• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Kamis, 26 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Anak Berhadapan Hukum dan Sinyal Bahaya

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 September 2025
di Opini
Desi Nofianti

Desi Nofianti

  Oleh Desi Nofianti S.Pd (Pendidik)

Dinas Sosial (Dinsos) Kota Balikpapan memperkuat upaya pencegahan terhadap kasus anak yang berhadapan dengan hukum melalui peningkatan sosialisasi kepada masyarakat. Hingga pertengahan tahun 2025, tercatat sekitar 200 kasus telah dilaporkan. Kepala Dinsos Balikpapan Edy Gunawan mengatakan, jumlah tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun demikian, angka itu dinilai masih cukup tinggi dan berpotensi bertambah. Edy Gunawan menekankan pentingnya peran keluarga dalam pengawasan dan pembinaan anak. Menurutnya, faktor lingkungan serta pola asuh keluarga sangat memengaruhi perilaku anak

Anak adalah hasil cinta antar orang tuanya namun dunianya bukan lagi bermain, bersenda gurau dan ceria lantaran sudah menghadapi hukum. Hal ini disebabkan peran agama dan moral dalam kehidupan tersingkirkan fatwa dan amar mar’uf nahi mungkar di angggap sebagai suatu yang tabu dan melanggar HAM, sehingga memungkinkan bagi masyarakat, termasuk anak sekalipun terlibat dalam tindak kriminal.

Peran orang tua semakin berat, istri bekerja karena ekonomi yang makin merosot efek kemiskinan dan para suami juga sulit mencari pekerjaan tanpa dukungan lingkungan dan negara.

Akar problem karena penerapa sistem sekuler demokrasi kapitalisme dalam berbagai aspek kehidupan. Yang mana mencengkeram berbagai sendi dari sisi ekonomi yang menyebabkan kemiskinan secara struktural, sekulerisme yang berasal dari negara barat (Perancis)  yang memberikan kebebasan dan mengukur kebahagiaan atas capaian materi ini terbukti telah melahirkan anak berhadapan hukum. Anak yang harusnya bahagia dengan orang tuanya, namun terahlihkan dengan game di era digital. Orang tua juga sibuk dengan dunianya baik ekonomi dan hal lainnya. Dimana banyak permainan kekerasan dan kenikmatan semu, sehingga pola pikir dan pola sikap anak tumbuh dengan hasil di game tersebut. Negara juga abai dalam mengurusi kebebasan dalam era digital tersebut dengan menyerahkan pada oarang tua dan sekolah.

Berita Terkait

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Membungkam Kritik dengan Air Keras

Sekulerisme juga meminuskan peran agama, agama hanya diambil pada sisi ibadah saja namun ketika diambil sisi politik, ekonomi dan sosial dihilangkan. Moderasi agama juga menjadikan pola pikir masyarakat, remaja yang ingin tampil dengan keislamannya juga dibulying dan dijadikan sebagai hal kuno dengan menyebutkan Islam itu biasa biasa saja. Dengan era buzzer dan medsos yang makin liar yang tak ada tolok ukur dalam kebenaran dalam bersikap dan berpikir.

Dalam Islam, status anak jelas jika baligh ditandai dengan anak laki laki sudah mimpi basah dan wanita ditandai dengan menstruasi sudah dijatuhi pembebanan hukum. Peran ortu juga dioptimalkan dengan pemimpin yang wajib menciptakan lapangan pekerjaan bagi seorang pria. Para ibu dididik dengan kepribadian seorang wanita yang mesti melahirkan anak-anak sebagai investasi akhirat dan sekolah untuk kepribadian yang membentuk karekater pola pikir dan pola sikap yang hanya takut pada Allah. Islam akan menciptakan anak yang saleh dengan kepribadian cemerlang  jauh dari kemaksiatan apalagi tindakan kriminal.

Rasulullah saw ketika diangkat menjadi Rasul, berumur 40 tahun. Pengikut beliau yang merupakan generasi pertama, kebanyakan juga dari kalangan pemuda dan remaja, bahkan ada yang masih anak-anak.

Mereka dibina Rasulullah saw setiap hari di rumah Arqam bin Abil Arqam. Di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib dan Zubai bin Awwam, yang paling muda, keduanya ketika itu berusia 8 tahun; Thalhah bin Ubaidillah (11); Arqam bin Abil Arqam (12); Abdullah bin Mas’ud (14) yang kemudian menjadi ahli tafsir terkemuka; Saad bin Abi Waqas (17) yang kelak menjadi panglima perang yang menundukkan negara adikuasa Persia; Ja’far bin Abi Thalib (18); Zaid bin Haritsah (20); Utsman bin Affan (20), Mush’ab bin Umair (24), Umar bin Khaththab (26); Abu Ubaidah Ibnul Jarah (27), Bilal bin Rabah (30), Abu Salamah (30), Abu Bakar ash-Shiddiq (37), Hamzah bin Abdul Muthallib (42), dan Ubaidah bin Al-Harits yang paling tua di antara semua sahabat (berusia 50 tahun). Serta masih terdapat puluhan ribu pemuda lain yang terlibat aktif dalam dakwah menegakkan panji-panji Islam pada masa hidup Rasulullah saw. Umumnya mereka adalah pemuda, bahkan remaja yang baru berangkat dewasa.

Usamah bin Zaid yang saat itu berusia 18 tahun diangkat oleh Nabi sebagai komandan pasukan Islam dalam penyerbuan ke Syam pada Perang Tabuk melawan tentara adikuasa Romawi. Padahal, di antara pasukan Islam terdapat sahabat, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab yang lebih tua darinya.

Hal yang sama juga dengan Abdullah bin Umar. Jiwa perjuangan Islam telah memanasi jiwanya sejak umur 13 tahun. Suatu ketika, Rasulullah saw tengah menyiapkan pasukan untuk Perang Badar. Datang kepada Rasulullah saw dua remaja Islam, Abdullah bin Umar dan Al-Barra’ meminta agar diterima sebagai anggota pasukan Islam, tetapi ditolak Rasulullah saw. karena masih terlampau kecil (diperkirakan kurang dari 13 tahun).

Tahun berikutnya, menjelang Perang Uhud, mereka datang lagi kepada Rasulullah saw untuk maksud yang sama, dan yang diterima hanya Al-Barra’. Pada Perang Ahzab, barulah Abdullah bin Umar diterima sebagai anggota pasukan Islam (Sahih Bukhari). Ada satu kisah menarik untuk direnungkan oleh para pemuda dan remaja Islam masa kiniyang diceritakan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf.

“Selagi aku berdiri dalam barisan pasukan saat Perang Badar, aku melihat ke kanan dan kiriku. Saat itu tampaklah olehku dua orang Anshar yang masih muda belia. Aku berharap semoga aku lebih kuat darinya. Tiba-tiba salah seorang di antaranya menekanku seraya berkata, ‘Hai Paman, apakah engkau mengenal Abu Jahal (tokoh kafir Quraisy)?’ Aku jawab, ‘Ya, apa keperluanmu padanya, hai anak saudaraku?’ Dia menjawab, ‘ Ada seseorang yang memberitahuku bahwa Abu Jahal sering mencela Rasulullah saw.. Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika aku menjumpainya, tentu tidak akan kulepaskan dia sampai siapa yang terlebih dulu mati, aku atau dia.’ Berkata Abdurrahman bin Auf: ‘Aku merasa heran ketika mendengar ucapan pemuda itu.’ Kemudian anak yang satunya lagi juga menekanku dan berkata seperti ucapan temannya tadi. Tidak lama berselang, aku melihat Abu Jahal mondar-mandir di dalam barisannya. Segera kukatakan (kepada dua anak muda itu), ‘Inilah orang yang sedang kalian cari.’ Tanpa mengulur-ulur waktu, keduanya seketika menyerang Abu Jahal, menikamnya dengan pedang sampai tewas. Setelah itu mereka mendatangi Rasulullah saw. (dengan rasa bangga) menceritakan kejadian itu. Rasulullah saw. bertanya, ‘Siapa di antara kalian yang menewaskannya?’ Masing-masing menjawab, ‘Sayalah yang membunuhnya.’ Lalu Rasulullah saw. bertanya lagi, ‘Apakah kalian sudah membersihkan mata pedang kalian?’ Keduanya serentak menjawab, ‘Belum.’ Kemudian Rasulullah saw melihat pedang mereka seraya bersabda, ‘Kamu berdua telah membunuhnya. Akan tetapi, segala pakaian dan senjata yang dipakai Abu Jahal (boleh) dimiliki Muadz bin Al-Jamuh.’ (Berkata perawi hadis ini) bahwa kedua pemuda itu adalah Muadz bin Afra dan Muadz bin Al-Jamuh.” (Musnad Imam Ahmad Jilid I/hlm. 193 dan Sahih Bukhari hadis nomor 3141 dan Sahih Muslim hadis nomor 1752).

Dahulu, Syafi’i muda telah hafal Alquran pada usia sekitar sembilan tahun dan mulai dimintai fatwanya pada usia sekitar 13 tahun, sebelum akhirnya menjadi seorang mujtahid, imam mazhab yang terkemuka. Usamah bin Zaid telah memimpin perang pada usia 18 tahun. Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam telah terlibat perjuangan pada usia delapan tahun. Kini, apa yang dilakukan pemuda berusia 8—18 tahunan? Mejeng, tawuran, foya-foya? Bahkan kriminal.

Generasi Islam ini akan kokoh jika dibingkai dengan ketakwaan dan generasi tersebut akan menjadi tenaga seorang ilmuwan dan lihai serta kompeten  dalam memberi  solusi berbagai problem kehidupan.  Semua itu hanya ada dalam paradigma sistem Islam dalam kerangka peradaban Islam.  (*)

 

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Puncak Arus Balik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Sabtu Ini, Penumpang Tembus 7.000 Orang

Puncak Arus Balik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Sabtu Ini, Penumpang Tembus 7.000 Orang

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Pantau Arus Balik di Pelabuhan Parepare, Wakil Wali Kota Sebut Kapasitas Kapal Masih Normal

Pantau Arus Balik di Pelabuhan Parepare, Wakil Wali Kota Sebut Kapasitas Kapal Masih Normal

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan