JEPANG, PIJARNEWS.COM— Gema takbir Idul Fitri juga berkumandang di Negeri Sakura. Di tengah suasana yang jauh dari kampung halaman, umat Muslim yang juga perantau di Jepang tetap merayakan hari kemenangan dengan penuh khidmat, meski dalam keterbatasan dan perbedaan.
Seperti di Indonesia, 1 Syawal di Jepang juga tidak seragam. Perbedaan penetapan hari raya terjadi di kalangan komunitas Muslim, termasuk perantau asal Indonesia.
“Kami lebaran Sabtu, 21 Maret 2026. Tapi ada juga yang sudah lebih dulu merayakan pada Jumat lalu,” ujar Bardi Arifin, perantau asal Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Ahad (22/03/2025).
Bardi menjelaskan, di Jepang tidak ada penetapan resmi dari pemerintah terkait Idul Fitri seperti di Indonesia. Karena itu, komunitas Muslim biasanya mengikuti keputusan masjid setempat atau rujukan dari negara lain.
“Kadang memang ada perbedaan, tetapi sejauh ini tetap saling menghargai,” katanya
Bardi, pemuda asal Desa Mario, Kecamatan Kulo, Sidrap, kini bekerja di Jepang pada sektor peternakan wagyu. Di tengah kesibukannya sebagai pekerja migran, ia tetap aktif dalam kegiatan keagamaan bersama komunitas Muslim setempat.
Pada Idul Fitri tahun ini, Bardi mendapat amanah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, menjadi imam sekaligus khatib salat Idul Fitri di Masjid Indonesia Ueda, Jepang, yang dilaksanakan pada Sabtu (21/3/2026).
“Ini amanah besar bagi saya, apalagi dilaksanakan di negeri perantauan,” katanya.
Salat Id tersebut diikuti jamaah dari berbagai negara, seperti Jepang, Pakistan, dan sejumlah negara Asia Timur lainnya. Dalam suasana kebersamaan lintas bangsa itu, pelaksanaan ibadah berlangsung lancar dan penuh kekhusyukan.
Bagi Bardi, pengalaman ini menghadirkan beragam rasa—gugup, haru, sekaligus syukur. Terlebih, momen Idul Fitri biasanya identik dengan kebersamaan keluarga di kampung halaman.
“Idul Fitri di Jepang terasa berbeda, tetapi justru di situ terasa makna perjuangan dan kebersamaan,” ungkapnya.
Ia mengaku, momen tersebut membuatnya teringat orang tua, keluarga, dan suasana Lebaran di kampung. Namun, di sisi lain, ia juga merasa bangga dapat mengemban kepercayaan sebagai imam dan khatib di negeri orang.
“Bagi saya, ini bukan hanya tentang menjadi imam dan khatib, tapi juga tentang menjaga kepercayaan dan membawa nama baik kampung halaman,” tambahnya.
Di tengah kehidupan sebagai perantau, Bardi menegaskan pentingnya menjaga nilai-nilai keimanan. Menurutnya, merantau bukan hanya soal mencari nafkah, tetapi juga tentang mempertahankan jati diri sebagai seorang Muslim.
“Jauh dari kampung halaman jangan sampai membuat kita jauh dari Allah,” pesannya.
Ia juga mengingatkan para perantau Muslim untuk terus menjaga akhlak dan menjadi representasi Islam yang baik di manapun berada.
Kisah Bardi menjadi potret kecil dari semangat anak muda Indonesia di luar negeri—bahwa di tengah keterbatasan dan jarak, mereka tetap mampu membawa nilai, kepercayaan, dan nama baik daerahnya ke panggung dunia.















