PAREPARE, PIJARNEWS.COM–Memulai usaha di usia muda bukan perkara mudah. Konsistensi dan kemampuan mengatur diri menjadi tantangan tersendiri agar bisnis tetap berjalan. Hal itu pula yang dijalani Ayu Safitri Ramadani (26), seorang wirausaha muda asal Kota Parepare, Sulawesi Selatan yang menekuni bisnis makanan, khususnya aneka menu sarapan pagi.
Selama sekitar 1 tahun 8 bulan, Ayu menjalankan usaha sarapan pagi dengan menyediakan beragam menu yang ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan makanan praktis sebelum memulai aktivitas.
Saat ini, Ayu menyediakan delapan pilihan menu. Di antaranya nasi ayam kecap, nasi ayam katsu, nasi goreng, nasi kuning, rice bowl ayam crispy teriyaki, rice bowl ayam suwir, rice bowl ayam crispy sambal matah, serta rice bowl ayam crispy lada hitam.
Menurut Ayu, seluruh menu yang dijual mendapat respons positif dari pelanggan. Ia mengaku cukup kesulitan menentukan satu menu sebagai yang paling laris karena selera setiap pembeli berbeda.
“Alhamdulillah semua menu disukai pembeli karena setiap pembeli itu seleranya berbeda-beda. Kalau ditanya menu best seller, kadang sedikit bingung mau jawab apa karena Alhamdulillah semua menu disukai,” ujarnya.
Namun, ketika mendapat pesanan dalam jumlah banyak dan pelanggan meminta rekomendasi, Ayu biasanya menawarkan nasi ayam kecap atau nasi ayam katsu.
Menjalankan bisnis makanan membuat Ayu harus terbiasa memulai aktivitas sejak dini hari. Persiapan bahan makanan biasanya dilakukan sejak malam agar proses memasak pada pagi hari bisa lebih cepat.
“Saya biasanya prepare bahan-bahan malam sekitar jam 6. Jadi subuh tinggal dimasak semua. Biasanya bangun jam 3 atau setengah 4,” tuturnya.
Dalam sehari, Ayu dapat menyiapkan sekitar 50 porsi makanan. Setelah seluruh makanan siap, ia mulai membuka lapak sekitar pukul 06.00 Wita.
Jika dagangan cepat habis, Ayu bahkan bisa kembali pulang sekitar pukul 07.00 Wita. Namun, paling lama ia berjualan hingga sekitar pukul 08.00 Wita.
“Kalau cepat habis, jam 7 sudah pulang. Paling lama jualan sampai jam 8,” katanya.
Ayu memilih bisnis sarapan pagi bukan tanpa alasan. Menurutnya, pagi hari merupakan waktu yang cukup sibuk bagi masyarakat, terutama pekerja dan orang tua yang harus mengantar anak ke sekolah.
Kondisi tersebut menjadi peluang sekaligus alasan bagi Ayu untuk menyediakan makanan yang praktis dan mudah dibeli.
“Menurut saya, sebagian orang pasti butuh makanan di pagi hari. Pagi itu lagi hectic-nya orang pergi kerja, antar anak sekolah, atau anak-anak sekolah,” jelasnya.
Ia menilai kehadiran penjual makanan pada pagi hari dapat membantu masyarakat yang tidak sempat menyiapkan bekal maupun sarapan di rumah.
“Dengan adanya penjual makanan di pagi hari sangat membantu orang-orang yang tidak sempat menyediakan bekal sekolah anaknya atau yang tidak sempat sarapan di rumah,” lanjut Ayu.
Selama menjalankan usaha, Ayu kini telah memiliki dua lokasi berjualan. Lapak pertamanya berada di kawasan Perumnas, tepatnya di depan kantor proyek Perumnas. Sementara lapak keduanya berada di sudut lapangan, tepatnya di kawasan pertigaan RS Fatima.
Meski telah memiliki dua lapak, Ayu belum berencana membuka cabang baru dalam waktu dekat. Ia memilih fokus mengembangkan usahanya dan menabung untuk mewujudkan rencana membuka warung prasmanan.
“Untuk saat ini belum ada rencana buka cabang lagi karena sekarang lebih fokus menabung untuk buka warung prasmanan. Kalau niat ada, cuma rencananya belum tahu di mana,” ungkapnya.
Bagi Ayu, salah satu tantangan terbesar dalam menjalankan bisnis justru berasal dari dirinya sendiri. Rasa malas dan perubahan mood terkadang menjadi hambatan yang harus dikendalikan.
“Kalau berbicara kendala, agak minim kendala yang saya hadapi di usia yang masih muda. Paling ego dan mood yang menjadi kendala terbesar. Kalau mood biasanya agak malas sedikit,” katanya.
Ia menyadari bisnis makanan membutuhkan konsistensi. Menurutnya, seseorang yang ingin terjun ke dunia bisnis harus mampu mengatur dirinya sendiri agar tetap berjualan secara rutin.
“Kalau sudah terjun di dunia bisnis, apalagi F&B, harus bisa mengatur diri sendiri. Kuncinya harus konsisten berjualan, baru terlihat hasilnya,” jelas Ayu.
Konsistensi itu juga diterapkan Ayu dalam menjaga cita rasa makanan. Ia berusaha tidak mengurangi takaran bumbu maupun mengganti merek bahan utama yang telah digunakan sejak awal berjualan.
Menurutnya, kenaikan harga bahan pokok tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas makanan yang diterima pelanggan.
“Menjaga kualitas rasa pastinya tidak mengurangi bumbu yang ada. Tetap harus konsisten dengan merek bahan yang dipakai dari awal. Walaupun di tengah-tengah harga bahan pokok naik semua, insyaallah menu sarapan pagi tidak mengurangi rasa yang ada,” pungkasnya.
Bagi Ayu, mempertahankan cita rasa sekaligus menjaga konsistensi menjadi bagian penting agar pelanggan tetap kembali membeli. Dari usaha kecil yang dimulai sejak lebih dari satu setengah tahun lalu, ia kini terus menatap peluang untuk mengembangkan bisnisnya ke tahap berikutnya.
Penulis: Isma Auliya Ramlan











