• Tentang Kami
  • Tim Kerja
  • Beriklan bersama kami
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
Minggu, 29 Maret, 2026
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News
Advertisement
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
  • Pijar Channelyoutube
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Pijar News

Kasus BRIN-Muhammadiyah, Butuh Kedewasaan dalam Berkomunikasi di Medsos

Dian Muhtadiah Hamna Editor: Dian Muhtadiah Hamna
28 April 2023
di Nasional

JAKARTA, PIJARNEWS.COM-Komentar peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN, Andi Pangeran Hasanuddin di Facebook menuai hujatan.

Sebagai Aparatur Sipil Negara tak sepantasnya Andi melayangkan pernyataan kecaman dalam perdebatan publik mengenai metode hisab dan rukyat dalam penentuan Hari Raya Idulfitri. Toh, pemerintah saja sangat menghargai perbedaan itu.

Andi dalam komentarnya bahkan mempertunjukkan sikap arogansi dan congkak.

“Perlu saya halalkan gak nih darahnya semua Muhammadiyah? Apalagi Muhammadiyah yang disusupi Hizbut Tahrir melalui agenda kalender Islam global dari Gema Pembebasan? Banyak bacot emang!!! Sini saya bunuh kalian satu-satu. Silakan laporkan komen saya dengan ancaman pasal pembunuhan! Saya siap dipenjara. Saya capek lihat pergaduhan kalian,” tulis Andi.

“Kalian Muhammadiyah, meski masih jadi saudara seiman kami, rekan diskusi lintas keilmuan tapi kalian sudah kami anggap jadi musuh bersama dalam hal anti-TBC (takhayul, bidah, churofat) dan keilmuan progresif yang masih egosektoral. Buat apa kalian berbangga-bangga punya masjid, panti, sekolah, dan rumah sakit yang lebih banyak dibandingkan kami kalau hanya egosentris dan egosektoral saja?” Andi dalam komentar lanjutannya.

Berita Terkait

Hanya 2 Km dari Alun-alun Lasinrang, Masjid Nurul Samad Pinrang Siap Gelar Tarawih Perdana

Pertumbuhan Ekonomi Sidrap Tertinggi, Bupati Ungkap di Milad Muhammadiyah

Milad ke-113 Muhammadiyah Sidrap Dipusatkan di Daerah Terpencil, Tegaskan Peran Majukan Kesejahteraan Bangsa

Bermalam di Lokasi Milad Muhammadiyah Sidrap, Bupati Dialog Langsung dengan Warga

Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta Ma’mun Murod heran bagaimana bisa peneliti BRIN dengan intelektualitasnya berkomentar seperti preman.

“Kok main2 ancam bunuh? BRIN sbg lembaga riset hrsnya diisi mereka yg menampakkan keintelektualannya, bkn justru spt preman,” cuit Ma’mun di akun twitternya pada 24 April lalu dilansir VOI.id.

Ancaman membunuh dalam perspektif etika deontologi, menurut penulis buku “Etika Komunikasi di Era Siber”, Fajar Junaedi, adalah pelanggaran besar dan fundamental terhadap kemanusiaan.

Etika deontologi adalah pandangan yang menilai moralitas suatu tindakan berdasarkan kepatuhan pada peraturan.

Mengancam membunuh yang secara vulgar ditulis di ruang publik media sosial juga menunjukkan adanya banalitas kejahatan, situasi yang menganggap kejahatan membunuh sebagai sesuatu yang banal atau sangat biasa.

“Apa yang dilakukan oleh APH (Andi Pangeran Hasanuddin) adalah praktik normalisasi dari banality of evil yang diinisiasi oleh atasannya TD (Thomas Djamaluddin). Secara etika, perilaku mereka tidak mencerminkan karakter akademik. Melekat dengan sumpah jabatan sebagai ASN, perilaku mereka jelas melanggar etika,” kata Fajar kepada VOI pada 26 April 2023.

Thomas Djamaluddin adalah astronom dan peneliti BRIN yang menjabat juga sebagai Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Dalam berbagai forum, kata Fajar, TD memang diketahui selalu menyerang Muhammadiyah. Begitu pula saat di Facebook pada 21 April lalu, Thomas mengunggah foto bertuliskan ‘Menjawab Pertanyaan Publik: Mengapa Tetap Rukyat, walau Hilal Tak Mungkin Teramati? Mengapa Perlu Sidang Itsbat?’.

Akun Aflahal Mufadilah mengomentari, “Akhirnya, hanya tanya, kurang bijaksana apa pemerintah kita? Di tengah perbedaan yg melanda, sebab seglintir umat Islam memilih teguh berbeda, pemerintah jua masih menyeru semua bertenggang rasa.”

Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Andi Pangeran Hasanuddin meminta maaf atas komentarnya di Facebook. (Twitter)

Thomas menjawab komentar Aflahan: “Sdh tidak taat keputusan pemerintah, eh masih minta difasilitasi tempat shalat ied. Pemerintah pun memberikan fasilitas.”

Kemudian, Andi dengan nama akun AP Hasanuddin muncul dalam kolom komentar dengan menuliskan ancaman pembunuhan kepada warga Muhammadiyah.

Pernyataan Andi dan Thomas tersebut dalam perspektif relasi kuasa dan pengetahuan, menurut Fajar, juga dapat diartikan sebagai upaya membatasi bahkan mengebiri penggunaan metode hisab yang telah lama dilakukan Muhammadiyah, bahkan jauh sebelum Republik Indonesia berdiri.

“Pengetahuan yang tidak sesuai kuasa dianggap tidak normal dan mesti dihambat. Padahal, pemerintah saja memberi kebebasan,” ucap dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tersebut.

Minta Maaf

Andi telah meminta maaf. Dia mengaku pernyataan bernada ancaman tersebut muncul akibat emosi sesaat ketika melihat unggahan Thomas Djamaluddin diserang sejumlah pegiat Facebook.

“Saya meminta maaf sebesar-besarnya kepada pimpinan dan seluruh warga Muhammadiyah yang merasa tersinggung dengan komentar saya tersebut. Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan semacam ini lagi di waktu-waktu mendatang,” ucap Andi dalam pesan tertulisnya pada 23 April 2023.

Melalui akun Facebooknya, Thomas Djamaluddin juga meminta maaf. Menurutnya, tidak ada kebencian atau kedengkian terhadap Muhammadiyah sedikitpun dalam hatinya. Bagaimanapun, Muhammadiyah merupakan aset bangsa yang telah memberikan andil besar dalam sejarah perjuangan bangsa.

Yang diutarakannya hanyalah sikap kritis terhadap kriteria wujudul hilal yang dianggap Thomas sudah usang secara astronomi. Serta, sikap ego organisasi yang menghambat dialog menuju titik temu.

“Niat saya hanya mendorong perubahan untuk bersama-sama mewujudkan kesatuan umat secara nasional lebih dulu,” ucapnya pada 24 April lalu.

“Saya mengulang-ulang setiap ada perbedaan hari raya untuk mengingatkan bahwa perbedaan ini mestinya bisa diselesaikan, tidak dilestarikan. Sekali lagi saya mohon maaf dengan tulus kepada pimpinan dan warga Muhammadiyah atas ketidaknyamanan dan kesalahfahaman yang terjadi,” imbuhnya.

Butuh Etika dan Kedewasaan

Perkembangan dunia digital memang telah mengubah sistem pola pikir, cara berbicara, dan gaya bertindak manusia. Dewasa ini banyak orang bisa menggunakan alat komunikasi modern, tetapi tidak sanggup mengendalikan diri dalam menggunakannya.

Artinya, tak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, menyikapi perkembangan dunia digital, khususnya media sosial juga perlu kebijaksanaan dan etika.

Kebijaksanaan itu, menurut William Chang dalam buku “Etika & Etiket Komunikasi”, mencakup penggunaan sarana komunikasi yang seperlunya, tidak terbawa arus secara emosional, kritis menanggapi tawaran, dan mengambil jarak seperlunya.

Sebab, apapun yang dikomunikasikan lewat media sosial akan menjadi bahan konsumsi umum.

“Komunikasi di media sosial bukanlah komunikasi antarpribadi. Sekali unggah di media sosial kita tidak bisa menarik atau bahkan menghapus jejaknya. Maka penting untuk memilah dan memilih apa yang hendak diunggah. Poin pentingnya adalah literasi digital terutama bagi siapapun, termasuk pejabat,” Fajar menuturkan.

Akademisi dari Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Moeflich H. Hart menilai kasus Thomas Jamaluddin hanya persoalan cara berkomunikasi.

Komunikasi adalah media untuk menyampaikan ilmu agar bisa diterima dan bermafaat bagi orang lain. Komunikasi yang benar adalah ciri kematangan ilmu seseorang.

Banyak ilmu disampaikan dengan cara yang salah. Salah dalam berilmu menunjukkan kurang bacaan, salah dalam komunikasi menunjukkan kurang dewasa.

Ilmu yang benar bila disampaikan dengan komunikasi yang salah bisa jadi masalah. Ilmu yang salah tapi disampaikan dengan komunikasi yang benar, bisa tak jadi masalah.

“Dari kasus provokasi Thomas Jamaluddin sebagai profesor astronomi terkenal, kita mendapatkan ilmu tentang pentingnya kedewasaan berkomunikasi sebagai refleksi kematangan diri, bukan hanya sekadar ilmu,” ucap Moeflich dalam unggahannya di akun Facebooknya pada 26 April 2023. (*)

Sumber: VOI.id

 

Terkait: Muhammadiyah

TerkaitBerita

BPJS Kesehatan Buka Layanan Tatap Muka di Kantor Cabang Selama Libur Lebaran 2026

BPJS Kesehatan Buka Layanan Tatap Muka di Kantor Cabang Selama Libur Lebaran 2026

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
10 Maret 2026

...

Kesehatan Menurun, Try Sutrisno Tutup Usia

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
2 Maret 2026

...

Andi Mappakaya Resmi Pimpin APDESI Merah Putih Sulsel, Uhadi Tekankan Soliditas

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
17 Februari 2026

...

Satu Tahun Program Makan Bergizi Gratis: Antara Cita-cita Mulia dan “Bom Waktu” Penyakit

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
10 Januari 2026

...

BeritaTerkini

Sidrap Open Pickleball 2026 Digelar Mei, Bupati Ajak Atlet ke Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
28 Maret 2026

Momen PSBM 2026, Bupati Ungkap Rahasia Pertumbuhan Ekonomi Sidrap

Editor: Muhammad Tohir
27 Maret 2026

Wabup Sidrap dan Wabup Bone Ziarah Makam Raja Bone ke-10 di Tellu Limpoe

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

86 Peserta Bersaing Masuk Paskibraka Sidrap 2026

Editor: Muhammad Tohir
26 Maret 2026

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Disrupsi Generasi dalam Lembaga Kemahasiswaan: Membaca Ketegangan Gen Z dan Gen Alpha terhadap Warisan Organisasi Lama

Editor: Dian Muhtadiah Hamna
25 Maret 2026

Media Online Pijar News Telah Terverifikasi Administratif & Faktual Oleh Dewan Pers

  • Tentang Kami
  • Tim Redaksi
  • Kebijakan Privacy
  • Pedoman Pemberitaan
  • Saran & Kritik

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Pijar Channel
  • Internasional
  • Nasional
  • Sulselbar
  • Ajatappareng
  • Politik
  • Ekonomi
  • Hukum
  • Pendidikan
  • Lainnya
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Opini

© 2016 - 2026 Pijar News - Cerdas Mencerahkan