• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 17 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Esai

Bertanya di Tengah Era Algoritma

Refleksi Komunikasi Humanis dari Pegunungan Tutar

Editor: Tim Redaksi
24 Juni 2026
di Esai, Opini
Bertanya di Tengah Era Algoritma

 

Pagi itu, Ahad, 21 Juni 2026, saya tidak memiliki rencana bepergian jauh. Seperti biasa, saya menikmati jogging di Lapangan Andi Makkasau, Parepare. Udara pagi terasa segar. Langit tampak bersih. Aktivitas akhir pekan seolah akan berjalan biasa saja.

Namun sebuah panggilan telepon mengubah semuanya.

Di layar ponsel muncul nama Dr. Suherman, Ketua Tim Humas IAIN Parepare. Beliau mengajak saya menemaninya menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat di Dusun Talatikka, Desa Taloba, Kecamatan Tubbi Taramanu (Tutar), Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

BeritaTerkait

Politik Energi dalam Islam

Politik Energi dalam Islam

16 Juli 2026
Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

Budaya Bersih Kota Palu, Perspektif Komunikasi dan Hukum

14 Juli 2026
Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

Menguji Kebenaran Informasi dengan Metode CRAAP

8 Juli 2026
Nasab Ba‘alawi

Menempatkan Kontroversi Penelitian Nasab Ba‘alawi dalam Kerangka Keilmuan

15 Juni 2026

Beberapa jam kemudian, sebuah perjalanan yang semula tampak sederhana justru menghadirkan pelajaran penting tentang komunikasi, teknologi, dan hakikat pengetahuan.

Nama Tutar bukanlah wilayah yang asing bagi saya.

Sekitar dua dekade lalu, ketika masih menjadi wartawan Harian Fajar pada periode 2002–2004, saya cukup sering menulis tentang daerah tersebut. Keluhan masyarakat hampir selalu sama: jalan rusak, akses transportasi terbatas, serta pembangunan yang berjalan lambat.

Sebagai wartawan muda, saya menyaksikan bagaimana suara masyarakat pegunungan berjuang mencari ruang dalam pemberitaan media. Jalan yang rusak bukan sekadar persoalan infrastruktur. Di baliknya ada akses pendidikan yang terhambat, biaya distribusi hasil pertanian yang mahal, hingga pelayanan kesehatan yang sulit dijangkau.

Dua puluh tahun berlalu.

Kini aspal dan beton membelah perbukitan yang dahulu sulit ditaklukkan. Jalan yang dulu menjadi keluhan kini berubah menjadi jalur penghubung yang mempercepat denyut ekonomi masyarakat. Di kiri-kanan jalan terbentang hamparan kebun durian, langsat, rambutan, pala, dan berbagai komoditas lainnya.

Pembangunan memang tidak selalu mampu menyelesaikan semua persoalan. Namun pembangunan yang baik setidaknya membuka jalan bagi masyarakat untuk mengubah masa depannya.

Perjalanan menuju Tutar dimulai dari Parepare menjelang siang.

Setelah menunaikan salat Zuhur di sekitar Wonomulyo, kami menerima tautan lokasi tujuan. Seperti kebanyakan orang zaman sekarang, kami menyerahkan urusan arah kepada Google Maps. Jarak tempuh dari Wonomulyo ke Tutar berkisar 2 jam. Sedangkan dari Parepare ke Tutar 4 jam 4 menit menurut petunjuk google maps.

Awalnya semua berjalan normal.

Garis biru di layar ponsel tampak meyakinkan. Panah navigasi bergerak sesuai posisi kendaraan. Jarak tempuh terus berkurang.

Sampai akhirnya teknologi mulai menunjukkan keterbatasannya.

Di sebuah persimpangan, aplikasi meminta kami keluar dari jalan utama dan masuk ke jalur beton yang lebih sempit. Kami ragu. Untuk memastikan, kami berhenti dan bertanya kepada seorang pemilik toko sembako.

“Lurus saja, Pak. Jangan belok ke situ,” katanya.

Kami mengikuti sarannya.

Beberapa kilometer kemudian, aplikasi kembali memerintahkan hal yang sama.

Kali ini kami bertanya kepada warga lain.

Jawabannya tetap sama.

Lurus saja.

Semakin jauh memasuki kawasan perbukitan, sinyal telepon mulai melemah.

Ironisnya, pada saat yang sama Google Maps justru mengarahkan kendaraan kami menuju sebuah jalan menurun yang curam ke arah perkebunan kakao.

Seorang ibu yang sedang menggendong anak mengingatkan bahwa jalur tersebut masih berada di wilayah Kecamatan Luyo dan bukan arah menuju Tutar.

Kami sempat mencoba masuk beberapa ratus meter.

Jalan semakin curam.

Kebun semakin rapat.

Tak ada rumah.

Tak ada kendaraan.

Tak ada sinyal.

Barulah kami menyadari bahwa kali ini algoritma sedang keliru.

Di tengah kesunyian itu, Allah Swt. mempertemukan kami dengan seorang kurir paket yang melintas menggunakan sepeda motor.

Ia menjelaskan arah yang benar.

Kami diminta berputar dan kembali ke jalan utama.

Petunjuk sederhana dari seorang manusia ternyata lebih akurat dibandingkan teknologi yang terhubung dengan satelit dan jutaan data.

Sejak saat itu kami memutuskan satu hal: lebih banyak bertanya kepada manusia daripada kepada layar.

Menariknya, hampir setiap orang yang kami temui memberikan bantuan dengan tulus.

Tidak ada yang meminta imbalan.

Tidak ada yang menunjukkan wajah terganggu.

Semua menjawab dengan ramah.

Seolah-olah mereka memahami bahwa membantu orang yang sedang mencari jalan adalah bagian dari tradisi kemanusiaan yang diwariskan turun-temurun.

Di sebuah titik perjalanan, kami bertemu seorang pemuda yang hendak berangkat bekerja. Sebuah tangga lipat terselip di boncengan motornya.

Ketika saya menyebutkan nama dusun tujuan, ia tersenyum.

“Mau ke acara pengantin, ya Pak?”

Saya mengangguk.

Tanpa banyak bicara, ia menawarkan diri mengantar hingga lokasi acara.

Di tengah era ketika banyak orang lebih percaya kepada aplikasi daripada kepada sesama manusia, keramahan pemuda itu terasa seperti pengingat bahwa kebaikan masih hidup di jalan-jalan kampung.

Setelah hampir sepuluh kali bertanya kepada warga yang kami temui, akhirnya kami tiba dengan selamat di Dusun Talatikka.

Di lokasi acara, seorang kolega menceritakan pengalamannya.
Ia mengikuti petunjuk Google Maps dan jarang bertanya kepada penduduk lokal. Hasilnya, ia bersama rekannya di dalam mobil memasuki jalan sempit di tepi jurang. Mobilnya nyaris terperosok karena berpapasan dengan kendaraan lain. Saat itu ia juga kehilangan sinyal dan tidak dapat menghubungi siapa pun.

Cerita itu membuat saya merenung.

Kita hidup di zaman ketika informasi tersedia tanpa batas. Teknologi semakin cerdas. Artificial Intelligence mampu menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Algoritma mampu memprediksi perilaku manusia berdasarkan data yang dikumpulkannya.

Namun semakin lama saya menyadari bahwa informasi tidak selalu identik dengan pengetahuan.

Dan pengetahuan tidak selalu identik dengan kebijaksanaan.

Dalam kajian komunikasi kontemporer, Howard Giles (2021) menjelaskan bahwa efektivitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh kemampuan memahami konteks sosial dan lingkungan komunikasi. Sementara itu, Deddy Mulyana (2021) menegaskan bahwa komunikasi bukan sekadar proses pertukaran informasi, melainkan proses penciptaan makna bersama.

Pengalaman di Tutar menunjukkan bahwa warga lokal tidak hanya memberi informasi tentang arah jalan. Mereka menghadirkan konteks. Mereka memahami medan. Mereka mengetahui risiko. Mereka membaca realitas yang tidak dapat sepenuhnya dibaca oleh algoritma.

Teknologi memberikan data.

Manusia memberikan makna.

Dalam tradisi Islam, pelajaran semacam ini sesungguhnya telah diajarkan jauh sebelum lahirnya internet, satelit, maupun kecerdasan buatan.

Allah Swt. berfirman:

“Fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta’lamūn.”

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43).

Ayat tersebut mengajarkan etika intelektual yang sangat mendasar: apabila tidak mengetahui sesuatu, bertanyalah kepada orang yang mengetahui.

Prinsip itu diperkuat oleh sabda Rasulullah saw.:

“Sesungguhnya obat dari kebodohan adalah bertanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Dalam perspektif Islam, bertanya bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya, bertanya adalah jalan menuju ilmu.

Karena itu, kita bertanya kepada ulama tentang agama. Bertanya kepada dokter tentang kesehatan. Bertanya kepada dosen tentang ilmu pengetahuan. Bertanya kepada pengacara tentang hukum. Dan bertanya kepada penduduk lokal ketika mencari jalan di daerah yang belum kita kenal.

Sikap merasa cukup dengan pengetahuan sendiri sering kali menjadi awal dari kesesatan.

Sebaliknya, kerendahan hati untuk bertanya adalah pintu menuju keselamatan.

Menjelang sore, perjalanan pulang terasa lebih ringan.

Di Kampung Dara, Anreapi, kami menikmati durian dan rambutan yang disuguhkan dengan penuh keikhlasan oleh sahabat kami, Amri Makkaruba, jurnalis Radar Sulbar.

Di tengah udara pegunungan yang sejuk, aliran sungai yang jernih, dan hamparan kebun buah yang subur, saya kembali mengingat pelajaran sederhana hari itu.

Agar tidak tersesat dalam perjalanan, jangan sepenuhnya bergantung pada Google Maps. Bertanyalah kepada penduduk lokal.

Dan agar tidak tersesat dalam kehidupan, jangan hanya bergantung pada teknologi. Bertanyalah kepada guru, ulama, dokter, akademisi, pengacara, dan orang-orang berilmu yang telah lebih dahulu menempuh jalan pengalaman.

Sebab tidak semua petunjuk datang dari layar.

Sebagian di antaranya hadir melalui manusia-manusia baik yang Allah kirimkan di sepanjang perjalanan hidup kita. (*)

Penulis: Alfiansyah Anwar

Terkait: perjalanan

BeritaTerkait

Tak Ada Konten Tersedia

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi