• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 6 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Utama Opini

Dari Langit ke Bumi: Pesan Ekoteologi Dalam Peristiwa Isra Mi‘Raj

Oleh: Muhammad Iqbal Hasanuddin (Dosen Bahasa dan Sastra Arab IAIN Parepare, Pembina Pondok Pesantren Malikyah Belawa, Wajo)

Muhammad Tohir Editor: Muhammad Tohir
13 Januari 2026
di Opini

OPINI–Setiap kali Isra Mi‘raj diperingati, ingatan kita sering diarahkan ke langit—pada perjalanan suci Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu menembus lapisan-lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini merupakan pengalaman spiritual tertinggi yang tidak pernah dialami manusia sebelum dan sesudahnya. Namun, justru di titik inilah terdapat pesan penting yang kerap terlewat: Nabi tidak memilih menetap di langit, melainkan kembali ke bumi setelah menerima perintah salat.

Kepulangan Nabi dari langit itu bukan sekadar penutup kisah Isra Mi‘raj, melainkan inti pesan spiritualitas Islam. Iman sejati tidak berhenti pada pengalaman transenden, tetapi harus diterjemahkan menjadi tanggung jawab nyata dalam kehidupan. Spiritualitas bukan pelarian dari realitas, melainkan kekuatan untuk mengelolanya dengan penuh kesadaran. Karena itu, kembali ke bumi berarti membawa amanah perbaikan, bukan pembiaran; membawa rahmat, bukan kerusakan.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan ketika kita melihat kondisi bumi hari ini. Krisis ekologis yang meluas menunjukkan bahwa manusia sering gagal mengelola amanah itu dengan baik. Banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem bukan sekadar peristiwa alam yang berdiri sendiri, melainkan rangkaian tanda rusaknya relasi manusia dengan lingkungannya. Tragedi demi tragedi, mulai dari tsunami Aceh 2004, likuefaksi Palu 2018, hingga banjir dan longsor yang berulang di Aceh dan Sumatra pada 2025, seharusnya cukup menjadi peringatan keras bagi kita semua.

Dalam skala yang lebih dekat, pesan ini juga relevan dengan kehidupan masyarakat di kota-kota pesisir seperti Parepare. Sebagai kota yang tumbuh di antara laut dan perbukitan, Parepare tidak sepenuhnya lepas dari persoalan lingkungan: genangan saat hujan lebat, tekanan terhadap ruang hijau, hingga persoalan sampah perkotaan. Meski tidak selalu hadir sebagai bencana besar, gejala-gejala ini menjadi penanda bahwa relasi manusia dengan alam perlu terus dibenahi sejak dari ruang hidup terdekat.

Berita Terkait

Integrasi Budaya dan Agama, Warga Desa Buttu Sawe Rawat Tradisi Ma’baca dalam Peringatan Isra’ Mi’raj 1446 Hijriah

Momentum Isra’ Mi’raj, RSUD Andi Makkasau Parepare Ajak Tingkatkan Iman dan Pelayanan

Ini Penjelasan UAH Soal Duka Keluarga Rasulullah Sebelum Peristiwa Isra Mi’raj

Pemkot Parepare Peringati Isra’Miraj Nabi Muhammad SAW

Pada titik inilah perspektif keimanan menjadi penting. Dalam pandangan Islam, krisis lingkungan bukan semata persoalan ilmiah atau teknis, melainkan juga persoalan iman. Alam bukan benda mati yang bebas dieksploitasi, tetapi ayat-ayat Tuhan yang terbentang luas. Setiap pohon, air, tanah, dan udara adalah tanda kebesaran Allah yang seharusnya dibaca dengan kesadaran dan rasa hormat. Karena itu, bumi diposisikan sebagai amanah, bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati, melainkan titipan yang harus dijaga keberlanjutannya.

Amanah tersebut diwujudkan melalui peran manusia sebagai khalifah fil ardh, pemimpin sekaligus penjaga di muka bumi. Peran ini menegaskan bahwa ibadah tidak pernah terpisah dari kepedulian ekologis. Salat, puasa, dan zikir seharusnya membentuk sikap hidup yang adil, termasuk adil terhadap alam. Amanah kekhalifahan menuntut keadilan ekologis: tidak rakus dalam mengambil, tidak serampangan dalam merusak, dan tidak abai terhadap dampak bagi generasi mendatang.

Prinsip ini bahkan tercermin dalam praktik ibadah yang paling sederhana. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad saw. menegur Sa‘ad yang berwudu secara berlebihan. Ketika ditanya apakah pemborosan juga berlaku dalam wudu, Nabi menjawab, “Ya, meskipun engkau berwudu di sungai yang mengalir.” Pesan ini sederhana tetapi mendalam: kesucian spiritual harus berjalan seiring dengan kesadaran ekologis.

Oleh karena itu, ekoteologi Islam tidak berhenti pada wacana atau jargon keagamaan. Ia menuntut kehadiran nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran ekologis justru dimulai dari hal-hal paling dekat: mengelola sampah, menjaga kebersihan lingkungan rumah dan masjid, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta merawat ruang hijau. Masjid-masjid di Parepare, sebagai pusat aktivitas keagamaan, memiliki potensi besar menjadi teladan dalam membangun budaya lingkungan yang bersih dan ramah.

Dari masjid pula, edukasi lingkungan dapat ditumbuhkan secara berkelanjutan. Ketika isu ekologis disampaikan dengan bahasa iman, pesan itu lebih mudah diterima dan dipraktikkan. Salat yang khusyuk semestinya melahirkan sikap hemat air, cinta kebersihan, dan keengganan merusak alam. Di situlah ekoteologi menemukan maknanya: ketika iman tidak berhenti di lisan, tetapi hadir dalam perilaku yang menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Pada akhirnya, peristiwa Isra Mi‘raj mengajarkan bahwa perjalanan spiritual sejati tidak berhenti di langit, tetapi harus berdampak nyata di bumi. Spirit langit yang kita rayakan seharusnya menjelma menjadi aksi bumi: menjaga kebersihan kota, merawat alam pesisir, dan hidup lebih bijak. Menjadi khalifah berarti menjaga amanah, bukan menguasai bumi secara serakah. Karena itu, Isra Mi‘raj layak menjadi momentum pertobatan ekologis, berhenti merusak, mulai merawat, dan menghadirkan rahmat bagi semesta.

Selamat merayakan Isra Mi‘raj!

Terkait: Isra Mi'raj

TerkaitBerita

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

...

Islam Penyelemat Generasi dari Kasus ABH yang Meningkat

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Kegemilangan Sektor Pendidikan Islam yang Terpendam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
27 Februari 2026

...

Menakar Kesejahteraan Guru di Tapal Batas

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Februari 2026

...

BeritaTerkini

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Antara Akidah dan Akses Pasar: Polemik Pelonggaran Sertifikasi Halal Produk AS

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Pererat Silaturahmi, Keluarga Besar Casemix RSUD Andi Makkasau Gelar Buka Puasa Unik

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Ramadan Berbagi, Apersi Sulsel Salurkan Bantuan Rp3,4 Miliar

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
6 Maret 2026

Pemkot Parepare Lepas 1.000 Paket Sembako Pasar Murah Ramadan

Editor: Muhammad Tohir
3 Maret 2026

Kesehatan Menurun, Try Sutrisno Tutup Usia

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan