• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 6 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Anggaran Membelah: Rakyat Terhimpit, Elit Terlindungi 

Oleh: Luthfiyah Mahrusah (Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, IAIN Parepare)

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
1 September 2025
di Opini
Anggaran Membelah: Rakyat Terhimpit, Elit Terlindungi 

Dok: Gerakan Mahasiswa Parepare menggelar demo bertajuk 'Indonesia Gelap' di Kantor DPRD. Foto: Faizal Lupphy. Rabu (26/02/2025).

OPINI-Bunyi gejolak keresahan masyarakat kini muncul dalam bentuk ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari. Ketika di sekolah, para guru bergelut dengan fasilitas yang minim, sementara tenaga honorer bekerja keras, mengorbankan waktu dan tenaga demi pendidikan anak bangsa, namun gaji yang diterima tidak sebanding dengan yang dikeluarkan. Selain itu, di rumah sakit, pasien menghadapi antrian panjang dan obat mahal, sementara kualitas layanan publik terus menurun.

Uniknya, di tengah kesulitan itu, para elit politik tetap nyaman dengan tunjangan yang fantastis dan berbagai fasilitas mewah, tanpa melihat bahwa kebijakan-kebijakan yang diambil justru memperlebar jurang kesenjangan dan menambah beban hidup rakyat kecil yang menggantungkan diri pada layanan publik yang minim.

Ada sebuah pertanyaan yang sering muncul di benak publik mengenai siapa sebenarnya bekerja untuk negara? Apakah benar-benar untuk rakyat yang setia membayar pajak, atau untuk para pejabat yang sibuk mengoleksi fasilitas mewah dan tunjangan berlebihan?

Data dari Republika (2025) mencatat take home pay anggota DPR menembus Rp101,8 juta per bulan. Jumlah akumulasi gaji pokok, tunjangan rumah, listrik-telepon, uang sidang, hingga tunjangan beras. Jika ditotal, seorang wakil rakyat bisa menerima fasilitas setara dengan puluhan kali gaji buruh yang harus bekerja siang malam.

Berita Terkait

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Melihat kondisi fiskal Indonesia yang semakin rapuh. Berdasarkan laporan CNBC Indonesia, hingga Juli 2025, utang pemerintah diperkirakan mencapai Rp8.909,14 triliun dengan beban bunga ratusan triliun per tahun. Yang ironis, pajak rakyat yang seharusnya mendukung pembangunan publik justru disalurkan untuk dua jenis yaitu untuk menambal cicilan utang dan membiayai privilese elit politik. Kondisi demikian bukan sekadar angka, melainkan potret ketidakadilan fiskal yang terjadi, di mana rakyat berkorban, elit berfoya-foya, sementara legitimasi negara perlahan terkikis oleh kebijakan yang mengabaikan keadilan sosial.

Semakin hari ketidakadilan struktural kian nyata terlihat jelas, rakyat menanggung beban pajak dan inflasi, sementara para elit politik menikmati tunjangan tak terbatas dan fasilitas yang fantastis. Kemudian muncul pertanyaan mendasar yaitu siapa yang sebenarnya menanggung beban negara? Jawabannya sangat jelas, yaitu rakyat kecil. Melalui biaya hidup sehari-hari, rakyat menanggung beban negara, sementara para pejabat menikmati kemewahan dan keamanan di balik hirarki kekuasaan yang tertutup.

Di Indonesia, aksi unjuk rasa telah menjadi peristiwa yang biasa terjadi hampir setiap tahunnya. Para aksi unjuk rasa sebenarnya menginginkan keadilan fiskal seperti pemotongan tunjangan berlebihan bagi pejabat dan penolakan terhadap kenaikan pajak yang semakin mencekik rakyat kecil.

Namun sayangnya, isu penting yang sebenarnya seringkali terabaikan karena adanya provokasi yang disengaja, manipulasi berita, dan penyajian isu yang menyesatkan yang merusak opini publik. Akibatnya, berdampak pada perhatian publik teralihkan dari isu-isu yang sebenarnya, sementara elit tetap nyaman menikmati kekuasaan dan berbagai fasilitas yang tidak tersentuh oleh kritik.

Akibatnya, pokok dari tuntutan pemangkasan tunjangan para pejabat menjadi terabaikan, sementara perpecahan horizontal digunakan untuk meredam suara rakyat. Mengapa isu inti selalu hilang? Dan lebih penting lagi, siapa yang diuntungkan dari pergeseran isu? Jawabannya jelas yaitu para elit, yang bisa tetap nyaman menikmati tunjangan berlapis sembari menonton rakyat terpecah dan saling menyalahkan.

Berbagai siasat politik yang berusaha memecah belah rakyat jelas menguntungkan para elite. Ketika masyarakat terjebak dalam perdebatan di jalanan dan ruang-ruang digital, sibuk berdebat satu sama lain, para elit terus menikmati fasilitas mewah tanpa tersentuh, bahkan ada yang lari ke luar negeri. Gejala yang terjadi menunjukkan ketidakadilan struktural, di mana perhatian masyarakat teralihkan, sementara kekuasaan dan keistimewaan tetap dipertahankan bagi sebagian segelintir elit.

Di balik hiruk-pikuk demonstrasi dan perdebatan publik, masalah utama sesungguhnya terletak pada pengelolaan anggaran negara yang seharusnya transparan dan berpihak pada rakyat. Alih-alih digunakan untuk kepentingan publik, uang rakyat kerap dinikmati oleh segelintir oknum yang tidak bertanggung jawab. Kondisi semacam ini, dapat melemahkan legitimasi moral negara dalam memungut pajak, sekaligus memperkuat tuntutan masyarakat akan keadilan fiskal, transparansi, dan akuntabilitas yang nyata.

Di setiap perdebatan mengenai kebijakan publik, sering kali dilupakan bahwa fondasi kepercayaan antara pemerintah dan rakyat dibangun melalui akuntabilitas yang nyata. Sehingga, transparansi dalam pengelolaan anggaran bukan sekedar jargon teknokratis, melainkan sebuah fondasi kepercayaan yang harus dijaga. Setiap warga negara berhak mengetahui kemana uang pajak dialokasikan, karena memang itu hak rakyat, bukan hak pejabat.

Seharusnya, anggaran negara diprioritaskan pada sektor-sektor yang langsung menyentuh kehidupan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, pangan, dan perlindungan sosial. Sayangnya, alih-alih fokus pada kebutuhan publik, anggaran negara justru tersedot untuk listrik gratis, rumah dinas mewah, dan tunjangan yang berlimpah bagi para elit politik.

Sebuah negara tidak akan pernah ambruk hanya karena rakyat menahan diri atau menolak berhemat, justru yang benar-benar menggerogoti fondasi negara adalah keserakahan para pemegang kekuasaan.

Berbagai fasilitas berupa jet pribadi, rumah dinas seharga puluhan juta, dan tunjangan yang berlipat-lipat jelas bukan kebutuhan negara, melainkan simbol keserakahan dan kesewenang-wenangan para elit. Bila kekayaan publik dinikmati segelintir orang, maka keadilan sosial terkikis dan legitimasi negara dalam memimpin dan memungut pajak dari rakyat pun dipertanyakan.

Pada akhirnya, yang rakyat butuhkan bukanlah pejabat bertabur berbagai fasilitas berlipat ganda. Namun rakyat lebih membutuhkan negara yang berdiri di atas prinsip-prinsip keadilan dan keberpihakan pada kepentingan umum, bukan pada segelintir elite.

Bila keadilan terus diabaikan, suatu saat nanti kehancuran tidak akan datang dari jeritan rakyat atau tindakan aksi unjuk rasa di jalanan, melainkan dari keserakahan para penguasa yang diam-diam menggerogoti fondasi negara dari dalam, meruntuhkan kepercayaan publik dan melemahkan legitimasi moral kekuasaan.(*)

Tulisan opini yang dipublikasikan di media online ini menjadi tanggung jawab penulis. PIJARNEWS.COM tidak bertanggung jawab atas persoalan hukum yang muncul atas tulisan yang dipublikasikan.

Terkait: DemonstrasiOpini

TerkaitBerita

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Februari 2026

...

BeritaTerkini

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

Kesehatan Menurun, Try Sutrisno Tutup Usia

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan