MAROS, PIJARNEWS.COM — Langkah nyata dalam mendorong kemandirian ekonomi desa kembali ditunjukkan oleh insan akademisi dan pemerintah daerah. Pada Rabu (20/5/2026), ruang pertemuan Kantor Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, menjadi saksi lahirnya sinergi besar.
Universitas Muslim Maros (UMMA) menggandeng Universitas Hasanuddin (UNHAS), Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT), serta Rumah Kemasan Kabupaten Maros untuk menggelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat (PKM) kolaboratif. Mengusung tema “Sosialisasi Manajemen Keuangan terhadap Kelompok Pembuat Pakan Ternak Mandiri”, acara ini dipadati oleh para peternak dan pelaku usaha lokal yang antusias menyerap ilmu baru.
Di hadapan puluhan peserta, Ummul Chair, M.M., selaku Ketua Tim PKM, menekankan bahwa sebuah usaha tidak akan pernah bisa besar jika uang masuk dan keluar masih tercampur baur dengan urusan dapur rumah tangga.
“Kami hadir di Desa Ampekale bukan sekadar membawa teori, tetapi membawa solusi konkret. Banyak usaha mikro gulung tikar bukan karena produknya tidak laku, melainkan karena pengelolaan keuangannya yang tidak sehat. Pengelolaan yang buruk membuat modal digerogoti tanpa sadar, sehingga usaha mandek dan sulit berkembang,” tegas Ummul dalam sambutan pembukanya.
Memasuki sesi inti, panggung edukasi diisi oleh tim pakar dari UMMA, yakni Dr. Sarnawiah, Dr. Khaerayani Nur, dan Nur Wahida, M.Si. Secara gamblang, mereka mengupas teknik akuntansi sederhana yang mudah diterapkan oleh kelompok masyarakat. Materi yang dibawakan meliputi:
Pencatatan Buku Kas: Cara disiplin memisahkan dan mencatat setiap rupiah arus kas masuk dan arus kas keluar. Penghitungan HPP: Rumus sederhana mencatat semua biaya pengeluaran selama proses produksi agar kelompok tidak salah menentukan Harga Pokok Penjualan (HPP).
Strategi Pemasaran: Tips mempromosikan produk pakan mandiri yang telah dibuat agar bisa bersaing di pasar lokal yang lebih luas.
Tantangan pakan mahal yang kerap mencekik leher para peternak dijawab langsung oleh Andi Muhammad Anshar, perwakilan akademisi dari UNHAS. Anshar memaparkan data bahwa kebutuhan pakan untuk ayam pedaging (broiler), ayam petelur, hingga bebek terus melonjak saban hari. Kondisi ini sering memicu kenaikan harga pakan pabrikan, yang berujung pada menipisnya margin keuntungan (cuan) para peternak.
“Solusinya adalah substitusi bahan baku. Desa Ampekale ini kaya akan limbah hasil pertanian dan perikanan. Jika limbah-limbah ini diolah dengan formulasi yang tepat melalui pakan mandiri, kita bisa menekan biaya produksi sekecil mungkin tanpa menurunkan kualitas gizi ternak,” urai Anshar optimistis.
Potensi pakan mandiri ini dinilai tidak hanya berhenti sebagai konsumsi pribadi, tetapi sangat layak dikomersialkan menjadi ladang bisnis yang menjanjikan. Hal ini ditegaskan oleh Fahmy, S.Sos, Kepala UPTD PLUT Maros. Namun, Fahmy mengingatkan ada dua syarat utama agar pakan lokal ini bisa naik kelas: kemasan yang memikat dan legalitas yang sah.
“Bagi teman-teman kelompok pakan di Desa Ampekale yang ingin naik kelas, mau menghasilkan cuan lebih besar, segera urus izin usahanya. Kami di PLUT dan Rumah Kemasan Kabupaten Maros siap mendampingi penuh. Datang saja ke kantor kami di sekitar kawasan Pantai Tak Berombak (PTB) Maros. Kami siap memfasilitasi pengurusan izin usaha, sertifikasi Halal, PIRT, hingga pembuatan desain kemasan secara gratis. Kami siap bantu sampai tuntas!” seru Fahmy disambut tepuk tangan riuh peserta.
Acara tidak berlangsung kaku satu arah. Memasuki sesi tanya jawab, para peternak berebut melontarkan pertanyaan, mulai dari kendala teknis mesin giling hingga cara menyiasati modal awal kelompok.
Untuk memastikan materi terserap sempurna dan memiliki basis data ilmiah yang valid, tim pengabdian juga menerapkan metode evaluasi berupa pengisian kuesioner (pre-test dan post-test) sebelum dan sesudah pemaparan materi. Rangkaian kegiatan yang berlangsung produktif ini kemudian ditutup dengan sesi foto bersama antara narasumber, fasilitator, dan seluruh peserta guna mengabadikan momen pengabdian sejarah tersebut. (adv)












