MAKASSAR, PIJARNEWS.COM— Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra (FIPS) Universitas Bosowa (Unibos) menggelar kuliah tamu bertajuk “Artificial Intelligence or Authentic Intelligence?” yang berlangsung di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Lantai 4 Gedung 1 Unibos, Jumat (23/10/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang diskusi akademik mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan, khususnya dalam mendukung proses pembelajaran dan penyusunan karya ilmiah tanpa mengesampingkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta integritas akademik. Rangkaian kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Universitas Bosowa, dilanjutkan pembacaan doa yang dipimpin oleh Rina Fadillah.
Dalam sambutannya, Dekan FIPS Unibos, Dr. Hj. Andi Hamsiah, M.Pd., menekankan pentingnya memahami kedudukan teknologi sebagai sarana pendukung dalam proses pendidikan, bukan sebagai pengganti peran manusia.
Menurutnya, perkembangan AI memberikan berbagai kemudahan dalam mengakses informasi dan mengembangkan pembelajaran, namun tidak dapat menggantikan peran pendidik dalam membangun karakter, memberikan pendampingan, serta menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berlandaskan empati.
“AI itu hadir sebagai tool atau instrumen pendukung, bukan sosok yang diciptakan sebagai pengganti guru. Sentuhan pedagogis dan empati seorang pendidik tidak akan pernah bisa direplikasi oleh mesin,” tegasnya. Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi mahasiswa, khususnya calon pendidik, agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana tanpa kehilangan kemampuan pedagogis dan tanggung jawab profesional.
Arahan serupa disampaikan oleh Direktur Kerja Sama dan Pengembangan Usaha Unibos, Dr. Emil Salim Rasyidi, S.T., M.SE., yang hadir mewakili Direktur Akademik sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam sambutannya, ia menyoroti pentingnya etika, kejujuran, dan integritas dalam penggunaan teknologi, terutama ketika mahasiswa memanfaatkan AI untuk menyelesaikan tugas maupun menghasilkan karya akademik.
Menurutnya, kemudahan yang ditawarkan kecerdasan buatan perlu diimbangi dengan kemampuan individu untuk memahami, mengevaluasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaannya. “Pada saat kita memasuki dunia kerja, orang lain atau atasan pasti akan tahu mana hasil karya yang murni menggunakan AI dan mana yang tidak. Maka dari itu, gunakanlah etika dan kebijaksanaan dalam menggunakan AI. Jadikan ia asisten, bukan penentu hasil akhir karya Anda,” pesannya.
Selain pelaksanaan kuliah tamu, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) antara Fakultas Ilmu Pendidikan dan Sastra Universitas Bosowa dan Universitas Negeri Semarang (UNNES). Penandatanganan yang turut disaksikan oleh para Ketua Program Studi tersebut menjadi bagian dari upaya FIPS Unibos dalam memperluas jejaring kerja sama akademik antarperguruan tinggi.
Kolaborasi ini diharapkan dapat membuka peluang pengembangan kegiatan pendidikan, penelitian, serta pertukaran pengetahuan yang mendukung peningkatan kualitas akademik kedua institusi. Kehadiran akademisi UNNES dalam kegiatan kuliah tamu sekaligus memperkuat hubungan keilmuan dan membuka ruang diskusi mengenai perkembangan teknologi serta tantangannya dalam dunia pendidikan tinggi.
Memasuki sesi pemaparan materi, kuliah tamu menghadirkan Farid Ahmadi, S.Kom., M.Kom., Ph.D., Associate Professor dari Universitas Negeri Semarang, sebagai narasumber utama. Dalam pemaparannya, Farid membahas perbedaan antara kecerdasan buatan dan kecerdasan autentik manusia, khususnya dalam konteks pembelajaran dan pengembangan karya ilmiah.
Ia menjelaskan bahwa berbagai perangkat berbasis AI dapat dimanfaatkan untuk membantu meningkatkan efisiensi proses akademik, termasuk dalam mendukung pencarian informasi, pengembangan gagasan, dan penyusunan tulisan ilmiah.
Melalui demonstrasi penggunaan sejumlah perangkat AI, peserta diperkenalkan pada cara memanfaatkan teknologi secara etis dan terukur. Farid juga menekankan bahwa penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis untuk menilai ketepatan informasi, memahami konteks, serta memastikan hasil pekerjaan memiliki dasar akademik yang dapat dipertanggungjawabkan.
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu oleh moderator Nur Febriana S., S.Pd., M.Pd. Para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan mengenai batasan etis penggunaan AI, potensi bias informasi, hingga tantangan penerapannya dalam dunia akademik dan profesional. Diskusi tersebut memperlihatkan pentingnya literasi digital yang tidak hanya berfokus pada keterampilan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan mengevaluasi informasi dan mengambil keputusan secara mandiri.
Menutup sesi diskusi, Nur Febriana kembali menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak dapat dipisahkan dari peran manusia sebagai pencipta dan pengguna teknologi. “Sehebat apa pun teknologi kecerdasan buatan berkembang hari ini, pemanfaatan AI yang paling bijak bermuara pada satu kebenaran mutlak: bahwa ia lahir dan berasal dari kecerdasan otentik manusia,” tutupnya. Rangkaian kegiatan kemudian diakhiri dengan penyerahan sertifikat dan cenderamata kepada narasumber.
Melalui penyelenggaraan kuliah tamu dan penguatan kerja sama dengan UNNES, FIPS Unibos terus mendorong pengembangan kompetensi mahasiswa dalam menghadapi transformasi teknologi di bidang pendidikan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya fakultas dalam membangun kesadaran mengenai pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab, dengan tetap menempatkan kreativitas, integritas, dan kemampuan berpikir kritis sebagai landasan utama proses akademik. Dengan menghadirkan akademisi dan membuka ruang diskusi langsung, FIPS Unibos berharap mahasiswa mampu memanfaatkan perkembangan teknologi sebagai pendukung pembelajaran dan pengembangan keilmuan, tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan serta peran kecerdasan autentik dalam menghasilkan karya yang berkualitas. (adv)












