• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 13 Juli 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Ajatappareng

Akademisi IAIN Parepare Sebut Kenaikan Bahan Bakar Minyak Akibat Penggunaan BBM Bersubsidi Lampaui Kuota

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
4 September 2022
di Ajatappareng, Ekonomi
Akademisi IAIN Parepare Sebut Kenaikan Bahan Bakar Minyak Akibat Penggunaan BBM Bersubsidi Lampaui Kuota

Rusdianto

PAREPARE, PIJARNEWS.COM–Setelah pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi mengumumkan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dan non-subsidi, Sabtu (3/9/2022) 14.30 di Istana Merdeka, hal itu menuai berbagai respons pro dan kontra dari berbagai kalangan.

Rusdianto Sudirman, M.H, Akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Parepare, turut menanggapi isu kenaikan harga BBM. “Salah satu alasan pemerintah untuk menimbang kenaikan harga BBM adalah subsidi anggaran pendapatan belanja negara (APBN) yang sudah menembus sekira 500 triliun rupiah,” kata Rusdianto kepada Pijarnews.com, Sabtu (3/9/2022) malam.

Hal ini disebabkan antara lain, lanjut Rusdianto,  meningkatkannya jumlah penggunaan BBM bersubsidi sehingga melampaui kuota yang ditetapkan pemerintah. Dalam konteks ini, pemerintah kaget dan khawatir APBN akan jebol.

Rusdianto beranggapan peningkatan konsumsi BBM tersebut seharusnya sudah bisa diprediksi oleh pemerintah. “Permasalahan pertama, selama ini pemerintah masih berpihak dengan model bisnis jaringan transportasi seperti ojek online (Ojol), yang notabene menyumbang peningkatan jumlah kendaraan bermotor dan konsumsi BBM bersubsidi,” ujarnya dosen Hukum Tata Negara itu.

BeritaTerkait

Pesta Nelayan Ujung Labuang Jadi Daya Tarik Wisata, Dongkrak Ekonomi Warga

Pesta Nelayan Ujung Labuang Jadi Daya Tarik Wisata, Dongkrak Ekonomi Warga

9 Juli 2026
Serunya Berburu Durian di Sidrap: Pengunjung Membludak, Cuan Warga Tembus Rp 5 Juta Sehari!

Serunya Berburu Durian di Sidrap: Pengunjung Membludak, Cuan Warga Tembus Rp 5 Juta Sehari!

5 Juli 2026
Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

Sekda Pinrang Hadiri Pengukuhan Kepala Perwakilan BPKP Sulsel, Dorong Penguatan Sinergi Pengawasan

19 Juni 2026
Bupati Pinrang Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Dukung Pendataan

Bupati Pinrang Canangkan Sensus Ekonomi 2026, Ajak Warga Dukung Pendataan

17 Juni 2026

“Diperkirakan jumlah mitra ojol dari dua perusahaan besar di Indonesia (Grab dan Gojek) lebih dari 5 juta orang (driver). Sayangnya, banyak perusahaan ojol belum transparan dalam membuka data jumlah mitranya,” tutur Rusdianto.

“Keberpihakan ini sebenarnya kontradiksi dengan upaya pemerintah untuk menekan pembelian kendaraan pribadi dan visi pemerintah untuk transisi ke energi baru dan terbarukan,” lanjutnya.

Rusdianto menilai keberpihakan tersebut berkontribusi pada kegagalan pemerintah dan pemerintah daerah (Pemda) dalam menciptakan sistem transportasi umum yang nyaman dan terintegrasi.

“Padahal di dalam undang-undang No. 22 tahun 2009, tentang Lalu Lintas Angkutan Umum, pemerintah wajib menyelenggarakan angkutan umum, baik Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan Pedesaan yang kabupaten. Namun masyarakat lebih memilih transportasi online, yang lebih nyaman dan fleksibel,” ujar Rusdianto.

Tak terkecuali di Jakarta, lanjut Rusdianto,  banyak moda transportasi umum yang kalah saing dan tidak dilirik oleh masyarakat.

“Permasalahan berikutnya, adalah konsumsi BBM bersubsidi yang belum tepat sasaran. Solar bersubsidi misalnya, banyak digunakan oleh truk-truk pengangkut bahan tambang dan industri yang sebenarnya tidak boleh menggunakan,” ujar Rusdianto.

Penggunaan aplikasi untuk mencegah hal tersebut bagus, namun tidak aplikatif, oleh sebab itu, butuh upaya yang praktis. (*)

Reporter : Wahyuddin

Editor: Dian MuhtadiahHamna

Terkait: IAIN Parepare

BeritaTerkait

Yuk Daftar, IAIN Parepare dan Pijarnews Kolaborasi Gelar Pelatihan Dakwah Digital Gratis

Yuk Daftar, IAIN Parepare dan Pijarnews Kolaborasi Gelar Pelatihan Dakwah Digital Gratis

Editor: Tohir Muhammad
3 Juli 2026

...

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

JFC 2026 IAIN Parepare Gaungkan Literasi Digital, 91 Pelajar Adu Kreativitas Media

Editor: Tohir Muhammad
18 Mei 2026

...

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Baru Dilantik, Rektor IAIN Parepare Hadiri Rakor Nasional PMB PTKIN di Jakarta

Editor: Tohir Muhammad
13 Mei 2026

...

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2024 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi