• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Jumat, 27 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Opini: Dilema Pendidikan Zaman Now

Tim Redaksi Editor: Tim Redaksi
24 Januari 2019
di Opini
Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare, Muhammad Qadaruddin.

Dosen Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Parepare, Muhammad Qadaruddin.

OPINI, PIJARNEWS.COM — Kurikulum pendidikan perguruan tinggi lebih fokus pada domain kognitif, sehingga menghasilkan banyak sarjana pengangguran.

Perguruan tinggi idealnya mencetak sarjana yang memiliki kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Namun, banyak perguruan tinggi mencetak sarjana pengangguran, menjadi sampah masyarakat, sarjana yang merusak lembaga tempat kerjanya, sarjana yang merasa paling pintar, benar dan tidak menerima pendapat orang lain, sarjana yang tidak memiliki sensitivitas sosial, mereka hanya berdiam diri di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Pada tahun 2018 Kementerian riset, teknologi, dan pendidikan tinggi mencatat sekitar 8.8% atau 630.000 dari total 7 juta pengangguran di indonesia adalah sarjana.

Banyak sarjana yang pintar secara intelektual, namun tidak pintar secara emosional, apalagi spiritual. Kita dapat melihat begitu banyak sarjana yang hanya memburu jabatan, kekuasaan dan meninggalkan tanggung jawab sosialnya dan agamanya.

Banyak faktor yang menyebabkan kurang berkualitasnya lulusan perguruan tinggi diantaranya adalah faktor mahasiswa yang memiliki IPK tinggi belum tentu cepat mendapatkan pekerjaan, karena IPK tidak menjamin kualitas sarjana, coba kita lihat korelasi antara pendaftar PNS yang memiliki IPK tinggi dengan jumlah sarjana yang lulus ujian PNS.

Berita Terkait

Pemprov Sulsel dan Privy Sosialisasikan Ijazah Digital untuk Perguruan Tinggi

Bakal Studi Tour di Kampus Ternama, Upaya SMAN 5 Parepare Dorong Alumni Diterima di PT Favorit

Andi Dian Permana Profesor Farmasi Termuda di Indonesia, Punya 86 Artikel Ilmiah Terindeks Scopus

Reformasi Akademik atau Pelanggaran Standar? Perspektif Hukum atas Pembebasan Skripsi di Perguruan Tinggi

Boleh jadi banyak sarjana yang memiliki IPK tinggi tapi tidak lulus, sementara ada sarjana yang memiliki IPK rendah tapi lulus PNS. Sebab soal ujian berbeda dengan apa yang dipelajari pada perguruan tinggi.

Faktor isu pendidikan hanya dipandang secara makro terkait pembangunan infrastruktur gaji pendidik. Isu pendidikan kurang fokus pada isu perbaikan kurikulum.Faktor kurangnya minat mahasiswa terhadap program studinya, banyak mahasiswa yang memilih program studinya karena terpaksa, memilih program studi karena pilihan terakhir daripada menganggur, memilih program studi karena SPPnya murah, memilih program studi karena dipaksa oleh orang tua.

Pemilihan perguruan tinggi, program studi tidak berdasarkan minat atau kompetensi, akan tetapi pendaftar memilih program studi karena faktor gengsi, kampus elit, kampus yang lagi trend saat ini.

Faktor kurikulum yang lebih banyak pada peningkatan knowledge saja, dapat dilihat dari soal-soal ujian yang diberikan kepada mahasiswa hanya bersifat kognitif belum pada afektif dan psikomotorik, misalnya pemakaian kata jelaskan, uraikan. Soal ujian belum mengarah pada aspek afektif dan psikomotorik misalnya buatlah proyek terkait dengan mata kuliah.

Laman 1 dari 2
12Selanjutnya
Terkait: IntelektualPendidikan Zaman NowPerguruan Tinggi

TerkaitBerita

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

...

Pendidikan dalam Bayang-bayang Krisis Energi, Siapa yang Menjadi Korban

Editor: Muhammad Tohir
25 Maret 2026

...

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Remaja Jauh dari Islam, Krisis Moral dan Identitas Menerkam

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Maret 2026

...

BeritaTerkini

Wabup Sidrap dan Wabup Bone Ziarah Makam Raja Bone ke-10 di Tellu Limpoe

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

86 Peserta Bersaing Masuk Paskibraka Sidrap 2026

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Perang Iran–AS–Israel: Eskalasi Konflik Global dan Dampaknya

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Puncak Arus Balik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Sabtu Ini, Penumpang Tembus 7.000 Orang

Puncak Arus Balik di Pelabuhan Parepare Diprediksi Sabtu Ini, Penumpang Tembus 7.000 Orang

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan