• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 1 Juni, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

OPINI

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026
di Opini
Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Oleh: Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Lembaga kemahasiswaan hari ini tidak hanya berhadapan dengan krisis makna, tetapi juga mengalami disrupsi generasional yang signifikan. Perbedaan karakter antara generasi lama yang dibentuk oleh kultur hierarkis dan romantisme gerakan klasik dengan generasi baru seperti Gen Z dan Gen Alpha, melahirkan ketegangan yang tidak dapat diabaikan. Ketegangan ini bukan sekadar soal gaya komunikasi, tetapi menyangkut cara pandang terhadap organisasi, makna gerakan, hingga orientasi perjuangan.

Generasi sebelumnya cenderung membangun organisasi sebagai ruang ideologis yang sarat dengan nilai loyalitas, militansi, dan proses kaderisasi yang panjang. Struktur organisasi dipahami sebagai instrumen pembentukan karakter melalui disiplin kolektif dan kepatuhan terhadap sistem. Namun, di sisi lain, pendekatan ini sering kali melahirkan kultur eksklusif, kaku, dan kurang adaptif terhadap perubahan zaman.

Berbeda dengan itu, Gen Z yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital memiliki kecenderungan yang lebih fleksibel, terbuka, dan pragmatis. Mereka tidak lagi melihat organisasi sebagai satu-satunya ruang aktualisasi diri. Akses informasi yang luas membuat mereka lebih kritis dalam menilai relevansi organisasi. Jika lembaga kemahasiswaan tidak mampu memberikan nilai tambah yang konkret, maka loyalitas tidak lagi menjadi sesuatu yang otomatis diberikan.

Sementara itu, Gen Alpha, sebagai generasi yang lebih muda, bahkan diproyeksikan akan membawa pola yang lebih disruptif. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba instan, visual, dan berbasis teknologi tinggi. Dalam konteks ini, organisasi yang masih bertahan pada pola lama berpotensi semakin ditinggalkan. Bagi generasi ini, efektivitas, kecepatan, dan dampak nyata menjadi parameter utama, bukan sekadar proses panjang yang tidak jelas output-nya.

Berita Terkait

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Pesta Babi, Papua, dan Krisis Komunikasi Pembangunan di Era Digital

Arah Pendidikan Tinggi di Bawah Tekanan Kapitalisme

Meningkatnya Pekerja GIG dan UMKM: Cermin Kegagalan Negara dalam Menyediakan Lapangan Kerja

Ketegangan ini kemudian memunculkan problem serius dalam tubuh lembaga kemahasiswaan. Di satu sisi, generasi lama sering memandang generasi baru sebagai kurang militan, tidak tahan proses, dan minim loyalitas. Di sisi lain, Gen Z dan Gen Alpha melihat organisasi sebagai terlalu birokratis, tidak relevan, dan miskin inovasi. Konflik persepsi ini jika tidak dikelola dengan baik akan melahirkan stagnasi gerakan dan mempercepat krisis kepercayaan terhadap lembaga.

Dalam perspektif organisatoris, situasi ini menuntut adanya reorientasi yang tidak hanya menyentuh aspek program, tetapi juga paradigma gerakan. Lembaga kemahasiswaan harus mampu melakukan sintesis antara nilai-nilai klasik seperti militansi dan idealisme, dengan pendekatan baru yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis hasil. Tradisi intelektual tetap harus dipertahankan, tetapi dengan metode yang lebih kontekstual dan relevan dengan karakter generasi saat ini.

Lebih jauh, pembangunan kesadaran kolektif harus disesuaikan dengan pola interaksi generasi digital. Ruang-ruang diskursus tidak lagi cukup hanya dalam bentuk forum formal, tetapi perlu diperluas ke platform yang lebih dinamis dan partisipatif. Organisasi harus hadir sebagai ruang yang tidak hanya menuntut, tetapi juga memberikan nilai: pengembangan kapasitas, jejaring, dan dampak nyata bagi anggotanya.

Kaderisasi, dalam konteks ini, harus diredefinisi. Bukan lagi sekadar proses indoktrinasi struktural, melainkan proses pengembangan individu yang berbasis potensi dan minat. Gen Z dan Gen Alpha cenderung lebih responsif terhadap pendekatan yang memberi ruang kreativitas dan otonomi, dibandingkan pola yang terlalu menekankan senioritas dan formalitas.

Pada akhirnya, disrupsi generasi ini harus dibaca sebagai peluang, bukan ancaman. Lembaga kemahasiswaan memiliki kesempatan untuk melakukan transformasi mendasar dengan mengintegrasikan kekuatan nilai-nilai lama dan energi inovatif generasi baru. Tanpa itu, organisasi akan semakin ditinggalkan dan kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Sebagai anak organisatoris, penting untuk menyadari bahwa keberlanjutan lembaga tidak ditentukan oleh seberapa kuat kita mempertahankan tradisi lama, tetapi oleh seberapa mampu kita mengadaptasikannya dengan realitas generasi hari ini. Di titik inilah, masa depan lembaga kemahasiswaan sedang dipertaruhkan: antara bertahan dalam romantisme masa lalu, atau berani bertransformasi menjadi gerakan yang hidup, kritis, dan kontekstual. (*)

Terkait: Opini

TerkaitBerita

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

...

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Momentum Dzulhijjah-Dari Puasa Arafah hingga Haji: Jalan Spiritual Merawat Mental

Editor: Muhammad Tohir
26 Mei 2026

...

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Membangun Mimpi Pendidikan Layak

Editor: Muhammad Tohir
21 Mei 2026

...

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Kembali Kepada Al-Qur’an dan Sunnah; Sebuah Analisa Metodologis

Editor: Tim Redaksi
14 Mei 2026

...

Berita Terkini

Meski Belum Rampung, Warga Desa Benteng Senang Jalan Indoapping-Rajang Balla Kini Diperbaiki

Meski Belum Rampung, Warga Desa Benteng Senang Jalan Indoapping-Rajang Balla Kini Diperbaiki

Editor: Muhammad Tohir
31 Mei 2026

Misi Dakwah Kurban di Enam Pelosok Negeri, KDP Jangkau Daerah Muallaf hingga Pedalaman NTT

Misi Dakwah Kurban di Enam Pelosok Negeri, KDP Jangkau Daerah Muallaf hingga Pedalaman NTT

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Gebyar Anniversary KMKB ke-25, Pererat Solidaritas dan Perkuat Semangat Pelestarian Budaya Daerah

Gebyar Anniversary KMKB ke-25, Pererat Solidaritas dan Perkuat Semangat Pelestarian Budaya Daerah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Indonesia Jadi Sarang Mafia Judi Online: Bukti Lemahnya Pengawasan Negara

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
31 Mei 2026

Imigrasi Parepare Gelar Pengawasan WNA dan Edukasi APOA di Hotel dan Penginapan

Imigrasi Parepare Gelar Pengawasan WNA dan Edukasi APOA di Hotel dan Penginapan

Editor: Muhammad Tohir
30 Mei 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan