MAKASSAR, PIJARNEWS.COM — Anggota DPRD Sulsel, M Rajab melontarkan kritik keras mengenai rendahnya budaya literasi di Sulsel. Hal itu disampaikan Rajab pada Diskusi Kota Dunia Ramah Literasi, di Aula Bakti, Jl A Mappanyukki Makassar, Selasa 21/11.
Mengawali pandangannya, M. Rajab mengungkapkan buku dan ruang publik sebagai sarana literasi, menjadi suatu keniscayaan yang harus disediakan oleh pemerintah. Selain itu perlu ada program yang sistematis, agar masyarakat terdorong untuk mencintai literasi.Literasi harus menjadi gerakan kebudayaan.
“Mari kita tengok salah satu instrumen pembudaya literasi yang memiliki peran begitu penting yakni perpustakaan. Perpustakaan kita sangat minim peminat,” kata M Rajab.
Selain itu, Rajab juga menyoal ketersediaan buku. Jumlah toko buku dalam kota-kota di Sulsel terbilang masih sedikit. Masih didominasi oleh toko-toko besar yang membandrol harga tinggi.
Penjaja buku indie pun jarang, yang tersedia hanya buku-buku populer. Hal ini tentunya disebabkan oleh pasar. Bahkan, sangat sulit menjumpai tempat penjualan buku-buku bekas yang edisinya sudah lampau. Padahal tempat-tempat semacam ini sangat berguna bagi kelangsungan budaya literasi kita di Sulsel
Kilasan-kilasan tersebut pun membuat M Rajab menyimpulkan bahwa wajah literasi di Sulsel masih buruk. Meski demikian, rupa yang buruk itu janganlah membelah cermin. Dirinya juga berjanjui mendorong perda serta anggaran yang berkaitan dengan literasi.
“Mari kita ‘polesi’ bersama-sama, guna menjembatani kesenjangan-kesenjangan literasi yang ada,” harap mantan Ketum HMI Cabang Palopo itu. (adv/ris)