• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan AI
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Khazanah

Catatan Ramadan di Tanah Suci; Suhu Panas dan Habluminannas

Editor: Alfiansyah Anwar
19 Juni 2017
di Khazanah, Opini

Laporan: Yasser Latief
dari Mekkah

PIJARNEWS.COM — Menjalani bulan puasa di Mekkah, utamanya bagi yang tidak terbiasa sungguh merupakan pengalaman tersendiri. Setidaknya hal itu tergambar pada sebagian jemaah asal Indonesia yang sementara menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci ini. Penulis adalah salah satunya.

Musim panas didataran Arab, memang biasanya terjadi pada bulan Juni hingga Agustus. Per Senin 19/6, suhu merangkak naik hingga 46 derajat celcius. Terbilang sangat panas, bagi kita yang terbiasa hidup diiklim tropis dengan suhu 25-35 derajat.

“Diluar mesjid, luar biasa panasnya,” demikian beberapa jamaah asal Indonesia yang penulis jumpai. Meski demikian, suhu panas tentu terkalahkan oleh niat kuat umat Islam untuk beribadah.

BeritaTerkait

Ustaz La Jami Ingatkan Bahaya Sifat Pemarah, Serakah hingga Sombong

Ustaz La Jami Ingatkan Bahaya Sifat Pemarah, Serakah hingga Sombong

23 Oktober 2026
Kiprah Santri di Pentas Nasional

Kiprah Santri di Pentas Nasional

21 Oktober 2026
Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

20 Oktober 2026
Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

Rekening Massal, Demi Kepentingan Siapa?

13 Oktober 2026

Untuk menyiasati udara yang begitu panas, sebagian jemaah datang ke mesjid lebih awal dari jadwal salat Duhur. Mereka lebih memilih menunggu Ashar tiba, ketimbang harus pulang ke hotel. Nanti setelah Ashar, bersamaan dengan redanya suhu, baru para jemaah pulang.

Hotel yang ditempati penulis berada sekira 300-an meter dari mesjid. Disepanjang jalan ada beberapa titik ditempatkan alat khusus yang fungsinya hanya menyemprotkan air. Beberapa jamaah suka lalu lalang beberapa kali, demi mendapat percikan yang segar luar biasa ditengah panas terik perjalanan.

Suasana di Kabbah, Mesjidil Haram, gambar diambil pada Senin 19/6 waktu setempat, (foto: Yasser Latief)

* Habluminallah dan Habluminnas

Yang menarik, ada juga jemaah yang suka berbagi dingin dengan menyemprot air ke jemaah lainnya yang melintas. Betul-betul dilakukan dengan sengaja. Minimal kita akan kaget, atau jika tidak pandai-pandai mengontrol emosi, kemungkinan kita bisa langsung marah.

Namun begitu segarnya air kita rasakan, terlebih kita sudah tau asal percikan dan maksud mereka menyemprot air, maka jamaah itu justru berbalik senang dan berterima kasih. Saling tolong menolong dalam kebaikan. Ini, menurut penulis adalah bentuk sederhana tentang bagaimana akhlak yang baik, bagaimana berprilaku antar sesama manusia.

Jemaah mesjidil haram yang menyemut, membuat kita bisa mengamati pelbagai prilaku orang. Beberapa sangat memburu habluminallah, mengejar ritual ibadah, namun abai terhadap habluminannas. Ada yang dengan santai melintas, tak peduli kakinya menyabet jamaah lain hanya demi mendapat tempat. Bahkan meski mereka tau kesalahanya, tetap tidak ada permohonan maaf terlontar. Padahal tentu tidak ada salahnya sekadar menganguk takzim tanda maaf.

Masih soal akhlak, jamaah paling ramah yang penulis temui adalah dari Turki dan Pakistan. Penulis kagum. Orang Turki tidak hanya suka memberi, tapi bahasa tubuhnya sangat ramah. Misalnya mencium kepala anak-anak dan orang tua, membantu kesulitan orang, dan berbagi makanan dan bahkan berbagi tempat shalat meski dia sendiri harus bersempit-sempit.

Demikian untuk sementara, sedikit catatan dari tanah suci. Semoga kita semua bisa mengunjungi Baitullah dimasa yang akan datang. Lebih dari itu, semoga Allah menjadikan kita hamba-hambaNya yang tidak hanya baik hubungannya dengan sang pencipta, tetapi juga menjaga akhlak yang baik antar sesama manusia. (*)

Terkait: Yasser Latief

Berita Terkait

TSM Pimpin Langsung Konsolidasi Bahas Langkah Strategis Pemenangan TSM-MO dan Andalan Hati

Editor: Tohir Muhammad
4 September 2024

...

Yasser Latief dan Ratusan Timnya Deklarasi Menangkan TSM Wali Kota Parepare

Editor: Tohir Muhammad
11 Juni 2024

...

Sosok Almarhum Datu Sidenreng ke-XXV Faisal Andi Sapada Dimata Yasser Latief

Editor: Tohir Muhammad
6 Juni 2024

...

Berita Populer

  • Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    Alumni Pesantren se-Sulselbar Gelar Seminar Hari Santri 2026 di Parepare

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gelar Musyda Tarjih, Muhammadiyah Makassar Tegaskan Ustaz AI Tak Bisa Gantikan Ulama

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiprah Santri di Pentas Nasional

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tak Kenal Lelah, Kakek 70 Tahun di Parepare Tetap Kayuh Becak demi Nafkah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Satu Juta Sarjana Menganggur, Siapa yang Bertanggung Jawab?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Kebijakan AI
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 PIJARNEWS. Hak Cipta Dilindungi