negara demokratis. Membangun sistem inklusif tentu sulit, dibutuhkan waktu. Kanada bisa sebaik sekarang ini karena berkolaborasi dengan negara lain menciptakan sistem inklusif tersebut,” tambahnya. (*)

Editor: Dian Muhtadiah Hamna

Terkait: MOU

Berita Terkait

Bangun Ekosistem Pendidikan Kuat, Pemkot dan IAIN Parepare Tanda Tangani MoU

Bangun Ekosistem Pendidikan Kuat, Pemkot dan IAIN Parepare Tanda Tangani MoU

Editor: Tohir Muhammad
1 September 2026

...

Sidrap–Banjarmasin Jalin Kerja Sama Suplai Beras dan Telur untuk Stabilitas Pangan

Editor: Tim Redaksi
22 Oktober 2025

...

MoU dengan Politeknik Muhammadiyah Makassar, Wali Kota Harap Tidak Hanya Seremonial

Editor: Tohir Muhammad
15 September 2025

...

Berita Populer

  • Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Benang Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa Kewirausahaan UMS Rappang Kembangkan Produk Rajut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Culture Day SIT Andalusia Sukses Tampilkan Ragam Seni dan Budaya Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ustaz La Jami Ingatkan Bahaya Sifat Pemarah, Serakah hingga Sombong

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi