• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Senin, 16 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Andi Makmur Makka: Selumbar Pemikiran untuk Pertemuan Saudagar Bugis-Makassar

Ibrah La Iman Editor: Ibrah La Iman
23 Juni 2018
di Opini

Berbicara mengenai kosa kata “saudagar”,  saya teringat buku karangan William Shakespeare “The Merchant of Venice” yang diterjemahkan menjadi “Saudagar dari Venesia” oleh sk.dt. Pamoencak pada tahun 50-an. Sebuah roman yang menarik tentang seorang Yahudi serakah. Kalau kita membuka kamus besar Bahasa Indonesia, kosakata saudagar artinya “orang yang memperdagangkan sesuatu dalam jumlah besar; pedagang besar.  Atau mungkin bisa diartikan, mereka yang berdagang bukan lagi barang klontongan dan barang-barang  seperti di pasar kaki lima.

Kosa kata “saudagar” sebenarnya hampir hilang dalam perbendaharaan Bahasa Indonesia dan digantikan dengan kosa kata  yang hampir sama artinya, seperti: “pedagang’, “pengusaha”, “pebisnis”,  “wirasaswata”. Karena itu, sangatlah dihargai kosa kata “saudagar” dipakai  lagi dalam pertemuan tahunan saudagar Bugis-Makassar ini.

Perhelatan “Pertemuan Saudagar Bugis Makassar” yang memakai kosakata “saudagar”, mengingatkan saya dengan suasana dunia bisnis di Sulawesi Selatan selepas kemerdekaan sampai tahun 50-an. Pada masa itu, para pelaku usaha besar, masih sering di sebut sebagai “saudagar”. Sebelumnya, aktivitas usaha orang-orang lokal di daerah Bugis disebut “pakkampilo” atau penjaja keliling, selain mereka yang berkiprah dalam usaha pelayaran rakyat, grosir-grosir hasil bumi untuk diantarpulaukan, begitu pula dengan hasil hutan. Tokoh saudagar yang tenar waktu itu, misalnya: Najamuddin Daeng Malewa sebelum  menjadi Perdana Menteri Negara Indonesia Timur (NIT), Syamsuddin Daeng Mangawing, Andi Ronda dari group Maskapai Kapal Sulawesi Selatan (MKSS) lalu berobah menjadi perusahaan pelayaran Sulawesi Selatan (PPSS), Haji Lala, Haji Mattalitti, Haji Yahya, Nonci Beddu (Nobed), Muhammadong, Arsyad dan beberapa nama saudagar yang dikenal tahun 50-an. Mereka itulah yang dikenal kelompok saudagar dari etnis Bugis Makassar. Beberapa perusahaan yang mereka dirikan, ada yang bertahan sampai  70-an. Tetapi dengan berbagai masalah manajemen, usaha kaum saudagar ini perlahan hilang ditelan waktu.

Pada masa orde lama dan orde baru, sebagaimana layaknya bangsa yang baru merdeka dan berkembang, pemerintah menganut strategi pembangunan “growth strategy” (W.Rostow), strategi pertumbuhan yang mengutamakan pertumbuhan ekonomi nasional sebesar mungkin. Strategi ini mengutamakan “big push” dengan perlunya investasi skala besar dalam bidang industri untuk peningkatan pangsa pasar. Negara lain yang melaksanakan strategi ini (Pakistan-Korsel, dll) memang menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat. Indikator ekonomi GNP (gross national product) negara itu melonjak. Di Indonesia, yang awalnya menganut strategi ini, telah menghasilkan industri dan jasa skala besar yang hanya bisa dinikmati oleh pemodal besar atau penanaman modal asing. Kelompok pengusaha lain (umumnya warga asli Indonesia) tidak bisa memanfaatkan kesempataan ini dalam negerinya sendiri. Konsolidasi politik dalam negeri yang memerlukan stabilitas politik, menciptakan penguasa yang totaliter,  melengkapi  diskriminalisasi dalam kebijakan politik-ekonomi dalam negeri. Dari sini kemudian lahirlah pengusaha-pengusaha besar tetapi dimonopoli oleh warganegara keturunan yang dijuluki “taipan”. Bahkan sekarang turunannya terkenal “9 taipan”  yang menguasai lapangan usaha di indonesia dari hilir ke hulu.

Strategi pembangunan seperti yang ikut dianut oleh Indonesia ini, mengakibatkan kepincangan dalam ekonomi dan mendapat kritikan dan reaksi dari sejumlah pemikir ekonomi pembangunan. Bahwa kebijakan ekonomi seperti ini tidak adil, karena tidak memberikan  “trickle down effects”. Kue hasil pembangunan hanya dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang kaya dan mereka yang miskin makin miskin. Tidak ada pembagian pendapatan yang merata dan hilangnya kesempatan kerja bagi masyarakat banyak.

Berita Terkait

Pertemuan Saudagar Bugis Makassar dan Mubes ke-12 KKSS Digelar 9-11 April 2025

Hadiri PSBM, Taufan Pawe Ungkap Rasa Bahagia Kala Bertemu Para Tokoh Sulsel

Bupati Barru Hadiri PSBM ke-19 Bertajuk Sinergi Majukan Pariwisata Lokal

GALERI FOTO : Halaman Gedung Pemuda Ditumbuhi Rumput dan Alang-alang

Koreksi atas strategi pertumbuhan menyatakan bahwa perhatian pembangunan, tidaklah semata-mata ditujukan pada kemajuan ekonomi-sosial negara “an sich”, tetapi perlunya pembangunan, yang berorietasi pada “keadilan dan pemerataan”. Strategi pembangunan seperti ini kembali dianut oleh sejumlah negara–negera yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Hal ini telah diantisipasi oleh Presiden Soeharto dengan “trilogi pembangunan”, dengan mencanangkan: stabilitas, pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pembangunan. Pada masa orde baru, memang pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah mencatat rata-rata 7,8% pertahun. Tetapi dalam hal keadilan dan pemerataan, masih terjadi ketimpangan (inequality), bahkan pada tahun 1976, terjadi ketimpangan yang sangat mencolok.  Itu terjadi karena kita hanya mengacu pada indikator ekonomi. Belum menyentuh aspek social, yaitu keadilan dan pemerataan dalam pembangunan.

Pada kesempatan inilah, kita mengharap kepada “saudagar-saudagar” Bugis-Makassar, agar  pertemuan tahunan ini, jangan hanya terbatas pada usaha memperkuat  sinergi internal untuk pertumbuhan usaha antar saudagar Bugis-Makassar. Strategi pertumbuhan ekonomi telah menyisakan  ketimpangan pemerataan dan keadilan dalam masyarakat. kita terpanggil, untuk mengiring  motivasi pertemuan ini, juga tertuju untuk memikirkan pembentukan manusia-manusia entrepreneaur lain, supaya terjadi “trickle down effects”, dalam membentuk manusia pembangunan. Lahirkan pemikiran-pemikiran dalam hal, bagaimana  meningkatkan rendahnya produktivitas rata-rata para penduduk, bagaimana membuka lapangan kerja. Karena tanpa masuknya pekerja asing, seperti yang terjadi akhir-akhir ini, banyak pencari kerja yang masih merintih mencari kerja hanya untuk sesuap nasi. Membuka lapangan kerja sama  bagi saudara-saudara kita, akan  meningkatkan kesejahteraan rakyat,  mengikis masalah kemiskinan dan kemelaratan absulut. Percuma pembangunan infrastruktur fisik jika tidak diimbangi pembangunan software; “manusia indonesia”. Selamat berdiskusi para saudagar-saudagar Bugis-Makassar!

Andi Makmur Makka

Pengurus The Habibie Centre

 

Terkait: Andi Makmur MakkaHabibie CentrePertemuan Saudagar Bugis MakassarPSBM

TerkaitBerita

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Pemimpin Islam : Antara Marwah dan Riayah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
12 Maret 2026

...

Legitimasi Agama dan Bahaya Provokasi Umat Islam

Editor: Muhammad Tohir
8 Maret 2026

...

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Ramadan 1447H

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

HUT ke-53 dan Ramadan Berkah di Barru: Bosowa Salurkan 9,3 Ton Paket Pangan dan Gelar Buka Puasa Bersama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
14 Maret 2026

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Bingkai Berbagi Ramadan 2026, Kolaborasi Fotografer Se-Ajatappareng Santuni Panti Asuhan Sitti Khadijah

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
9 Maret 2026

Pengusaha Parsel di Pinrang Kebanjiran Orderan Sejak Sebelum Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
7 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

BeritaTerkini

Ramadhan Fair Vol.5 Resmi Ditutup, Tasming Hamid Apresiasi HIPMI Parepare

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Bukber Bersama Jurnalis, Wali Kota Parepare: Kita Ingin Suasana Lebih Akrab, Makanya Tanpa Protokoler

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Bersama Forkopimda, Wali Kota Parepare Pantau Arus Mudik di Pelabuhan

Editor: Muhammad Tohir
16 Maret 2026

Lurah dan Ketua PKK Antang Pantau Pasar Murah Pemkot

Editor: Muhammad Tohir
15 Maret 2026

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Pemudik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Naik 5 Persen

Editor: Muhammad Tohir
14 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan