• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

OPINI

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026
di Opini
Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Oleh: Nur Ilham (Mahasiswa Fisipol Universitas Muhammadiyah Makassar)

Lembaga kemahasiswaan hari ini tidak hanya berhadapan dengan krisis makna, tetapi juga mengalami disrupsi generasional yang signifikan. Perbedaan karakter antara generasi lama yang dibentuk oleh kultur hierarkis dan romantisme gerakan klasik dengan generasi baru seperti Gen Z dan Gen Alpha, melahirkan ketegangan yang tidak dapat diabaikan. Ketegangan ini bukan sekadar soal gaya komunikasi, tetapi menyangkut cara pandang terhadap organisasi, makna gerakan, hingga orientasi perjuangan.

Generasi sebelumnya cenderung membangun organisasi sebagai ruang ideologis yang sarat dengan nilai loyalitas, militansi, dan proses kaderisasi yang panjang. Struktur organisasi dipahami sebagai instrumen pembentukan karakter melalui disiplin kolektif dan kepatuhan terhadap sistem. Namun, di sisi lain, pendekatan ini sering kali melahirkan kultur eksklusif, kaku, dan kurang adaptif terhadap perubahan zaman.

Berbeda dengan itu, Gen Z yang lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital memiliki kecenderungan yang lebih fleksibel, terbuka, dan pragmatis. Mereka tidak lagi melihat organisasi sebagai satu-satunya ruang aktualisasi diri. Akses informasi yang luas membuat mereka lebih kritis dalam menilai relevansi organisasi. Jika lembaga kemahasiswaan tidak mampu memberikan nilai tambah yang konkret, maka loyalitas tidak lagi menjadi sesuatu yang otomatis diberikan.

BeritaTerkait

Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

13 Oktober 2026
Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

Paradoks Legal Standing: Kepentingan Publik dan Akses Bersyarat

9 Oktober 2026

Sementara itu, Gen Alpha, sebagai generasi yang lebih muda, bahkan diproyeksikan akan membawa pola yang lebih disruptif. Mereka tumbuh dalam dunia yang serba instan, visual, dan berbasis teknologi tinggi. Dalam konteks ini, organisasi yang masih bertahan pada pola lama berpotensi semakin ditinggalkan. Bagi generasi ini, efektivitas, kecepatan, dan dampak nyata menjadi parameter utama, bukan sekadar proses panjang yang tidak jelas output-nya.

Ketegangan ini kemudian memunculkan problem serius dalam tubuh lembaga kemahasiswaan. Di satu sisi, generasi lama sering memandang generasi baru sebagai kurang militan, tidak tahan proses, dan minim loyalitas. Di sisi lain, Gen Z dan Gen Alpha melihat organisasi sebagai terlalu birokratis, tidak relevan, dan miskin inovasi. Konflik persepsi ini jika tidak dikelola dengan baik akan melahirkan stagnasi gerakan dan mempercepat krisis kepercayaan terhadap lembaga.

Dalam perspektif organisatoris, situasi ini menuntut adanya reorientasi yang tidak hanya menyentuh aspek program, tetapi juga paradigma gerakan. Lembaga kemahasiswaan harus mampu melakukan sintesis antara nilai-nilai klasik seperti militansi dan idealisme, dengan pendekatan baru yang lebih adaptif, inklusif, dan berbasis hasil. Tradisi intelektual tetap harus dipertahankan, tetapi dengan metode yang lebih kontekstual dan relevan dengan karakter generasi saat ini.

Lebih jauh, pembangunan kesadaran kolektif harus disesuaikan dengan pola interaksi generasi digital. Ruang-ruang diskursus tidak lagi cukup hanya dalam bentuk forum formal, tetapi perlu diperluas ke platform yang lebih dinamis dan partisipatif. Organisasi harus hadir sebagai ruang yang tidak hanya menuntut, tetapi juga memberikan nilai: pengembangan kapasitas, jejaring, dan dampak nyata bagi anggotanya.

Kaderisasi, dalam konteks ini, harus diredefinisi. Bukan lagi sekadar proses indoktrinasi struktural, melainkan proses pengembangan individu yang berbasis potensi dan minat. Gen Z dan Gen Alpha cenderung lebih responsif terhadap pendekatan yang memberi ruang kreativitas dan otonomi, dibandingkan pola yang terlalu menekankan senioritas dan formalitas.

Pada akhirnya, disrupsi generasi ini harus dibaca sebagai peluang, bukan ancaman. Lembaga kemahasiswaan memiliki kesempatan untuk melakukan transformasi mendasar dengan mengintegrasikan kekuatan nilai-nilai lama dan energi inovatif generasi baru. Tanpa itu, organisasi akan semakin ditinggalkan dan kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

Sebagai anak organisatoris, penting untuk menyadari bahwa keberlanjutan lembaga tidak ditentukan oleh seberapa kuat kita mempertahankan tradisi lama, tetapi oleh seberapa mampu kita mengadaptasikannya dengan realitas generasi hari ini. Di titik inilah, masa depan lembaga kemahasiswaan sedang dipertaruhkan: antara bertahan dalam romantisme masa lalu, atau berani bertransformasi menjadi gerakan yang hidup, kritis, dan kontekstual. (*)

Terkait: Opini

Berita Terkait

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Editor: Tim Redaksi
20 Oktober 2026

...

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Editor: Tim Redaksi
13 Oktober 2026

...

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Negara Menjadi Perisai Hakiki, Generasi Terlindungi

Editor: Tim Redaksi
8 Oktober 2026

...

Berita Populer

  • Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    Hamka Dg Ruppa Pimpin KKBP Parepare 2026-2031, Wali Kota Dorong Sinergi Pembangunan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Benang Jadi Peluang Bisnis, Mahasiswa Kewirausahaan UMS Rappang Kembangkan Produk Rajut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Ujung Bangkala ke Panggung Nasional, Gema Swara Ujung Moncong SMAN 4 Jeneponto Raih Juara 2 PMC VII UNM

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Penuh Energik dan Percaya Diri, Tim Swara Drumband SMAN 4 Jeneponto Tampil di Panggung Phinisi Marching Competition VII

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi