• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Sabtu, 14 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Anak Sekolah dan Bunuh Diri: Kegagalan Sistem Sekuler

Oleh: Fath A. Damayanti, S.Si (Pemerhati Lingkungan dan Politik)

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
10 November 2025
di Opini, Pendidikan

 

Kasus bunuh diri anak sekolah terjadi dalam sepekan terakhir sebagaimana terjadi di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, dua kejadian siswa sekolah mengakhiri hidup atau bunuh diri di dua sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat dimana siswi kelas VIII MTs, ditemukan tewas tergantung di rumahnya. Kasus yang sama juga terjadi di Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta dan di Kota Denpasar, Bali, dimana seorang anak yang masih duduk di bangku SMP juga mengakhiri hidupnya (kompas.id, 2/11/2025).

Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada 46 kasus bunuh diri anak di tahun 2024 dan 25 kasus di tahun 2025 dengan dugaan kuat berkaitan dengan perundungan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (30/10/2025), mengungkapkan data mengkhawatirkan dari program pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang menunjukkan lebih dari dua juta anak Indonesia mengalami berbagai bentuk gangguan mental. Data ini diperoleh dari sekitar 20 juta jiwa yang sudah diperiksa.

Menurut Josephine Elia, MD, Sidney Kimmel Medical College of Thomas Jefferson University
(Ditinjau Oleh Alicia R. Pekarsky, MD, State University of New York Upstate Medical University, Upstate Golisano Children’s Hospital Mei 2023, dimodifikasi Juli 2025), anak-anak dan remaja yang mencoba bunuh diri terkadang marah dengan anggota keluarga atau teman, tidak dapat menoleransi kemarahan, dan membalikkan kemarahan terhadap diri mereka sendiri.

Berita Terkait

Imigrasi Parepare Raih penghargaan Sangat Baik Opini Penilaian Maladministrasi Pelayanan Publik 2025.

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Mereka mungkin ingin memanipulasi atau menghukum orang lain. Kesulitan berkomunikasi dengan orang tua mereka dapat menimbulkan risiko bunuh diri. Terkadang perilaku bunuh diri terjadi ketika anak meniru tindakan orang lain. Misalnya, bunuh diri yang ramai dipublikasikan, seperti bunuh dirinya selebriti, sering diikuti dengan bunuh diri atau percobaan bunuh diri orang lainnya.

Demikian pula, perilaku meniru bunuh diri terjadi di sekolah. Bunuh diri lebih mungkin terjadi pada keluarga dengan gangguan suasana hati yang umum terjadi, terutama jika ada riwayat keluarga yang bunuh diri atau perilaku kekerasan lainnya. Gangguan mental dan gangguan fisik lainnya juga dapat meningkatkan risiko bunuh diri.

Adanya kasus bunuh diri di kalangan pelajar ini nyatanya tidak selalu karena perundungan (bullying). Rapuhnya kepribadian remaja juga menjadi faktor yang mendorong terjadinya bunuh diri. Gaya hidup dan kemajuan teknologi tak pelak menjadikan generasi mengikuti segala hal yang viral tanpa ada filter, tidak mampu membedakan mana aktivitas yang dibenarkan mana aktivitas yang salah. Hal ini karena tergerusnya akidah pada anak-anak, tidak optimalnya pemahaman agama nyatanya berpengaruh pada kepribadian anak. Pendidikan saat ini berorientasi pada prestasi, kurikulumnya pun berbasis sekuler dimana agama diabaikan. Pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah juga hanya sekedar memenuhi kewajiban dalam kurikulum tanpa meninggalkan pengaruh yang menjasad pada anak.

Sedangkan di luar sekolah, pemenuhan pendidikan agama diserahkan oleh orang tua kepada Taman Pendidikan Al Quran (TPA) atau guru-guru ngaji tanpa adanya pendidikan dan pemahaman dari orang tua. Kesibukan orang tua juga membuat anak-anak kehilangan peran orang tuanya dalam kehidupan, akhirnya mencari perhatian di luar rumah bahkan memberontak dan berperilaku yang berbeda di luar dan di dalam rumah.

Bunuh diri adalah puncak dari gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. Hal ini akibat penerapan sistem kapitalisme. Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non klinis yang mempengaruhi gangguan mental. Paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang semakin banyak mendorong remaja dan anak-anak makin rentan bunuh diri.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan Islam, dimana Islam memandang anak adalah amanah, yang wajib dipenuhi haknya, dipenuhi kebutuhannya dan diperlakukan secara baik. Ayah sebagai kepala keluarga mempunyai kewajiban dalam hal pemenuhan nafkah sedangkan ibu sebagai pendidik pertama dan utama untuk anak-anaknya.

Perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggungjawab keluarga, tetapi juga menjadi tanggungjawab negara. Negara memiliki tanggungjawab sebagai pengayom, pelindung, dan perisai bagi keselamatan seluruh rakyatnya, demikian juga anak.

Nasib anak menjadi kewajiban negara untuk menjaminnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas pihak yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim). Masyarakat pun berperan dalam menciptakan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan anak, dan senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar.

Dalam Islam pun bunuh diri hukumnya haram, Allah SWT berfirman dalam Surat An Nisa ayat 29: “… Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” Rosulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR Bukhari dan Muslim).

Islam memiliki mekanisme terbaik dalam memberikan perlindungan anak melalui berbagai cara. Dalam hal sanksi, Negara Islam akan menerapkan sanksi yang tegas dan menjerakan bagi semua pihak yang melakukan tindak kekerasan terhadap anak sehingga kejahatan atau tindak kriminalitas tidak akan terus berulang. Asas akidah Islam pun akan menjadikan semua individu memahami kewajibannya melindungi anak.

Penerapan Islam mencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus menyolusi persoalan ini secara tuntas, karena Islam mewujudkan kebaikan pada aspek non klinis, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. Kurikulum pendidikan dalam Islam memadukan penguatan kepribadian Islami dengan penguasaan kompetensi ilmu. Sehingga murid mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara syar’i.

Dengan adanya pengaturan dalam Islam yang diterapkan secara keseluruhan maka anak akan terlindungi dan akan menjadi generasi emas yang membawa perubahan ke arah yang lebih baik atas asas akidah Islam.

Wallahua’lam bishawab

Terkait: anak sekolahOpini

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

SD Unggulan Segera Hadir di Majene, Padukan Sains dan Tahfidz

SD Unggulan Segera Hadir di Majene, Padukan Sains dan Tahfidz

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

BeritaTerkini

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

Liga Ramadan 2026 Berakhir, Sekda Parepare: Jaga Semangat Pembinaan

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Penataan Wilayah dan Penanggulangan Banjir Manggala Jadi Prioritas Pemkot Makassar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Pedagang Ikan di Pinrang Dipaksa Setor Rp3 Juta per Tahun, Tak Bayar Meja Jualan Dibongkar

Pedagang Ikan di Pinrang Dipaksa Setor Rp3 Juta per Tahun, Tak Bayar Meja Jualan Dibongkar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan