Oleh Arlianah, S.E. (Pemerhati Isu Sosial)
Kementerian Agama Kota Balikpapan bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) pada pertengahan Juni lalu, menjadi tuan rumah kegiatan syuting program televisi. Kegiatan ini bertema “Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama”.
Dinisiasi oleh TVRI Samarinda, program ini merupakan bagian dari kampanye untuk menguatkan nilai-nilai moderasi beragama dan mengingatkan pentingnya hidup rukun di tengah keberagaman.
Sepakat bahwa merawat kerukunan dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama merupakan nilai luhur yang patut dihargai. Tapi, ada hal penting yang perlu kita perhatikan bersama bahwa usaha untuk meningkatkan rasa toleransi jangan sampai bergeser menjadi promosi paham pluralisme yang mengaburkan pemahaman agama yang sesungguhnya serta mengikis akidah umat secara perhalan dan halus.
Keberagaman Bukan Akar Masalah
Indonesia memang memiliki keberagaman suku, agama, ras, dan budaya. Kita harus mengakui bahwa ini adalah bagian dari kenyataan hidup kita. Namun , jika kita mau teliti lebih dalam, benarkah keberagaman ini adalah masalah pokok bangsa ini ?
Sesungguhnya , jika seseorang telah memahami makna dan penempatan perbedaan agama maupun yang lainnya ini, tentu tidak akan menjadi masalah. Sebab masalah itu sendiri hadir dari ketidaksesuaian manusia dengan perbuatan yang seharusnya. Artinya ada pelanggaran terhadap peraturan yang seharusnya ditaati oleh manusia, terutama aturan yang mengatur pola pikir dan sikap mereka agar berbuat sesuatu yang benar, baik serta tidak merugikan orang lain.
Kenyataannya, kebanyakan manusia hari ini adalah mengadopsi gaya hidup yang makin jauh dari nilai-nilai kebenaran dan kebaikan sehingga menimbulkan banyak masalah. Namun kita juga perlu menyadari bahwa manusia tidak hidup sendiri dan sedikit banyaknya perbuatannya juga dipengaruhi oleh lingkungan ia tinggal.
Hari ini , kita hidup dalam peradaban / sistem kehidupan yang memberlakukan serta menyuburkan paham kapitalisme dan sekulerisme secara masif. Paham inilah yang mengantarkan perilaku seseorang untuk berbuat kemaksiatan, kriminalitas, ketimpangan sosial bahkan kerusakan moral yang semakin deras dan sulit dibendung.
Nilai-nilai agama justru sengaja dijauhkan dari ruang publik. Padahal nilai agama inilah yang akan mengontrol atau mengendalikan seseorang untuk tidak berbuat kejahatan atau kerusakan ditengah-tengah masyarakat. Namun lucunya, yang dimasifkan adalah narasi toleransi dalam bingkai pluralisme agama, seolah keberagaman adalah masalah utama sehingga pluralisme merupakan solusinya.
Padahal, konflik kita bukan terjadi karena adanya perbedaan keyakinan, melainkan sebab kesalahan dalam menyikapi perbedaan tersebut. Ketika pluralisme agama disisipkan dalam wacana toleransi, maka ini dapat menjadi ancaman serius terhadap kemurnian akidah umat, terutama generasi muda yang belum memiliki pondasi keimanan yang kokoh. Mereka dibajak menjadi agen penyamarataan agama atas nama toleransi.
Toleransi dalam Islam: Tegas dan Adil
Islam mengakui bahwa keberagaman adalah bagian dari ketetapan Allah sehingga Islam tidak menolak keberagaman. Allah berfirman dalam QS. Al-Hujurat: 13:
“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Namun , yang perlu kita garis bawahi adalah pengakuan terhadap keberagaman bukan berarti menyamakan semua agama. Pluralisme dan toleransi memiliki makna yang berbeda.
Toleransi merupakan sikap menghargai dan menghormati perbedaan tanpa mencampuradukkan atau menyenggol akidah, sedangkan pluralisme adalah paham yang menyamakan semua agama sehingga menganggap semua agama adalah benar dan semuanya adalah jalan keselamatan. Nah, inilah yang bertentangan dengan prinsip nilai / pemahaman Islam.
Dalam QS. Al-Kafirun, Allah Swt. menegaskan:
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku.”
Ini merupakan penghormatan kepada keyakinan pihak lain, tanpa menyamakan isi ajaran apalagi mencampurkannya. Sebagai seorang muslim, kita boleh menghargai keyakinan orang lain yang berbeda dengan kita tanpa harus ikut melakukan perbuatannya atau hidup berdampingan namun tetap menjaga kemurnian iman.
Harmoni Islam di Tengah Keberagaman
Pada masa dakwah Rasulullah ﷺ di Mekkah, nabi berdakwah di tengah masyarakat Quraisy yang mayoritas mereka adalah menyembah berhala. Islam tidak langsung mengangkat senjata, tetapi mengajak dengan hikmah.
Rasulullah ﷺ tidak pernah mengakui kebenaran agama lain, tapi juga tidak memaksa mereka memeluk Islam.
Setelah hijrah, Nabi memimpin negara Madinah yang terdiri dari: Kaum Muhajirin, Kaum Anshar, Kaum Yahudi (Bani Qainuqa’, Nadhir, Qurayzhah), dan Orang-orang musyrik. Nabi membuat Piagam Madinah, yaitu kesepakatan hidup berdampingan secara damai antara berbagai kelompok. Masing-masing kelompok bebas menjalankan agamanya, tetapi hukum Islam tetap menjadi dasar dalam urusan umat Islam dan negara. Inilah bukti bahwa Islam mampu mengelola keberagaman sosial dan agama dengan adil, tanpa harus mencampuradukkan akidah.
Pun pada masa kekhilafahan di bawah kepemimpinan khulafaur Rasyidin dan dinasti Islam setelahnya, Islam mengelola wilayah luas yang penuh keberagaman: Ada umat Nasrani, Yahudi, Zoroaster (Majusi), dan lain-lain. Ada berbagai etnis: Arab, Persia, Afrika, Turki, India, dll. Non-Muslim (dzimmi) mendapat perlindungan hak hidup, harta, ibadah, dan tempat tinggal, dengan kewajiban membayar jizyah. Mereka tidak dipaksa masuk Islam, tapi tidak boleh menyebarkan agama mereka ke umat Islam. Islam menetapkan sistem perlindungan (himayah) kepada non-Muslim, tapi tetap menjamin Islam sebagai aturan utama dalam kehidupan bermasyarakat. Ini merupakan gambaran indahnya hidup dalam sistem kepemimpinan Islam.
Menjaga Akidah di Tengah Seruan Toleransi
Berdasarkan fakta diatas , kita bisa mengambil kesimpulan bahwa umat islam pernah lama hidup berdampingan dengan damai bersama pemeluk agama lain tanpa harus menyamakan ajaran atau melunturkan prinsip akidah. Ketika kampanye toleransi berubah arah menjadi pengakuan bahwa semua agama sama benarnya, maka itulah yang patut kita kritisi. Bukan toleransi yang ditolak, melainkan paham yang menunggangi toleransi tersebut.
Toleransi bukan berarti mengganti prinsip. Islam mengajarkan kasih sayang dan keadilan, namun juga menegaskan batas-batas keyakinan yang tidak bisa ditabrak apalagi diganti. Itulah yang harus terus kita jaga, terutama di tengah era globalisasi informasi dan kebudayaan yang menipiskan batas nilai dan identitas ini. (*)












